Pemusnahan makanan dan tanaman selundupan dari Malaysia yang masuk di perbatasan RI Pulau Nunukan. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan Wilayah Kerja Nunukan memusnahkan sejumlah barang pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) yang diselundupkan dari luar negeri, yakni Tawau, Malaysia ke Nunukan, Kalimantan Utara.

Adapun barang yang dimusnahkan ialah, sosis ayam 29,7 kilogram, daging ayam beku 30 kilogram, daging babi 5 kilogram, bibit tanaman hias 3 batang, benih sayuran campuran sebanyak 0,1 kilogram, benih sawi sebanyak 0,1 kilogram, benih bayam sebanyak 0,1 kilogram, bibit kelapa 3 batang, bawang bombay 1 kilogram, bawang putih 10 kilogram

“Semua barang tangkapan baik makanan, tanaman tumbuhan dibawa dari Tawau, Sabah, Malaysia masuk ke wilayah Nunukan,” kata Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan, Ahmad Alfaraby pada Niaga. Asia, Rabu (05/08).

Menurut Ahmad, dalam memberantas produk luar negeri yang masuk secara ilegal  atau  tanpa dilengkapi dokumen kesehatan Balai Karantina Nunukan bersinergi dengan banyak instansi, seperti

Kejaksaan Negeri Nunukan, Lanal Nunukan, Satgas Pamtas Yonif 623/WBU, Polres Nunukan, KSKP Pelabuhan Nunukan, Bea Cukai Nunukan, Balai Karantina Ikan, PT Pelindo IV Nunukan, KSOP Nunukan. PT ASLP Indonesia Ferry Nunukan dan Kadin Nunukan.

“Frekuensi tangkapan tahun ini agak menurun dibandingkan tahun 2019 lalu, tapi kita tetap memaspadai masuknya barang terlarang,” ucapnya.

Balai Karantina  memiliki tugas pokok mencegah masuknya makanan, tanaman tumbuhan luar negeri yang tidak dilengkapi dokumen kesehatan, tindakan ini bertujuan mengamankan masyarakat dari penularan hama berbahaya penyakit bawaan. Jangan sampai komoditas pertanian dan ketahanan pangan negara rusak karena masuknya hama penyakit bawaan luar negeri.

“Jangan sampai komoditas kita hancur karena masuknya produk luar negeri dan lebih bahaya lagi kalau produk ilegal itu dikonsumsi masyarakaat,” terang Ahmad.

Untuk pencegahan dini, Karantina Nunukan tahun 2020 mengamankan 5 kilogram daging babi, bahan makanan ini dibawa kapal Filipina yang bertransaksi dagang di pelabuhan Nunukan. Keberadaan daging tanpa izin dan diduga membawa hama, maka perlu dilakukan penyitaan.

Keberadaan daging babi asal luar negeri perlu dihindari sehubungan adanya hama penyakit yang sangat ganas African Swine Fever (ASF). Penyakit ini dikabarkan telah terjadi di beberapa negara, terutama yang memiliki banyak populasi babi.

“Kita menghindari African Swine Fever (ASF), maka itu semua daging babi luar negeri harus dimusnahkan, jangan sampai sampah-sampah buang daging menyebarkan hama,” jelasnya. (002).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *