Pengambilan swab tenggorok di area Bandara APT Pranoto Samarinda, Kamis (30/6). (Foto : HO/Bandara APT Pranoto)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Penambahan kasus positif Covid-19 di Kalimantan Timur, sampai dengan Selasa (30/6) kemarin, masih didominasi warga non-KTP Kalimantan Timur, yang akan kembali bekerja di Kaltim. Bahkan, banyak yang lolos masuk ke Kaltim, tanpa melalui kewajiban mengantongi hasil uji swab PCR negatif, maupun diuji swab lebih dulu.

“Kasus di Kaltim, kebanyakan dari mereka yang akan kembali bekerja di Kaltim. Seiring pelonggaran penerbangan yang ada,” kata Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kalimantan Timur Andi M Ishak, dalam penjelasan virtual, Selasa (30/6) malam.

Andi menerangkan, diupayakan upaya lebih nyata, untuk menekan dan menyaring mereka yang datang, terutama pekerja yang akan kembali bekerja di Kalimantan Timur.

Untuk itu, diperlukan kerjasama Pemprov, Pemkab dan Pemkot, dalam upaya bisa memastikan perusahaan yang akan mempekerjakan kembali pegawainya di Kaltim bebas dari Covid-19. “Yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction),” ujar Andi.

“Kami akan evaluasi kembali surat Gubernur yang sudah dikeluarkan, untuk menjaring mereka sebelum masuk Kaltim, harus uji PCR. Setelah surat dikeluarkan Gubernur, masih banyak warga yang masuk tanpa uji PCR. Kedepan perlu evaluasi, utk mengefektifkan kebijakan Gubernur ini,” tegas Andi.

Berita terkait :

Samarinda Memilih Tidak Mewajibkan Pendatang Membawa Hasil Swab Negatif

Andi menerangkan, Gugus Tugas berharap, kebijakan Gubernur itu benar-benar bisa diterapkan. “Ini adalah cara efektif yang bisa kita lakukan, kalau bisa dilaksanakan dengan baik. Maka kasus-kasus selama ini, dalam 3 pekan belakangan ini lebih dari masuknya pekerja yang ternyata positif Covid-19, saat ditest di Balikpapan,” terang Andi.

Andi juga menyinggung perlunya penguatan dari surat Gubernur itu. “Juga apakah dalam bentuk lain, dalam rangka untuk bisa memastikan perusahaan bisa mentaati dan mematuhi. Utamanya, pekerja yang akan kembali bekerja bebas Covid-19,” sebutnya.

“Itu ditandai dengan hasil uji PCR. Diharapkan, bisa menekan laju pertambangan kasus. Penambahan kasus terkesan besar di Balikpapan. Tapi sesungguhnya upaya yang sangat baik dan bagus dilakukan di Balikpapan, untuk bisa menemukan lebih dini. Sehingga mereka (terkonfirmasi positif Covid-19) bisa cepat terisolasi, dan tidak sempat menyebarkan virus di tempat kerjanya,” terang Andi lagi.

“Dapat dibayangkan, apabila mreka tidak terperiksa di Balikpapan, tentunya juga akan segera menyebar dan berpotensi menyebarkan (virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19),” jelas Andi lagi.

Masih disampaikan Andi, penyebaran kasus terus berpotensi terjadi, mengingat di sekitar Kalimantan Timur, juga sangat besar terjadi peningkatan kasus.

“Terutama daerah memiliki penularan tinggi seperti Sulsel, Kalsel, Jatim, dan Jateng, seiring pelonggaran penerbangan dan pelayaran. Berpotensi terjadinya tranmisi. Baik kasus impor maupun Orang Tanpa Gejala (OTG) dan berpotensi menularkan, dan bisa menyebabkan penularan lokal di Kaltim,” tutup Andi. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *