ba
Banjir genangi RSUD AW Sjahranie Samarinda. (Foto:Kompas TV)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Polder di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Kaltim, Abdul Wahab Sjahranie mendesak direvitalisasi untuk menghentikan ruang-ruang pelayanan dimasuki air (kebanjiran) saat musim hujan datang dengan curah tinggi.

“Kita punya polder dibelakang, tapi polder penampung air agar tak melimpas ke ruang-ruang pelayanan saat hujan lebat sudah puluhan tahun tak dirawat secara rutin, sehingga tidak berfungsi lagi sekarang,” kata Direktur RSUD AW Sjahranie, dr. Rachim Dinata, Sp.B menjawab Niaga.Asia, Senin (11/06/2018).

Menurutnya, polder yang terletak di bagian belakang rumah sakit ada dua buah. Jumlah air yang bisa ditampung bisa mencapai ribuan meter kubik. Polder itu sudah lama tak terawat, sudah dangkal dan fisiknya juga sudah rusak-rusak. Sudah lama terpikir untuk direvitalisasi, namun karena ketiadaan dana belum terlaksana. “Kalau menggunakan dana sendiri, rumah sakit tidak sanggup,” ucap Rachim.

Diterangkan, beberapa tahun lalu, manajemen sudah pernah bertanya-tanya kepada konsultan perencana biaya yang diperlukan merevitalisasi 2 polder tersebut. Setelah dihitung ahli, biaya merevitalisasi kedua polder itu lebih kurang Rp10 miliar, atau Rp5 miliar per polder.

Selain merevitalisasi 2 polder, untuk menghentikan rumah sakit kebanjiran saat hujan lebat datang, jaringan saluran air dalam lingkungan rumah sakit juga perlu direvitalisasi agar berfungsi maksimal dan elevasinya diatur agar  air mengalir ke polder. “Untuk membiayai kedua kegiatan tersebut kita berharap sumber dananya dari APBD Kaltim. Beberapa tahun lalu sudah pernah diusulkan, namun belum berhasil,” ungkap Rachim.

Diterangkan pula, air yang begitu banyak dikala hujan di dalam lingkungan rumah sakit tidak mungkin mengalir lancar ke saluran air umum yang ada di Jalan PMI sebab, saluran air di Jalan PMI juga mengalami penyempitan akibat banyaknya sampah. Saluran air di Jalan PMI  terhubung dengan saluran air  yang tertutup  di Jalan Dr Soetomo. “Muara dari saluran air di Jalan PMI dan Soetomo kan ke Sungai Karang Mumus. Cuma karena saluran air itu tertutup, kita tidak tahu persis kondisi di dalam saluran,” ujarnya. (001)

Berita Terkait