Pos pengamanan perbatasan di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. (foto : Medcom.id)

TARAKAN.NIAGA.ASIA – Sejak hadirnya Bank Indonesia (BI) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) membuat ketersediaan rupiah di daerah perbatasan tercukupi. Bahkan berdampak terhadap peredaran uang mata asing Ringgit Malaysia, yang sempat bertahan hingga puluhan tahun untuk digunakan sebagai alat tukar masyarakat Indonesia di daerah tersebut kini menyisakan sekitar 20 persen.

Bank Indonesia (BI) Kaltara mencatat, hingga saat ini sudah sekitar 80 persen masyarakat di perbatasan sudah menggunakan rupiah. Daerah itu seperti di Kecamatan Sebatik, dan Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan dan daerah lainnnya yang sekarang beralih menggunakan rupiah.

“Rupiah sudah banyak beredar di Sebatik, dan Krayan. Hal ini berdasarkan hasil survey kami tahun lalu. Tahun ini kita akan survey lagi bersama UBT (Universitas Borneo Tarakan) karena belum sampai 100 persen,” ujar Kepala Perwakilan BI Kaltara, Hendik Sudaryanto, saat menggelar jumpa wartawan sembari buka puasa bersama, Kamis (16/5/2019).

Penekanan penggunan rupiah bagi masyarakat Indonesia di perbatasan, telah dilakukan BI melalui beberapa cara. Diantaranya menyuplai mata uang rupiah ke daerah tersebut dalam jumlah yang cukup besar. Selanjutnya, membuat sarana dan prasarana untuk kehadiran rupiah guna memenuhi kebutuhan masyarakat agar dapat meninggalkan mata uang ringgit secara perlahan.

Tak hanya itu, BI juga terus menggalakkan sosialisasi rupiah kepada masyarakat akan pentingnya penekanan rupiah di daerah. “Di perbatasan kami juga melayani penukaran uang mata asing ke rupiah, yang tidak harus dilakukan oleh lembaga seperti umumnya. Tetapi di perbatasan kami bolehkan dibentuk oleh perorangan melalui perkumpulan atau yang tergabung dalam Paguyuban. Saat ini sudah ada 48 perorangan yang kami bina dan sudah mendapat izin,” jelasnya. (003)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *