danrem
Danrem 091/ASN, Brigjen TNI, Irham Waroihan menyerahkan piagam penghargaan kepada 9 prajurit Satgas Pamtas dari Batalyon 612/Manuntung yang berhasil memeriksa patok batas negara Indonesia dengan Malaysia di wilayah blank spot di Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Perwira Topografi Satgas Pamtas berasal dari Direktorat Topografi Angkatan Darat. Direktorat Topografi  dibentuk 26 April 1946 dan menjadi  salah satu kecabangan atau corps di tubuh Angkatan Darat. Topografi selama ini lebih dikenal sebagai institusi yang membuat peta.

Tidak aneh memang karena masyarakat awam mungkin lebih mengenal nama Jantop (Jawatan Topografi) dengan produk peta-petanya daripada istilah yang benar digunakan saat ini yakni Dittopad (Direktorat Topografi Angkatan Darat).

Topografi Angkatan Darat memiliki tugas yang menitikberatkan pada kegiatan penyediaan informasi geografi, contohnya seperti peta Topografi, dalam rangka mendukung tugas-tugas Angkatan Darat, baik itu operasi militer untuk perang (OMP) maupun operasi militer selain perang (OMSP).

Sejalan dengan perkembangan teknologi survei dan pemetaan yang berkembang dengan pesat  serta kebutuhan satuan-satuan di TNI/TNI AD akan produk Topografi saat ini dan ke depan yang tidak lagi hanya berbentuk peta Topografi standar, tetapi sudah mengarah kepada kegiatan analisa medan yang memerlukan data dan proses yang cukup kompleks, maka jelas terlihat kalau tantangan tugas ke depan tadi tidaklah ringan.

Tugas pokok perwira topografi  menyelenggarakan penyediaan dan penyajian informasi geografi/medan wilayah dalam bentuk pembaharuan (revisi) peta topografi, data dan analisa medan, serta pembuatan produk topografi lainnya dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI-AD.

Berkaitan dengan tugas pengamanan wilayah perbatasan antar negara, perwira topografi melaksanakan survey serta demarkasi batas wilayah negara, produk akhirnya meliputi peta tematik , gazetter wilayah, model medan dan mozaik foto udara untuk mendukung kebutuhan TNI-AD. Perwira topografi bertanggung jawab dalam pelaksanaan inventarisasi tugu batas negara dan tugu trianggulasi serta pemeliharaannya.

ari
Kapten (Ctp) Ari Wahana

Kapten (Ctp) Ari Wahana yang berdinas di Batalyon 621/Manuntung saat menjalankan tugas di Satgas Pamtas Republik Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, bersama rekan-rekannya sebanyak sembilan orang mendapat pujian dari Danrem 091/ASN, Brigjen TNI, Irham Waroihan atas keberhasilannya memeriksa (patroli) patok batas negara hingga ke wilayah blank spot area (area yang tak bisa terhubung dengan peralatan telekomunikasi) di Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, berbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Danrem selain memberikan pujian, juga hadiah kepada Ari dan kawan-kawan di Nunukan, bahkan berjanji akan melaporkan keberhasilan Ari ke Mabes TNI-AD agar mendapatkan perhatian lebih dari apa yang sudah diberikannya. “Hadiah lainnya tunggu dari atasan di Jakarta (Mabes TNI-AD),” kata Brigjen Irham.

Dari pos di Lumbis, Ari berjalan kaki selama 31 hari menjangkau jarak lebih dari 100 kilometer bersama Danpos (Komanda Pos)  Lumbis SSK IV,  Lettu (Inf) Untung Hermanto dan 7 prajurit lainnya  menelusuri patok C 002 hingga C 481. Bahkan saat mau balik ke Pos Lumbis, Ari dan kawan-kawan sempat 5 hari tak bisa dikontak petugas di Pos Nunukan, sehingga membuat Komandan Satgas Pamtas sekaligus Danyon 612/Manuntung, Lektol (Inf) Rio Neswan, cemas dan menyiapkan tim pendukung menjemput Ari, dan kawan-kawan.

Dibalik keberhasilan itu, Ari berkenan membagi cerita pendek selama 1 bulan merintangi hutan belantara dengan segala tantangan baik nyata maupun alam gaib. Hal paling berkesan adalah, saat semua prajurit mengalami keracunan dan kelaparan. “Logistik menipis, saya dan prajurit makan jamur hutan, nah tidak lama sesudahnya, kami semua keracunan ,muntah-muntah, rasanya mau mati” kata Ari sambil tertawa dengan watawan Niaga.asia, Budi Anshori.

Menurutnya, sebelum berangkat ke area blank spot area, tim sudah dibekali  logistik hampir 100 kilogram  dan itu sudah diperhitungkan cukup untuk 30 hari. “Entah pengaruh apa, semua prajurit makannya melebihi dari yang wajar sehari-hari, bahkan sambil berjalan tetap makan, akhirnya logistik habis lebih cepat,” ungkapnya.

Keadaan dengan kondisi logistik menipis itu, lanjut Ari sudah dialami pada hari ke 15 perjalanan dan  melaporkan ke Komandan Satgas Pamtas Letkol Rio Neswan. Untuk menghemat logistik, lanjut Ari, sepanjang perjalanan selama 4 hari hanya makan bubur dan sesekali mencari binatang buruan di hutan sambil menunggu datangnya tambahan logistik.

Menurut Ari, problem juga bertambah ketika helikopter yang membawa logistik salah menjatuhkan logistik. Logistik jatuh 2,5 kilometer dari keberadaan tim patroli, dan lokasinya juga di bawah tebing dalam wilayan negara Malaysia. “Saya dan anggota sudah tebang pohon pakai parang buat lapangan heliped, eh ternyata jatuhnya logistik malah ke Malaysia,” ucapnya.

Menghadapi kenyataan demikian, dimana harus masuk wilayah negara Malaysia, apabila tertangkap urusan menjadi panjang, Ari mengaku memompa semangat anggotanya, lewat kalimat saktinya; “Apapun yang terjadi, kita harus mendapatkan logistik.”.

“Saya bilang mau tidak mau harus kita ambil, soal tertangkap urusan belakang, di otak saya mati kelaparan atau tertangkap jadi tawanan,” tuturnya. Dengan menggunakan stategi perang, Ari  menyelinap ke lokasi logistik yang berada dalam wilayah Malaysia. “Bergerak dan bergantian saling melindungi, sampai kami mendapatkan semua logistik yang diantar,” ungkapnya.

Setelah sampai dan mendapatkan logistik yang dikirim, lanjut Ari, anggota tim saking gembiranya bekerja cepat mengumpulkan semua logistik, sebagaian makanan yang pecah-pecah tetap dikumpul dan tiap prajurit harus memikul sekitar 30 kilogram logistik menaiki bukul kembali ke Indonesia. “Saya perintahkan semua logistik dikumpul, lalu bilang anggota biar pecah penuh tanah tetap saya ambil, ini makanan kita komandan,” senyumnya.

Disergap cuaca dingin

                Ari juga menceritakan, memasuki hari ke-16, tim disergap cuaca dingin baik siang maupun malam. Siang hari suhu 15 derajat  dan hampir tiap hari matahari hanya terlihat 45 menit, selebihnya tertutup kabut tebal dan telepon satelit tidak berfungsi, komunikasi loss kontak karena semua kawasan tertutup.

Suskes prajurit Batalyon 621/Manuntung menyesaikan tugas patroli  hingga ke kawasan blank spot area merupakan prestasi luar biasa sebab, itu baru terjadi dalam 41 tahun. Sejak patok di wilayah blank spot dipasang, Ari dan kawan-kawan menjadi orang pertama memeriksanya.

Ia yakin prajutit Satgas Pamtas yang akan datang  pasti bisa juga sampai ke wilayah yang patok di wilayah blank spot. “Kekuatan semangat prajurit rata-rata sama, tinggal bagaimana mengatur perjalanan dan bergaul dengan alam,” ujar Ari. “Pesan saya kepada satgas berikutnya, utamakan keselamatan prajuit, jangan lupa berdoa kepada tuhan. Bergaullah dengan alam dan ingat pahami semua sifat anggota,” tuturnya.@

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *