Asisten I Sekda Kukar: Petasan Sudah Dilarang karena Menganggu Ketertiban Umum

Tangkapan layar video memperlihatkan sekelompok remaja saling melempar petasan di kawasan Simpang Enam, Muara Badak, menjelang waktu sahur. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

MUARA.BADAK.NIAGA.ASIA – Suasana jelang sahur di kawasan Simpang Enam, Kecamatan Muara Badak, mendadak riuh. Bukan karena lantunan azan atau aktivitas warga setempat yang menyiapkan santap sahur, melainkan dentuman petasan saling berbalas di antara sekelompok anak-anak.

Aksi tersebut terekam jelas dalam video yang beredar luas di media sosial Instagram @harianmuarabadak.id. Dalam rekaman itu, terlihat dua kelompok anak berdiri berhadap-hadapan di depan sebuah minimarket. Mereka menyalakan petasan kembang api dan melemparkannya ke arah kelompok lainnya, layaknya simulasi perang-perangan.

Peristiwa yang disebut-sebut terjadi di Simpang Enam itu memicu kekhawatiran warga sekitar. Selain membahayakan para pelaku yang sebagian besar masih di bawah umur, aksi tersebut juga dinilai berisiko bagi pengguna jalan yang melintas di kawasan ini, terlebih dilakukan menjelang waktu subuh saat aktivitas sahur masih berlangsung.

Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Akhmad Taufik Hidayat, menegaskan bahwa penggunaan petasan yang mengganggu ketertiban sudah dilarang.

“Tidak boleh menggunakan mercon atau petasan yang sifatnya mengganggu, karena sesuai dengan surat edaran kepolisian,” ujarnya menjawab pertanyaan Niaga.Asia, Senin (23/2/2026).

Asisten I Sekretariat Daerah Kukar Akhmad Taufik Hidayat. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Ia memastikan, Pemerintah Kabupaten Kukar telah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian. Bahkan, sebelum memasuki bulan puasa, surat edaran Bupati Kukar terkait larangan penggunaan petasan berlebihan dan balapan liar telah disebarkan ke masyarakat.

“Sudah melalui surat edaran bupati, bahkan sebelum bulan puasa sudah kita sebarkan itu. Termasuk balapan liar dilarang, itu tidak boleh,” jelasnya.

Muara Badak rawan kebakaran dan ledakan

Sorotan juga datang dari Ketua Komisi I DPRD Kukar, Agustinus. Ia mengingatkan bahwa Muara Badak merupakan wilayah industri gas alam yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran dan dan ledakan.

“Muara Badak kan daerah gas alam, sangat rawan, apalagi sampai perang-perangan itu. Ya makanya jangan sampai terulang lagi lah. Harus ada bimbingan dari tokoh masyarakat dan para orang tua agar peristiwa ini bisa dihindari,” paparnya.

Ketua Komisi I DPRD Kukar, Agustinus. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Sementara itu, Kasi Humas Polres Bontang, AKP Dani Purwanto, membenarkan peristiwa ini terjadi menjelang sahur hingga subuh. Berdasarkan informasi yang diterima petugas, para pelaku merupakan remaja usia SD hingga SMP.

“Saat kami menerima informasi dan bergerak ke TKP, mereka sudah bubar. Kurang lebih sekitar 10 anak,” terangnya.

Ia menegaskan patroli dan langkah preventif akan ditingkatkan selama Ramadan.

“Kami imbau kepada orang tua agar lebih mengawasi anak-anaknya, khususnya pada malam hingga menjelang sahur. Jangan sampai kegiatan yang membahayakan seperti ini terulang,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, Polsek Muara Badak menggelar patroli gabungan pada Senin (23/2/2026) pukul 05.30 WITA. Personel Pos Simpang Enam bersama FKPM Desa Badak Baru menyisir sejumlah titik, mulai dari Taman Simpang Enam, Tugu Piala Desa Badak Baru hingga Taman Simpang Sidodadi.

Personel Polsek Muara Badak bersama FKPM Desa Badak Baru menggelar patroli gabungan dalam rangka mencegah perang petasan di kawasan Simpang Enam jelang subuh, Senin (23/2/2026). (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Patroli ini turut melibatkan Kepala Dusun sekaligus Ketua FKPM Sudarko, Ketua RT Desa Badak Baru, Bhabinkamtibmas Brigpol Hardiansyah, serta Brigpol Agus Subagiyo.

Mereka kata Kapolsek Muara Badak, Iptu Danang, melakukan pemantauan untuk mengantisipasi balapan liar maupun penggunaan petasan yang berpotensi mengganggu ketertiban dan kekhusyukan ibadah Ramadan.

Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan rasa aman bagi masyarakat yang menjalankan sahur maupun aktivitas pagi hari. Menurutnya, keamanan selama Ramadan bukan hanya tanggung jawab kepolisian, tetapi juga hasil kerja sama dengan warga.

“Melalui patroli bersama ini, kami ingin memperkuat sinergi dan kepedulian warga terhadap lingkungan. Dengan kebersamaan, potensi gangguan kamtibmas bisa dicegah sejak dini sehingga suasana Ramadan tetap aman dan kondusif,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: