BBM Subsidi Tersendat, Kapal Rute Samarinda Kubar-Mahulu Setop Berlayar Seminggu

Kapal angkutan rakyat rute Samarinda Kubar-Mahulu mogok berlayar sejak 24 Januari 2026. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Sejumlah kapal angkutan rute Samarinda–Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) di Pelabuhan Sungai Kunjang, Samarinda,.mogok beroperasi sejak 24 Januari 2026.

Puluhan kapal angkutan rakyat mogok itu dipicu kesulitan motoris memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yang selama ini menjadi penopang utama operasional kapal di jalur Sungai Mahakam.

Kondisi ini merupakan dampak langsung dari pemberlakuan aturan baru Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), yang mengubah skema distribusi solar subsidi bagi angkutan perairan.

Adanya pemberlakuan aturan baru ini berdampak pada perekonomian buruh kapal dan pekerja pelabuhan di dermaga sungai kunjang Samarinda. Tidak sedikit kapal terlihat hanya bersandar tanpa aktivitas pemuatan barang maupun penumpang.

Nahkoda Kapal Nor Fitri Indah III, Muhib, 54 tahun menerangkan, sudah seminggu kapal-kapal angkutan penumpang dan barang berhenti berlayar.

Nahkoda KM Nor Fitri Indah III, Muhib. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Biasanya setiap hari ada saja kapal yang berangkat. Sekarang, kalau ada BBM baru kami bisa jalan,” kata Muhib, kepada niaga.asia, Jumat 30 Januari 2026.

Normalnya, armada Nor Fitri Indah mampu memberangkatkan dua kapal setiap hari untuk rute Samarinda-Long Bagun Mahakam Ulu dan rute Samarinda-Melak Kutai Barat. Dalam sekali berlayar kapal tersebut membutuhkan 15 drum atau sekitar 3 ton.

Perjalanan pulang pergi ini memakan waktu lima hari lima malam. Jika dikalkulasi, dalam sepekan terdapat sedikitnya 14 jadwal pelayaran yang terpaksa harus dibatalkan karena kesulitan solar.

“Kapal ini sistemnya pulang-pergi. Kalau Jumat berlayar, Rabu depan baru kembali ke sini. Sekarang semuanya terhenti. Semua kapal dari sini tidak ada yang mudik (ke hulu), dari sana pun tidak ada yang ke hilir,” ujar Muhib.

Mogoknya kapal-kapal ini berdampak terhadap perekonomian kru kapal. Terhitung dalam sekali berlayar, kapal ini menugaskan enam anak buah kapal ( ABK).

Selain itu, ketiadaan pelayaran selama sepekan terakhir berdampak juga pada ketersediaan sembako di kawasan Mahakam Ulu.

“Seminggu saja kami tidak jalan, stok sembako di sana berkurang karena tidak ada pasokan barang dari Samarinda. Tapi kalau kelangkaan yang berakibat kenaikan harga di sana, sejauh ini belum ada terdengar,” terang Muhib.

Selain itu, dampak pemasukan pun terasa nyata. Para penumpang banyak yang membatalkan pesanan tiket karena ketidakpastian jadwal berangkat.

Sebagai informasi, tarif angkutan orang untuk rute Long Bagun dipatok Rp440 ribu, sementara rute Melak sebesar Rp180 ribu. Untuk barang, tarif dihitung per dus Rp3 ribu–Rp5 ribu. Sedangkan untuk beras sendiri dihitung per ton. Untuk 1 ton beras dihargai Rp300 ribu jasa antarnya.

Sekali berlayar diperlukan hingga 12 drum solar. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Sering penumpang itu yang membatalkan karena gak bisa pergi. Jadi rugi juga kami,” terang Muhib.

Sekali berlayar, kapal berkapasitas 60 ton ini mampu mengangkut hingga 100 penumpang beserta berton-ton bahan pokok.

“Kalau hari biasa seperti ini biasa hanya 5 orang yang naik, barangnya yang banyak. Kalau hari biasa, sehari bisa 30 orang aja lumayan sudah pendapatan,” jelas Muhib.

Sejak kapal angkutan rakyat ini beroperasi dari 2005 lalu, Muhib menjelaskan baru 2026 ini mereka kesulitan mendapatkan BBM subsidi.

“Sebelumnya tidak pernah. Mudahan cepat dan ada solusi biar masyarakat enak. Dulu susah-susah masih bisa nyari. Sekarang tidak bisa,” demikian Muhib.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: