Biaya Pengobatan Campak dan Rubella Mencapai Ratusan Juta

aa
dr. Hj Rini Retno Sukesi, M.Kes

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, dr. Hj. Rini Retno Sukesi M.Kes mengungkapkan, kerugian ekonomi akibat Campak dan Rubella selain anak menjadi cacat permanen, sangat besar. Untuk pengobatan Campak tanpa komplikasi Rp1.680.000 per kasus. Untuk pengobatan penderita Campak dengan radang paru Rp12.890.700 per kasus. Jika penderita Campak mendapat komplikasi radang otak biaya pengobatannya Rp11.719.300 per kasus. Biaya pengobatan itu tidak termasuk biaya di luar biaya hidup yang dibutuhkan saat penderita dirawat.

Hal itu diungkap  Rini dalam jumpa pers bersama dengan  Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), DR. Makmun Syar’i, M.Hi, di Samarinda, Sabtu (1/9).

Ketua Komisi Fatwa MUI Kaltim: Imunisasi MR Mubah dan Bersifat Harus

Penyakit Campak dan Rubella Berdampak Cacat Permanen pada Anak

Turut hadir dalam jumpa pers tersebut Kepala Dinas Kominfo Kaltim, Diddy Rusdiansyah Anandani, SE, MM, Drs. Samudi, Kabid Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Kementerian  Agama Kaltim, Kris Suhariyatno, Kasi Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Dokter Spesialis Anak, Sukartini, dr Franky (Perwakilan Unicef-United Nations Children’s), dan dokter dari perwakilan WHO (World Health Organization).

Kasus Campak dan Rubella di Kaltim.

                Menurut Rini, kasus suspect  Campak di Kaltim antara tahun 2016-2018 atau dalam tiga tahun terakhir tercatat 1.990 kasus. Dari 491 spesimen yang diperiksa, sebanyak 69 kasus positif dan 400 kasus negatif, kemudian 22 kasus tidak jelas. Urutan temuan positif Campak adalah; tahun 2016 sebanyak 21 kasus, tahun 2017 (34), dan tahun 2018 hingga bulan Juli sebanyak 14 kasus.

Kemudian, kasus supect Rubella di Kaltim antara tahun 2016-2018 atau dalam tiga tahun terakhir darai 491 spesimen yang diperiksa ditemukan 192 kasus positif Rubella, 181 kasus negatif, dan 52 kasus tidak jelas. Rincian temuan postif Rubella pada tahun 2016 tercatat  37 kasus, tahun 2017 sebanyak 148 kasus, dan tahun 2018 hingga Juli 2018 sebanyak 7 kasus.

Rini menjelaskan, pembiayaan minimal yang dibutuhkan untuk pengobatan seorang anak dengan sindrom kongenital  Rubella/CRS (berdasarkan tarif BPJS) adalah Rp395 juta per orang untuk penanaman koklear di telinga, operasi jantung dan mata. Namun setelah itu, tetap dibutuhkan biaya untuk perawatan cacat seumur hidup.

“Di samping itu ada lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga seperti biaya hidup selama perawatan (transport, makan, menginal, dan lainnya). Belum lagi kerugian yang ditimbulkan karena tidak bekerja. Dan yang paling memprihatinkan adalah cacat seumur hidup pada penderita Sindrom Rubella Kongenital yang menjadi beban orang tua, bangsa, dan negara,” paparnya.

Berdasarkan catatan Yn,  seorang Ibu dari anak penderita CRS, biaya yang dikeluarkan untuk perawatan sampai anaknya berusia 8 tahun mencapai Rp619 juta, termasuk biaya untuk pemasangan implant kolear Rp370 juta, operasi katarak Rp22 juta, terapi bicara menghabiskan Rp74 juta. Sedangkan ibu lainnya GM mencatat biaya yang sudah dikeluarkan untuk alat bantu/penunjang  anaknya yang CRS mencapai Rp327 juta, biaya cek kesehatan Rp34 juta dan biaya rehabilitasi Rp2,6 juta per bulan.

Di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda sudah ada organisasi yang mewadahi orang tua yang anaknya cacat permanen akibat Campak dan Rubella. Jumlah yang dicatat organisasi tersebut ada anak sebanyak 120 orang di Samarinda, Sangasanga, dan Tenggarong yang cacat permanen akibat Campak dan Rubella.

Mengutip hasil studi cost benefit analisys yang dilakukan Prof Soewarta Kosen (Litbangkes:2015), Rini mengatakan, bahwa kerugian makro ekonomi CRS adalah Rp1,09 triliun. Cost per Daly imunisasi MR dibandingkan dengan tidak imunisasi sebesar Rp26.598.238,oo jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk imunisasi hanya sebesar Rp29.000 per anak.

Optimisme imunisasi mencapai target

Pada bagian lain Rini mengatakan bahwa, optimis target imunisasi Measles Rubella (MR) Campak dan Rubella 2018 bisa tercapai sesuai target yakni 95 persen sebab, dalam pelaksanaan di bulan Agustus sudah dilakukan 30 persen, sehingga tinggal tersisa 65 persen dari 1.004.000 anak di Kaltim yang perlu diimunisasi pada bulan September 2018.

Dasar optimismenya itu adalah, imunisasi dilaksanakan secara massal di sekolah-sekolah, mulai tingkatan PAUD, SD, dan SMP, sehingga bisa mengimunisasi anak dalam jumlah banyak dalam sehari kegiatan. “Kita optimis masih bisa mencapai target,” ujarnya.

Rini mengungkapkan, imunisasi MR sangat penting dilaksanakan. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tahun 2015 Indonesia termasuk ke dalam 10 negara dengan jumlah kasus Campak terbesar di dunia. Indonesia berkomitmen untuk mencapai eliminasi penyakit campak dan pengendalian penyakit Rubella/CRS pada tahun 2020.

Dijelaskan pula, komplikasi dari Campak yang dapat menyebabkan kematian adalah radang paru dan otak. Sekitar 1 dari 20 penderita Campak mengalami radang paru dan 1 dari 1000 penderita Campak akan mengalami komplikasi radang otak. Lainnya adalah1 dari 10 penderita infeksi telinga akibat Campak berujung tuli, sedangkan yang terkena diare dan harus dirawat di rumah sakit 1 berbanding 10. “Diperkirakan dalam 5 tahun terakhir ada 2.853 orang mempunyai komplikasi radang paru, 5.706 dengan komplikasi diare dan infeksi telinga serta 571 orang dengan radang otak,” ungkap Rini.

Mengutip hasil pemantauan kasus CRS di 12 rumah sakit Tipe A, menurut Rini ditemukan suspek CRS sebnayk 389 pada tahun 2012-2014, sementara pada tahun 2015 sebanyak 298 kasus, tahun 2016 (336), tahun 2017  (532, dan 105 kasus sejak Januari-Juli 2018, sehingga totalnya dalam 5 tahun terakhir 1.660 kasus. “Jumlah yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi, ini kayak fenomena “gunung es”,” tambahnya.

Jumlah kasus Campak dan Rubella dan kematian dalam 5 tahun terakhir di Indonesia 57.056 kasus (8.964 positif Campak, 5.737 positif Rubella) dengan kematian  22. Rinciannya  adalah:

-Tahun 2014; jumlah kasus suspek 12.943 dengan 15 kematian (2.241 positif Campak, 906 positif Rubella)

– Tahun 2015; jumlah kasus suspek 13.890  dengan 1 kematian (1.194 positif campak, 1.474 positif Rubella)

– Tahun 2016; jumlah kasus suspek 12.730 dengan 5 kematian (2.949 positif Campak, 1.341 positif Rubella)

– Tahun 2017; jumlah kasus suspek 15.104 dengan 1 kematian (2.197 positif Campak, 1.284 positif Rubella)

– Tahun 2018 (s/d Juli); jumlah kasus suspek 2.389 (383 positif Campak, 732 positif Rubella). (001)