
SEOUL.NIAGA.ASIA — Infeksi virus corona baru di Korea Selatan dilaporkan melebihi 7.000 kasus dalam tiga hari berturut-turut hingga Jumat (10/12). Kondisi itu memuat rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan.
Kelompok pengkritik di negara itu menilai tingginya angka kasus harian lantaran pemerintah terlalu cepat berpuas diri dengan menurunkan pembatasan jarak sosial sejak awal November 2021 lalu. Meski tujuan pemerintah, pelongggaran itu sebagai langkah awal menuju pemulihan ekonomi.
Bahkan ketika kasus mulai melonjak dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat awalnya ragu untuk kembali memperketat jarak sosial, dengan alasan kelelahan dan frustrasi publik akibat pembatasan yang berdampak terhadap mata pencaharian mereka.
Saat ini penerapan pembatasan dinilai penting dengan alasan infeksi varian delta ditengarai mengurangi efektivitas vaksin. Selain itu kebanyakan orang usia 60 tahun atau lebih masih menunggu suntikan dosis booster mereka. Disusul temuan baru varian omicron.
Perdana Menteri Kim Boo-kyum mengatakan Korea Selatan bisa mengambil keputusan mendesak dan luar biasa jika gagal memperlambat penularan virus.
Pejabat mengeluarkan perintah administratif yang mengharuskan rumah sakit di seluruh negeri untuk menambah 2.000 lebih banyak tempat tidur, yang digabungkan untuk perawatan COVID-19.
Peningkatan kapasitas akan digunakan untuk meringankan beban rumah sakit di Seoul, dan wilayah metropolitan terdekat, di mana sekitar 90% unit perawatan intensif kini telah terisi pasien.
Para pejabat mengatakan lebih dari 1.200 pasien Corona di wilayah ibu kota Seoul, yang membutuhkan rawat inap, terpaksa menunggu di rumah pada Jumat pagi karena rumah sakit kekurangan tempat tidur.
Para pejabat telah mengubah kebijakan respons medis mereka sehingga sebagian besar kasus ringan dapat dirawat di rumah. Sehingga ada sekitar 20.500 orang kini menjalani perawatan di rumah. Bagi kalangan medis kebijakan itu membahayakan nyawa penderita.
Kim mengatakan pemerintah juga akan mempercepat pemberian suntikan vaksin dengan memperpendek interval antara suntikan vaksin kedua dan ketiga dari empat atau lima bulan saat ini, menjadi hanya tiga bulan mulai pekan depan.
“Jika menjadi jelas bahwa kami tidak berhasil membalikkan situasi krisis ini dalam beberapa hari ke depan, pemerintah tidak akan punya pilihan lain selain menggunakan langkah-langkah yang luar biasa, termasuk (pembatasan) jarak sosial yang kuat,” kata Kim, dikutip Niaga Asia dari laman Associated Press, Sabtu (11/12).
Korea Selatan melaporkan rata-rata harian lebih dari 5.800 infeksi. Di mana ada lebih dari 41.000 kasus dalam tujuh hari terakhir saja, mendorong total angka kasus nasional menjadi 503.000. Jumlah kematian negara itu mencapai 4.130 setelah 53 pasien Corona meninggal dalam 24 jam terakhir.
Dengan mengizinkan pertemuan sosial yang lebih besar, jam makan dalam ruangan yang lebih lama di restoran, dan membuka kembali sekolah sepenuhnya pada bulan November, para pejabat memperkirakan bahwa tingkat vaksinasi yang meningkat di negara itu akan membantu menekan rawat inap dan kematian.
Namun kondisi sekarang adalah sebaliknya. Kasus serius dan kematian telah melonjak di antara orang-orang berusia 60 tahun atau lebih, termasuk mereka yang kekebalannya berkurang setelah disuntuk dosis lengkap pada awal peluncuran vaksin di bulan Februari 2021.
Saat ini sekitar 41,5 juta orang, atau 81% dari populasi lebih dari 51 juta, telah divaksinasi lengkap. Kendati demikian hanya 10% yang menerima suntikan booster.
Aturan baru yang diberlakukan minggu ini, adalah melarang pertemuan tujuh orang atau lebih di wilayah ibu kota Seoul, dan mengharuskan orang dewasa untuk memverifikasi status vaksinasi mereka di restoran dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya.
Tetapi Kim mengatakan langkah-langkah seperti itu belum menunjukkan efek dalam memperlambat transmisi atau penularan antarorang.
Sementara Wakil Menteri Kesehatan Lee Ki-il mengatakan, para pejabat selanjutnya dapat mengurangi batas pertemuan sosial dan mengembalikan pembatasan jam kerja di restoran dan bar yang dicabut pada November laku, apabila keadaan memburuk pekan depan.
“Kami akan mencoba yang terbaik untuk menghindari lockdown,” kata Lee.
Beberapa ahli telah menyerukan langkah-langkah yang lebih kuat, seperti memaksa pengusaha untuk menerapkan pola bekerja jarak jauh dan meningkatkan pengeluaran anggaran pemerintah untuk membantu pemilik usaha kecil di industri jasa terdampak akibat pandemi, untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan jarak sosial.
Korea Selatan juga telah memperketat perbatasannya untuk menangkis sebaran varian omicron baru sejak mengidentifikasi kasus pertamanya pekan lalu yang terkait dengan kedatangan dari Nigeria.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Korea Disease Control and Prevention Agency/KDCA) mengatakan, petugas kesehatan telah mengkonfirmasi tiga infeksi omicron lagi pada hari Jumat, sehingga jumlahnya menjadi 63 kasus.
Para ilmuwan mengatakan sejauh ini belum diketahui jelas apakah omicron lebih menular atau berbahaya daripada jenis virus sebelumnya.
Sumber : Associated Press | Editor : Saud Rosadi
Tag: Covid-19Internasional