
SEBATIK.NIAGA.ASIA – Anggota DPRD Nunukan, Kalimantan Utara, Andre Pratama, meminta pengelola tempat wisata di Pulau Sebatik untuk menjaga kebersihan, terutama untuk rekreasi pantai yang selama ini banyak dikunjungi masyarakat.
“Selamat Idulfitri 1447 Hijriyah, selamat menikmati liburan bersama keluarga. Bagi yang melaksanakan liburan di tempat wisata tolong memperhatikan kebersihan lingkungan,” kata Andre kepada niaga.asia, Senin 23 Maret 2026.
Salah satu tempat wisata biasanya ramai dikunjungi saat liburan adalah Pantai Batu Lamampu, pantai dengan berbagai cerita legenda mitos Batu Keramat Besar itu berada di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik Barat.
Namun keberadaan pantai yang seharusnya memberikan rasa nyaman dan tenang untuk berlibur, malah mendapat sorotan negtif dari masyarakat lantaran tumpukan sampah berserakan di sepanjang bibir pantai.
“Kondisi pantai cukup memprihatinkan, banyak sampah-sampah berserakan. Hal ini tentunya meninggalkan kesan kurang baik untuk pengunjung,” ujarnya.
Untuk itu, Andre meminta para pengunjung sebisa mungkin memperhatikan sampah-sampah sisa makanan dan minuman, begitu pula kepada pengelola tempat wisata agar menjaga dan menyiapkan tempat-tempat pembuangan sampah.
Selain menyiapkan tempat sampah, pengelola wisata harusnya memasang papan himbauan bagi pengunjung untuk menjaga kebersihan, keamanan, kenyamanan dan memelihara tempat-tempat yang dipandang memiliki nilai historis di sepanjang pantai.
“Pantai Batu Lamampu adalah milik kita semua, dan tentunya kita harus menjaganya agar pengunjung bisa menikmati keindahan wisata dengan nyaman dan aman,” terang Andre.
Dijelaskan, kendaraan sampah pemerintah daerah tidak mungkin masuk ke areal pantai karena berpotensi amblas. Untuk itulah, pemerintah meminta pengelela wisata, dengan menyiapkan bak-bak sampah di depan jalan masuk pantai.
“Siapkan bak-bak sampah di tepi jalan, nanti kendaraan sampah mengambil di sana. Menjaga kebersihan butuh kerjasama semua pihak,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik Barat, Faisal, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan para pengunjung di Pantai Batu Lamampu, yang mengeluhkan banyaknya sampai di sepanjang pantai.
“Saya dapat video rekaman kondisi pantai saat liburan Idulfitri, mohon maaf pengelolaan pantai belum maksimal dalam menjaga kebesihan,” katanya.
Pantai Batu Lamampu merupakan milik pribadi masyarakat yang sejak tahun 2020 pengelolaannya dikerjaamakan dengan pemerintah desa. Hanya saja, pemerintah desa belum bisa sepenuhnya mengelola tempat wisata itu.
Terobosan pemerintah desa melahirkan Peraturan Desa (Perdes) tentang retribusi wisata tahun 2025 masih perlu disesuaikan dengan Peraturan Daerah (Perda), terutama untuk kewajiban penerapan tiket masuk tempat wisata.
“Perdes-nya sudah ada, tapi kami perlu konsultasi lagi ke bagian hukum pemerintah daerah, karena persoalan ini menyangkut pungutan biaya yang harus jelas,” jelas Faisal.
Dengan belum diberlakukannya Perdes retribusi, para pengunjung pantai masuk bebas tanpa dikenakan biaya, terkecuali bagi pengunjung yang menempati bangunan gazebo disiapkan oleh pemilik lahan.
Pengelolaan kebersihan Pantai Batu Lamampu Sebatik selama ini hanya mengandalkan kegiatan sosial bersih-bersih pantai, yang dilaksanakan pemerintah desa bekerja sama dengan TNI, Polri dan masyarakat setempat. Pembersihan pantai terakhir kali dilaksanakan sebelum Ramadan 2026. Sampah-sampah yang berserakan di sepanjang pantai itu didominasi residu dari botol-botol bekas pelampung rumput laut.
“Sampah di pantai itu kebanyakan dari sampah yang hanyut terbawa air. Ketika air pasang, sampahnya kembali hanyut dan saat air surut, sampah tertinggal di pantai,” jelas Faisal.
Faisal berjanji dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan pemilik lahan dan TNI/Polri dan instansi lainnya guna melaksanakan pembersihan pantai, terutama bagian yang sering dikunjungi masyarakat.
“Agak susah merawat pantai batu lamampu, sampah di sana kebanyakan sampah hanyut yang ketika hari ini dibersihkan, minggu depan kembali menumpuk di bibir pantai,” demikian Faisal.
Penulis: Budi Anshori | Editor: Saud Rosadi
