ipa
IPA Bendang I

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kantor Akuntan Publik (KAP) Abdul Hamid dan Khairunnas dari Balikpapan mulai menghitung bagi hasil air bersih yang diproduksi dari IPA (Instalasi Pengolahan Air) Bendang I kerja sama Pemerintah Kota Samarinda dengan PT Watts sejak tahun 2004.

KAP Abdul Hamid dan Khairunnas ditunjuk berdasarkan kesepakatan keduabelah pihak, dalam hal ini Pemkot Samarinda dan PT Watts, pertengahan Januari lalu. Jangka waktu akuntan mengaudit selama 90 hari. Hasil audit akan terlihat nanti sekitar bulan April 2018.

Hal itu diungkapkan Achmad Yani dari Satuan Pengawas Internal (SPI) dan H Nurdin, Staf ahli Direksi PDAM Tirta Mahakam Samarinda menjawab Niaga.asia, Senin (12/02). “Auditor sudah mulai bekerja. Semua dokumen sudah kita siapkan, mulai dari dokumen IPA mulai memproduksi air sampai tahun 2017. Kalau volume air yang diproduksi tak ada masalah karena ada di meteran,” kata Yani.

Menurutnya, ada dua hal pokok yang akan diaudit. Pertama; biaya operasional pengoperasian IPA yang sejak tahun 2004 hingga 2017, dimana menggunakan uang dari PDAM Tirta Kencana Samarinda.

Biaya operasi meliputi seluruh pengeluaran untuk mengoperasikan IPA, ya termasuk pemeliharaan dan perawatan. Kedua; menyesuaikan harga air yang diproduksi dengan harga yang berlaku pada tahun tersebut. Menghitungnya tidak rumit, karena sejak tahun 2004 hingga tahun 2017, harga air hanya berubah sekitar 4 kali. “Kita optimis dalm 90 hari, audit sudah selesai,” ujar Yani lagi.

Setelah angka-angka total harga air selama 14 tahun didapat, maka dipotong dengan biaya produksi yang selama ini ditanggung PDAM, kemudian nilai bersih atau keuntungan dari pengoperasian IPA dengan kapasitas produksi 400 lt/detik dibagi berdasarkan persentase modal keduabelah pihak di IPA Bendang I tersebut. “Komposisi investasi di IPA Bendang I itu, Pemkot Samarinda 53,13% dan PT Watts 46,87%,” kata Nurdin. “Untuk nilai rupiahnya berapa yang harus dibayarkan ke PT Watts tidak bisa saya memberikan gambaran, biarlah akuntan menghitung,”  sambung Nurdin.

Sesuai perjanjian kerja sama antara Pemkot Samarinda dengan PT Watts, Imtak dan IPA Bendang I, serta alat peralatan lainnya bersifat BOT (Build Operation Transfer) dengan jangka waktu hingga tahun 2022. Pada tahun 2022 nanti semua instalasi di IPA Bendang I menjadi milik Pemkot Samarinda.

Kerja sama antara Pemkot Samarinda-PT Watts tidak sepenuhnya mulus, tapi tidak sampai menganggu ke produksi air. Kedua belah pihak sempat saling gugat ke pengadilan setelah BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) menilai kerja sama keduanya merugikan Pemkot Samarinda. BPK merekomendasikan dilakukan audit menyeluruh. Setelah diadit BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembagunan) Perwakilan Kaltim tahun 2016 ditemukan hitungan, investasi Pemkot Samarinda lebih besar dibandingkan investasi PT Watts di IPA Bendang I tersebut. Atas hasil audit BPKP itu  PT Watts dapat menerima dan setuju.

Tidak Tertarik IPA Bendang II

Tentang joint operasi IPA Bendang II yang dibangun PT Davindo Mandiri Jaya, Nurdin mengaku PDAM tidak tertarik mengoperasikan sebab, secara teknis konstruksinya masih jauh dari selesai, karena yang baru dibangun konstruksi IPA-nya, sedangkan imtek-nya belum ada.

Saat konstruksi IPA dibangun, Davindo membangun sendiri tanpa melibatkan tenaga ahli dari PDAM, sehingga tidak diketahui persis apakah spec IPA yang dibangun sesuai standar PDAM. “Kita tidak tertarik untuk mengoperasikannya,” ujar Nurdin.

Untuk menuju tahapan berproduksi, IPA Bendang II itu masih memerlukan investasi dalam jumlah cukup besar karena kapasitas produksinya didesain untuk 400 liter/detik. “Masih memerlukan investasi dalam jumlah cukup besar,” katanya. (001)

Berita Terkait