BEM Unikarta Absen Undangan Bupati, Malah Gelar Konsolidasi Lanjutan

 

Bupati Aulia Rahman Basri. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA– Agenda audiensi antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) dan Bupati Aulia Rahman Basri yang dijadwalkan pada Selasa siang (7/4/2026) di Pendopo Odah Etam, mendadak batal.

Alih-alih duduk berdialog dengan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri, rupanya mahasiswa justru memilih turun ke jalan. BEM Unikarta diketahui bertolak ke Kota Samarinda untuk mengikuti aksi demo pada Selasa (7/4/2026), membatalkan agenda yang sudah dijadwalkan oleh pemerintah daerah.

“Bukan pemerintah yang membatalkan. Dari teman-teman BEM-nya sendiri yang minta maaf tidak bisa hadir, karena mereka harus demo ke Samarinda. Kehadiran mereka lebih dibutuhkan di sana,” ujar Bupati Aulia Rahman Basri menjawab pertanyaan wartawan pada Rabu (8/4/2026).

Pernyataan itu sekaligus menepis anggapan bahwa pemerintah menghindari mahasiswa. Bahkan, orang nomor satu di Kukar tersebut mengaku justru menjadi pihak yang lebih dulu membuka ruang komunikasi.

“Justru saya yang mengundang. Saya telepon langsung Ketua BEM untuk bersama-sama kita diskusi. Kami tunggu saja kapan mereka siap,” jelasnya.

Flyer konsolidasi lanjutan BEM Unikarta yang beredar luas. (Istimewa)

Teranyar, dinamika yang berkembang kian mengarah pada penguatan gerakan. Hal ini terlihat dari flyer yang tersebar luas, yang mengajak mahasiswa mengikuti konsolidasi lanjutan pada Rabu malam (8/4/2026) pukul 20.00 WITA di halaman Masjid Unikarta, Tenggarong.

Ajakan yang beredar luas bahkan memuat narasi cukup tajam, “Kukar Idaman Terbaik Belum Baik,” yang mengisyaratkan bahwa kritik terhadap pemerintah daerah masih akan terus berlanjut.

Menanggapi dinamika tersebut, Bupati Aulia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutup diri terhadap kritik. Dengan catatan, penyampaian aspirasi tidak keluar jalur.

“Kalau kita membangun Kukar, selama prinsipnya konstruktif, ayo kita kolaborasi. Tapi kalau sudah mengarah ke anarkis, yang penting demo, yang penting bakar ban, itu bukan yang kita harapkan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti isu yang berkembang terkait kekhawatiran mahasiswa akan adanya pihak yang “menunggangi” gerakan mereka. Aulia merasa bahwa narasi tersebut tidak logis jika dikaitkan dengan penolakan audiensi.

“Kalau ketemu saya, apa bedanya audiensi dengan demo. Siapa yang mau menunggangi, tidak ada yang mau menunggangi,” tegasnya.

Mahasiswa pun diajak untuk mengedepankan substansi, yakni adu konsep ketimbang adu tekanan di lapangan. Pemerintah Kabupaten Kukar sangat siap menguji gagasan, termasuk terhadap program Kukar Idaman Terbaik yang saat ini dijalankan.

“Selama kita merasa ide kita bagus, mau sampai di manapun kita siap diuji. Kami yakin konsep Kukar Idaman Terbaik adalah salah satu yang terbaik untuk Kukar hari ini. Mari kita uji bersama,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: