Baru Dua Jam Buka, 500 Tusuk Sempol Ludes di Bazar Tangga Arung Square!

Edi Sutrisno (35) dan istrinya, Maya Novitasari (29), di lapak mereka di Bazar Ramadan Tangga Arung Square, Tenggarong, Kamis (19/2/2026).  (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Aroma sempol goreng yang baru diangkat dari minyak panas menyeruak di sela riuhnya peresmian Bazar Ramadan di Tangga Arung Square, Kamis sore (19/2/2026). Di balik kepulan asap tipis itu, Edi Sutrisno, penjual sempol, tampak sigap melayani pembeli yang datang silih berganti.

Bagi pria berusia 35 tahun ini, hari itu bukan sekadar hari berdagang biasa. Itu adalah kali pertamanya mengikuti bazar Ramadan. Dan tanpa disangka, 500 tusuk sempol yang ia bawa ludes hanya dalam waktu sekitar dua jam.

“Baru pertama kali ikut bazar seperti ini. Alhamdulillah habis semua,” ucapnya sambil tersenyum pada Niaga.Asia.

Ia membuka lapak sempol sekitar pukul 14.30 WITA. Niat awalnya hanya ingin coba-coba peruntungan di tengah ramainya momen Ramadan. Namun, belum sampai pukul 17.00 WITA, seluruh sempol yang dijual seharga Rp2.000 per tusuk itu sudah ludes diborong pembeli.

Tak ada jeda. Sejak dibuka, antrean nyaris tak terputus. “Enggak ada henti-hentinya orang beli,” katanya.

Dari 500 tusuk sempol yang terjual tersebut, Edi mencatat omzet kotor yang didapatnya sekitar Rp1 juta dalam sehari. Dari jumlah itu, keuntungan bersih diperkirakan mencapai 60 persen, setelah dikurangi modal sekitar Rp400 ribuan.

Tak hanya sempol, Edi juga membawa 800 tusuk pentol bakar dengan harga bervariasi, mulai Rp2.000 – Rp5.000. Jika seluruhnya habis, omzetnya bisa menembus Rp2 juta lebih.

Di sampingnya, sang istri, Maya Novitasari (29), turut membantu melayani pembeli. Usaha kecil itu memang dijalankan bersama. Bahkan, ketiga anak mereka kadang ikut membantu.

Edi bercerita bahwa sudah sekitar 10 tahun ia bersama istri berjualan sempol dan pentol. Biasanya, ia hanya mangkal di lokasi tetap di Tenggarong. Mengikuti bazar Ramadan seperti ini adalah pengalaman baru baginya.

“Dari teman diajak ikut. Sebelumnya enggak pernah jualan di bazar Ramadan,” jelasnya.

Baginya, Ramadan selalu menjadi musim panen bagi pedagang jajanan. Dibanding hari biasa yang omzetnya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, selama Ramadan pendapatan bisa meningkat dua kali lipat dan dagangan lebih cepat habis.

“Kalau sempol dan pentol habis, omzetnya bisa mencapai Rp3 juta,” terangnya.

Meski harus mengeluarkan biaya sewa tenda Rp800 ribu per bulan, sudah termasuk listrik, Edi pun merasa kesempatan seperti ini layak disyukuri. Ia berharap bazar serupa bisa terus digelar agar pelaku UMKM memiliki ruang untuk tumbuh.

“Alhamdulillah bersyukur. Mudah-mudahan ke depannya ada lagi, biar UMKM bisa maju,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: