Banjir 5 Bulan Rendam Sawah Rapak Lambur, Ratusan Petani Gagal Panen Kini Terima Bantuan Bupati Kukar!

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri memeriksa langsung kualitas beras sebelum disalurkan ke warga. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Banjir yang merendam lahan pertanian hingga berbulan-bulan di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berujung pada gagal panen dan memukul ratusan petani.

Setelah terdampak sejak akhir tahun 2025, Pemerintah Daerah Kabupaten Kukar akhirnya menyalurkan bantuan berupa beras untuk meringankan beban warga setempat.

Penyerahan bantuan cadangan pangan pemerintah daerah ini dilakukan langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kantor Desa Rapak Lambur, Rabu (8/4/2026).

Orang nomor satu di Kabupaten Kukar itu pun mengungkapkan keprihatinan mendalamnya atas musibah gagal panen yang telah dialami petani akibat banjir yang terjadi sejak bulan Desember 2025 hingga Januari 2026.

“Pada saat dilaporkan kepada kami terjadi gagal panen di desa Rapak Lambur ini, terjadi kesedihan yang begitu mendalam bagi kami, karena kita semua bisa merasakan dampak dari proses gagal panen tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diterima pemerintah daerah, luas lahan pertanian di desa tersebut mencapai 342,25 hektare. Namun, sekitar 148 hektare di antaranya mengalami gagal panen akibat terendam banjir.

Dampaknya dirasakan oleh sedikitnya 153 kepala keluarga atau 542 jiwa yang tersebar di sejumlah rukun tetangga, yakni RT 1, RT 4, RT 6, RT 7, RT 8, dan RT 9.

Sebagai bentuk tanggap darurat, Pemkab Kukar menyalurkan bantuan beras sebanyak 9.756 kilogram atau setara dengan 1.084 karung kepada warga terdampak.

“Kami akui, kalau dibandingkan dengan hasil panen yang seharusnya didapatkan, bantuan ini tentu masih jauh. Namun kami berharap ini bisa meringankan beban dan membantu para petani untuk kembali beraktivitas menanam,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan berkomitmen untuk terus mendampingi petani agar bisa bangkit pasca gagal panen.

Sementara itu, Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf, menjelaskan bahwa banjir yang melanda wilayahnya, sebenarnya bukan lagi fenomena musiman. Ketinggian air pun bisa mencapai 50 hingga 80 sentimeter dan merendam ratusan hektare sawah dalam waktu singkat.

“Kalau air Sungai Mahakam pasang, itu dalam satu malam bisa langsung merendam sekitar 500 hektare sawah,” bebernya.

Lebih parahnya lagi, genangan air tersebut tidak cepat surut. Yusuf menyebut, banjir bisa bertahan hingga empat sampai lima bulan karena kondisi geografis desa yang lebih rendah dibanding permukaan sungai.

“Airnya lambat turun. Walaupun sudah ada normalisasi dan penanganan irigasi, tetap saja bertahan lama, bisa 4 sampai 5 bulan,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah membangun tiga pintu air pada tahun 2025. Namun, upaya it belum maksimal karena tanggul yang ada masih perlu ditinggikan untuk menahan luapan air Sungai Mahakam.

Melalui momentum penyaluran bantuan ini, Yusuf berharap adanya perhatian lanjutan dari pemerintah, khususnya dalam peningkatan infrastruktur pengendali banjir agar kejadian serupa tidak terus berulang.

“Kami berharap ke depan ada peninggian tanggul supaya bisa mengurangi dampak banjir terhadap sawah masyarakat,” tutupnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: