aa
S yang curiga istrinya telah berselingkuh dengan A, sama-sama menjalani  ritual Dolop, menyelam di air sungai dengan A dan disaksikan masyarakat. (Foto Istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Pengadilan Adat dilestarikan hingga ratusan tahun dan dipergunakan turun temurun  masyarakat  Dayak Agabang. Pengadilan Adat Dayak Agabag dinamai Dolop atau Badolop. Pengadilan adat ini masih dipakai untuk penyelesaian masalah sosial di masyarakat Dayak Agabag yang tinggal tersebar di  Kecamatan Sebuku, Sembakung dan Lumbis.

Pengadilan adat dilaksanakan untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah antara dua orang yang berselisih atau bermasalah. Untuk melaksanakan pengadilan adat harus seizin  kepala adat besar karena saat bersamaan juga digelarnya ritual Badalop di sungai.

Seperti yang dilaksanakan hari Jum’at (08/11/2019). Ratusan warga Kecamatan Sebuku berkumpul di tepian sungai menyaksikan ritual Badolop atas permintaan dua pihak keluarga yang sepakat mencari kebenaran lewat tradisi mereka. Ritual dihadiri kepala adat besar, H. Pangeran Ismail, sesepuh adat,  dan ahli mantra ghaib yang dalam hal ini akan memimpin ritual, serta  kedua belah keluarga yang menjalani ritual.

Sekretaris Lembaga Adat Dayak Agabag Samadik, SH mengatakan, pengadilan adat Badolop dilaksanakan Jumat (8/11), untuk menyelesaikan tuduhan perselingkuhan A yang menurut keterangan S memiliki hubungan gelap bahkan telah menggauli istrinya.

“S ini cemburu menduga istrinya berselingkuh dengan A, gara-gara dugaanya itu, S bercerai dengan istrinya,” kata Samadik.

aa
Pihak berselisih dibopong keluar dari sungai setelah menjalai ritual Badolop. (Foto Istimewa)

Kronologi perselisihan antara S dan A berawal dari kejadian 1 tahun lalu. Kala itu  S mengatakan bahwa A melakukan perjinahan dengan istrinya. Konflik antara keduanya sudah berulang kali dicoba diselesaikan, namun pihak SU tetap merasa belum puas.

Menurut Samadik, antara S dan A juga pernah terlibat keributan hingga saling melapor ke Polisi. Karena permasalahan terus belanjut tanpa penyelesaian, A melaporkan permasalahan kepada ketua adat besar, H.Pangeran Ismail.

“Usia A dan S sama-sama sekitar 47 tahun. Kalau  istri S sekitar 30 tahun, mereka ini terus berselisih paham, nah untuk menyelesaikan, adat menawarkan ritual Badolop,” sebutnya.

Khusus untuk masalah rumit

Samadik menyebutkan, Pengadilan Badolop dalam masyarakat Dayak Agabag adalah upaya  terakhir dalam menyelesaikan. Ritualnya sendiri dipimpin seorang hakim yang bukan manusia melainkan dewa (istilah adat).

Ritual seperti ini bukanlah hal baru di masyarakat Agabag, telah berulang kali  dilaksanakan menyelesaikan masalah yang rumit-rumit, teruratama ketika pihak yang bermasalah tidak puas dengan penyelesaikan hukum negara.

“Putusan Badolop tadi siang adalah sakral dianggap benar dan adil, masing-masing pihak harus mentaati dan menerima hasil ritual,” ucap Samadik.

aa
Meski ini pengadilan adat, perjanjian di atas kertas tetap dikasih materai. Kedua pihak menandatangani tidak akan mendendam lagi satu sama lain. (Foto Istimewa)

Dalam pelaksaan pengadilan adat, untuk memberikan rasa aman dan damai, ketua adat biasanya membuat  surat perjanjian bermaterai yang ditandatangani  kedua belah pihak yang berselisih paham. Dalam perjaniian juga dimuat kesepakatan tidak akan ada dendam setelah ritual Badolop selesai.

Konsekuensi dari ritual Badolop  adalah, kebenaran akan terungkap dan pelaku yang melakukan kesalahan atau kebohongan dan aibnya terbongkar dihadapan banyak masyarakat luas. Pihak yang berbohong dikenai sanksi adat yakni membayar denda berupa hewan ternak untuk diserahkan kepada korban kebohongan.

Pembuktian melalui proses menyelam

Dalam pengadilan antara S dan A, kepala adat besar menetapkan denda yang harus disiapkan kedua pihak yang berselisih berupa 1 ekor sapi seharga Rp 7 juta, Gulabai Merah sebagai pertemuan seharga Rp 4 juta, dan 1 ekor babi sebagai dawak atau perdamaian seharga Rp 2 juta.

“Material pendukung ritual batang kayu rambutan (Kalamuku) untuk pedagang, beras kuning, batang pisang muda, telur dan juga beberapa helai kain berwarna merah dan kuning,” kata Samadik.

Batang kayu rambutan (kalamuku) berfungsi untuk kedua pihak berpegangan saat menyelam dalam air. Setelah semua kelengkapan tersedia, orang yang ditunjuk sebagai pemimpin ritual membacakan mantra pemanggilan arwah leluhur.

Kedua pihak bersengketa diminta mengikuti arahan  yaitu menyelam dalam air sambil berpegangan pada batang kalamuku. Hasil ritual ghaib ini akan diketahui dengan cara melihat siapa paling cepat muncul kepermukaan sungai.

“Dalam kasus S dengan A, hasil akhir ritual Dolop, A muncul lebih dulu kepermukaan air. A dengan demikian dinyatakan bersalah, telah melakukan perzinahaan dengan  istri S. A harus membayar denda kepada S,” kata Samadik.

Dalam pengadilan ini A wajib menyerahkan denda berupa 1 ekor sapi seharga Rp 7 juta, Gulabai Merah sebagai pertemuan seharga Rp 4 juta, dan 1 ekor babi sebagai dawak atau perdamaian seharga Rp 2 juta kepada S sebab, dari proses ritual Badolop, atau keduanya menyelam, AN lebih duluan naik ke permukaan air.  (Budianshori)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *