kayu
Upaya penyelundupan kayu meranti ke Tawau, Malaysia berhasil digagalkan Kantor Bea Cukai dan Polres Nunukan. (budi anshori)

   NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Aparat Kantor Bea dan Cukai (BC)  dan Polres Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) berhasil menggagalkan upaya penyelundukan sebanyak 10,138 meter kubik kayu jenis rimba ke Tawau, Malaysia. Kayu tersebut tersebut diamankan dari Kapal Motor (KM)  Anugrah Jaya.

“Kita amankan pada, Kamis (22/02/2018). Kayu-kayu itu hasil serah terima dari Kantor Bea Cukai Nunukan,” kata Kasubag Humas Polres Nunukan, Iptu M. Karyadi pada Niaga.asia, Jumat (23/02).  KM Anugrah  membawa kayu olahan dari Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Saat dicegat aparat BC, kapal hendak menuju ke Sungai Taiwan, Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan. Adapun pemilik barang bernama Mohammad Aidil bin Tajuddin (34), warga Jalan H. Halling, Desa Sungai Pancang.

Menurut Karyadi, dari hasil pemeriksaan sementara, Aidil mengaku  baru pertama kali melakukan bisnis kayu illegal yang akan diselundupkan ke Tawau. “Ya biasakah begitu, tersangka kalau ditanya pasti mengaku baru pertama berbuat kejahatan, sangat jarang berkata jujur,” ucapnya.

Sebelum dilakukan pengamanan, Polisi mendapat laporan dari Bea dan Cukai Nunukan terkait adanya kapal yang sandar dipinggiran sungai, dimana diduga kapal itu sengaja didiamkan karena mengalami kerusakan mesin atau kebocoran. Setelah itu Polisi langsung menuju lokasi yang telah diamankan petugas Bea Cukai Nunukan.

Ukuran kayu olahan yang diamankan adalah  5 x10 panjang 4 meter sebanyak 143 batang atau 2,86 meter kubik. Kayu ukuran 3 x15 panjang 4 meter sebanyak 233 batang atau 3,24 meter kubik, ukuran  2,5 x 20 panjang 4 meter sebanyak 162 batang atau 3,24 meter kubik, dan 3 x 10 panjang 4 meter sebanyak 2 batang atau 0,0024 meter kubik.“Total kayu 10,138 meter kubik dan kayu-kayu ini diperkairakan untuk keperluan pabrik pengolahan mebel,” ujar Karyadi.

Kesemua kayu yang diangkut  KM Anugrah itu  tanpa dilindungi dokumen kayu yang sah. Kayu diduga hasil  perambahan hutan di Kabupaten Tanah Tidung. Perbuatan tersangka masuk dalam kategori merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan.

Atas perkara ini, tersangka Aidil dikenakan tindak pidana Undang-undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan ancaman pidana penjara dan denda ditambah perampasan barang bukti kejahatan. “Untuk alat pengangkut sarana dan prasarana masuk dalam alat angkut, jadi kapal ataupun lainnya dijadikan barang bukti kejahatan,” tegasnya. (002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *