Bahasa Dayak Benuaq Terancam Punah, Melayu Kutai Kritis

eddy
Eddy Kuswadi

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kegiatan pra penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalimantan Timur menyimpulkan salah satu bahasa lokal yang terancam punah adalah bahasa Dayak Benuaq, sedangkan bahasa Melayu Kutai juga dalam keadaan kritis sebab penuturnya cenderung tidak bertambah.

Demikian dikatakan Kepala Balitbangda Provinsi Kaltim, Eddy Kuswadi ketika ditemui Niaga.asia, Rabu (14/02). Saat memberikan keterangan Eddy didampingi peneliti Pebiansyah dan Ratih Fenti yang sudah melakukan kegiatan pra penelitian sebelum dilakukan penelitian mendalam akan bahasa melayu Kutai.

Menurut Eddy, Balitbangda berencana melakukan penelitian mendalam atau komprehensif akan bahasa Kutai agar diketahui mengapa penuturnya tahun 2015 tinggal 290.000, padahal wilayah Kutai (Kukar, Kutim, dan Kubar) penduduknya sekitar 1,2 juta jiwa. Dari penelitian yang mendalam nanti diharapkan terbit  rekomendasi dari para ahli tentang bagaimana menyelamatkan bahasa Kutai dari kepunahan. “Rumusan dari pakar bahasa, apabila bahasa lokal penutur diatas 200.000 masuk kategori menuju kritis atau terancam punah. Kalau penutur suatu bahasa lokal kurang dari 200.000 sudah masuk kategori terancam punah,” ujarnya.

Dikatakan pula, setelah kegiatan pra penelitian menunjukkan bahasa Kutai menuju kritis, maka Balitbangda akan melaporkan kondisi tersebut ke gubernur agar menjadi pertimbangan segera dilakukan penelitian ilmiah tentang masa depan bahasa Kutai. Bahasa lokal adalah identitas daerah sekaligus aset kultural bangsadi bidang kebahasaan sebagaimana diatur dalam Pasal 32 ayat (2) UUD 1945, yakni; “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budayanasional”.

Sementara itu Pebiansyah dan Ratih Fenti menjelaskan, bahasa Dayak Benuaq terancam punah karena penuturnya dalam beberapa tahun terakhir kurang dari 200.000. Bahasa Benuaq ini terancam punah karena derasnya arus migrasi orang Benuaq ke perkotaan melanjutkan pendidikan atau bekerja.

“Di kampung-kampung orang Benuaq sendiri sarana untuk mempertahankan bahasa Benuaq juga sangat terbatas. Bahasa Benuaq masih dipakai dalam rumah keluarga inti dan seni budaya. Pemuda Benuaq yang sudah pindah ke kota juga terpaksa meninggalkan bahasanya dalam berkomunikasi karena sudah berbaur dengan macam suku, sehingga menggunakan bahasa Indonesia,” kata Pebiansyah.

Untuk bahasa Kutai sendiri, Pebiansyah dan Ratih mengungkapkan hasil penelitian sebelumnya, jumlah penuturnya masih cukup banyak, sekitar 290.000 pada tahun 2015. Tapi bahasa Kutai perlu dicarikan cara agar bisa lestari, digunakan sejak anak usia dini dan pelajar. “Dari penelitian ilmiah yang melibatkan pakar, tentu nanti akan ada rekomendasi ke pemerintah Provinsi, kabupaten Kukar, Kutim, dan Kubar dalam melestarikan bahasa Kutai. “Bahasa Kutai sempat dijadikan muatan lokal di Kutai tahun 1994, tapi sekarang tidak lagi,” kata Ratih.

Jumlah orang suku Kutai tahun 2010 sekitar 275.697 jiwa atau sekitar 7,80 %  jumlah berbagai suku yang ada di Kaltim. Meski demian tidak menutup kemungkinan bila tidak dilestarikan akan tergerus dan punah akibat arus modernisasi.

Sarana pendukung beragam

            Menurut  Ratih, status bahasa Kutai aman karena sebagian dari orang Kutai di  pemerintah jumlah mereka dominan dibanyak unit-unit kerja, sehingga bahasa Kutai dominan digunakan dalam berinteraksi. “Kondisi demikian cukup menolong bahasa Kutai,” ujarnya. Bahasa Kutai juga menjadi bahasa pengantar di radio, televisi, dan ada juga grup di media sosial menggunakan bahasa Kutai. “Sarana pendukung bertahannya bahasa Kutai cukup beragam,” tambah Ratih.

            Dikatakan pula, Kantor Bahasa Wilayah Kalimantan Timur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan berbagai penelitian/kajianterkait bahasa Kutai sejak tahun 1994 diantaranya memetakan dan hubungan kekerabatan bahasa Kutai, menyusun  kamus, tata bahasa, dan eksistensi bahasa Kutai di tengah arus globalisasi.

Peneliti Kantor Bahasa, Nurbety menjelaskan bahwa saat ini bahasa Kutai masih menunjukkan eksistensinya, itu dapat dibuktikan beberapa kegiatan adat dan keagamaan menggunakan bahasa Kutai sebagai pengantar.

Selain itu penggunaan bahasa Kutai juga terdapat pada beberapa grup di media sosial, seperti; Kutai Ngapeh di Facebook, Bahasa Kutai di Twitter, Budayakan Bebahasa Kutai di Odah Etam Sorang! di Instagram, Bahasa Kutai di Facebook, dan Bahasa Kutai di Youtube.

Kemudian ada juga penggunaan bahasa Kutai di televisi, radio, dan koran jugamemiliki program yang menggunakan bahasa Kutai sebagai bahasa pengantar, contohnya, KhabarEtam di TVRI Kaltim yang menyajikan informasi terkini tentang Kaltim. RPK Live Radio, Radionya Urang Kukar yang menyajikan berita/informasi tentang Kukar, serta di RRI Samarinda. “Juga ada Koran BeritaTenggarong Daring: pariwisatakukar.wordpress.com,” kata Nurbety. (001)