
KOTA BANGUN.NIAGA.ASIA – Padatnya lalu lintas ponton batu bara di Sungai Mahakam kembali menjadi sorotan setelah seekor Pesut Mahakam jantan bernama ‘Lion’ ditemukan mati di perairan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).
Balai Pengelolaan (BP) Kelautan Pontianak menyebut kawasan tempat ditemukannya pesut tersebut memang merupakan jalur sibuk aktivitas angkutan batu bara yang dinilai berpotensi mengganggu habitat mamalia air langka itu.
Kepala BP Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie mengatakan bahwa lokasi penemuan Lion berada tidak jauh dari jalur keluar masuk ponton batu bara dari anak Sungai Belayan menuju Sungai Mahakam.
“Kalau aktivitas di daerah ditemukan itu memang padat lalu lintas kapal. Karena memang di daerah ditemukannya Lion itu ada anak Sungai Belayan yang biasanya dilewati ponton-ponton batu bara untuk membawa hasil tambang ke sungai besar,” ujar Syarif saat dikonfirmasi Niaga.Asia, Kamis sore (7/5/2026).
baca juga:
Pesut Mahakam Tua Bernama Lion Mati Mengapung, Kondisi Giginya Sudah Terkikis!
Menurutnya, aktivitas ponton di kawasan ini berlangsung cukup intens hampir setiap hari. Bahkan, tidak sedikit ponton yang parkir di pinggiran Sungai Mahakam dekat habitat pesut.
“Memang sekitar 200 meter, 300 meter hingga 500 meter dari lokasi Lion ditemukan itu kita lihat padat keluar masuk ponton batu bara. Di sekitar lokasi juga ada ponton-ponton yang parkir di pinggiran Sungai Mahakam,” jelasnya.
Kepadatan lalu lintas ponton secara tidak langsung memberi tekanan terhadap habitat alami Pesut Mahakam yang selama ini hidup di kawasan konservasi perairan Mahakam.
Kendati demikian, ia mengatakan bahwa pemerintah bersama berbagai pihak saat ini terus mendorong koordinasi lintas instansi agar aktivitas transportasi sungai dapat lebih teratur dan tidak memperparah gangguan terhadap habitat pesut.
“Memang secara tidak langsung mengganggu habitat pesut Mahakam. Karena itu perlu adanya koordinasi antarinstansi agar lalu lintas ponton batu bara ini bisa lebih terkoordinir dan tidak terlalu padat,” terangnya.
Selain aktivitas transportasi sungai, praktik illegal fishing juga disebut masih menjadi ancaman bagi kelestarian Pesut Mahakam. Syarif mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan menggunakan setrum maupun racun karena hal itu dapat membahayakan ekosistem sungai.
“Kita harus sama-sama menjaga Sungai Mahakam dengan tidak melakukan illegal fishing seperti strum, racun, dan kegiatan lain yang mengganggu pesut Mahakam,” tegasnya.
*Populasi Pesut Mahakam Tinggal 65 Ekor*
Kematian Lion menambah kekhawatiran terhadap keberlangsungan populasi Pesut Mahakam di Sungai Mahakam. Berdasarkan data dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI), populasi pesut pada awal 2026 tercatat sebanyak 66 ekor.
Namun setelah kematian Lion, jumlah tersebut kini tersisa 65 ekor.
“Berdasarkan data dari YK RASI di awal 2026 populasinya 66 ekor. Setelah adanya Lion yang mati ini menjadi 65 ekor,” bebernya.
Lion sendiri diketahui merupakan pesut jantan yang diperkirakan berusia sekitar 30 tahun dan telah teridentifikasi sejak tahun 1999.
Saat proses nekropsi, tim juga menemukan adanya gumpalan jaring di dalam lambung Lion bersama sisa makanan berupa ikan. Bahkan, terdapat lebam di bagian lehernya. Meski demikian, penyebab pasti kematian pesut tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Di dalam lambungnya ditemukan gumpalan jaring bersama sisa-sisa ikan. Tapi kami juga belum bisa memastikan apakah itu penyebab kematiannya karena masih menunggu hasil laboratorium. Begitu juga dengan lebam di leher, kita belum bisa memastikan apakah lebam itu saat kita mengevakuasi membawa dia ke darat, ataukah sebelum atau sesudah dia mati,” katanya.
Diketahui, habitat utama Pesut Mahakam saat ini berada di empat kecamatan di Kukar, yakni Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, dan Muara Kaman.
Keempat wilayah tersebut ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan Mahakam berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan Nomor 49 Tahun 2022.
“Empat kecamatan itu menjadi perhatian karena memang di sanalah pesut Mahakam paling sering ditemukan,” tuturnya.
Untuk menjaga habitat pesut, BP Kelautan Pontianak bersama YK RASI rutin melakukan edukasi masyarakat, survei populasi, hingga pemeriksaan kualitas air secara berkala.
“Kami rutin melakukan survei dan pengecekan kualitas air untuk memastikan habitat pesut Mahakam tetap terjaga dan tidak tercemar,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Lingkungan HidupPesut Mahakam