Bayi pesut Mahakam ditemukan mati di sungai di Kutai Kartanegara, Senin (22/4) sore. (Foto : istimewa/RASI)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Populasi pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) di perairan sungai Mahakam di Kutai Kartanegara, kembali berkurang. Bayi pesut berkelamin jantan, ditemukan mati mengambang di salah satu aliran sungai Mahakam di Sungai Pela. Diduga, satwa mamalia air itu terjerat rengge, atau sejenis jerat nelayan di sungai.

Satwa berstatus terancam punah itu itu, ditemukan mati mengambang di sekitar jamban warga, Senin (22/4) sore kemarin. Kondisi mulutnya berbusa, dan diperkirakan kematiannya masih terhitung baru.

“Diperkirakan kematiannya kurang 24 jam, masih terhitung baru. Ada busa di mulutnya. Dari observasi kami, kematian seperti itu akibat sesak nafas, biasanya terjerat rengge nelayan,” kata seorang peneliti pesut Mahakam dari yayasan RASI (Rare Aquatic Species Of Indonesia) Danielle Kreb, Selasa (23/4).

Bangkai bayi pesut malang itu, dibawa ke stasiun pesut milim Yayasan RASI. Malam harinya, dengan diberikan pendingin banyak es batu, akhirnya bangkai itu dibawa ke BKSDA Kaltim di Samarinda. “Untuk keperluan neokropsi, sejenis autopsi,” ujar Danielle.

Danielle sedikit heran dengan kematian bayi pesut itu. “Biasanya, bayi pesut mati itu, selalu dikelilingi oleh pesut lainnya secara berkelompok. Tapi, kali ini tidak. Untuk menjadi pertanyaan kami,” tambahnya.

Kematian bayi pesut masih menurut Danielle, sangat disayangkan. “Karena, diperlukan waktu 14 bulan bagi pesut dewasa untuk hamil dan melahirkan bayi mereka. Reproduksinya memang lambat,” jelas Danielle.

Dari olah data tim Yayasan RASI, bayi pesut yang mati itu memiliki panjang 1,22 meter. Usianya, diperkirakan 6 bulan dan masih menyusu dengan induknya. “Kami duga, bangkai pesut itu larut di sungai, dari lokasi lain. Jadi dilepas warga, dan akhirnya mengambang di sungai,” tutup Danielle. (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *