
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Pukul 03.00 dini hari di Wisma Atlet Dispora Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), suasana yang semula sunyi dan sangat tenang mendadak berubah mencekam. Dentuman petasan pun memecah keheningan, asap mengepul di depan pintu kamar para peserta ‘Bintang Pengabdian’.
Muhammad Aidil Ilham, salah satu peserta berusia 18 tahun ini, sontak terbangun dari tidurnya. Dalam kondisi panik, ia sempat mengira kebakaran sedang terjadi.
“Saya kaget kirain ada kebakaran, banyak asap, ya saya reflek lari putar balik ke dalam, ke belakang. Baru ditegur pelatih, nggak usah pakai baju langsung keluar. Saya kira ada masalah apa lagi, sudah tenang-tenangnya tidur malam, eh malah dibangunin dengan petasan,” kenangnya sambil tersenyum kecil.
Alih-alih kobaran api, yang menanti Aidil dan ratusan peserta lainnya justru latihan disiplin khas militer berupa jongkok, push up, dan sikap tubuh yang menguji fisik serta mental. Subuh itu menjadi pengalaman yang paling membekas bagi para peserta Bimbingan dan Latihan (Binlat) Dispora Kukar angkatan ke-7.
Remaja kelahiran 31 Desember 2007 ini adalah siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah di Kecamatan Muara Muntai. Anak kedua dari empat bersaudara ini tumbuh dari keluarga sederhana. Sang ibu adalah ibu rumah tangga, sementara ayahnya bekerja sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

Meski berasal dari latar belakang biasa, mimpi Aidil tidak sederhana. Ia punya mimpi tinggi menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang gagah perkasa.
“Sejak kecil saya memang bercita-cita jadi pasukan angkatan darat. Kalau lihat pasukan khusus itu rasanya keren dan gagah perkasa,” ujarnya mantap.
Kesempatan mengikuti Binlat Dispora menjadi titik penting dalam perjalanannya. Informasi kegiatan ini ia dapatkan dari teman-teman tongkrongannya yang tergabung dalam grup bernama ‘Wadah Kai’, sebuah kelompok kecil berisi sekitar 10 anak muda di kampungnya.
“Dari 10 itu, yang ikut cuma tiga orang. Tiga-tiganya mau jadi abdi negara. Saya TNI AD, dua teman saya TNI AL,” bebernya.
Selama 10 hari pelatihan, dari 20 hingga 29 Januari, Aidil mengaku banyak mengalami perubahan besar, terutama soal disiplin. Jika sebelumnya ia bangun pagi pukul tujuh atau delapan, kini pukul empat subuh sudah harus siap.
Setiap hari dimulai dengan apel pagi pukul 05.30 Wita, dilanjutkan menyantap sarapan bergizi dengan menu seimbang karbohidrat dan protein. Setelah itu, peserta kembali apel lagi, bersih-bersih, lalu mengikuti pelajaran hingga sore hari sebelum kembali ke wisma atlet sekitar pukul 16.00 Wita.

Materi yang diberikan pun lengkap, mulai dari akademik, biologi, hingga latihan fisik intensif. Salah satu yang paling berat adalah lari tujuh putaran dalam waktu 12 menit, disusul pull up, sit up, push up, dan shuttle run.
“Pelatihnya baik, tapi juga ada galaknya,” kata Aidil.
Kegalakan itu, menurutnya, muncul saat peserta tidak disiplin. Ia pernah dua kali merasakan hukuman ‘sikap tobat’, posisi kepala sejajar kaki dalam waktu beberapa menit.
“Kalau satu orang buat salah, semua kena. Jiwa korsa,” ucapnya.
Bahkan pernah ia menjalani push up dengan tangan dikepal di atas aspal berbatu selama lima menit. Bekas lukanya masih terlihat jelas di tangannya.
“Jadi ini ada luka-lukanya masih,” tuturnya.
Kendati begitu, dari sekian banyaknya pelatih, ia mengaku bahwa sosok Ahmad Sholeh yang mendapat gelar ‘Pelatih Tergalak’ merupakan favoritnya. Alasannya sederhana, wajah sang pelatih mengingatkannya pada sang paman di rumah.
“Pelatih favorit saya itu Pak Soleh, karena beliau mirip seperti om saya,” tambahnya.

Di balik kerasnya latihan, kerinduan pada keluarga tercinta juga tak terelakkan. Pada hari kelima menjalani Binlat, Aidil mengaku mulai merasakan rindu rumah. Saat video call dengan ibunya, perasaan itu semakin kuat.
“Saat hari pertama masih enjoy aja, enggak ada masalah. Pas ibu saya video call, saya malah lupa letak-letaknya di rumah saya itu. Kayak ada yang berubah rumah saya,” katanya sambil tertawa kecil.
Penggunaan telepon genggam pun diakui oleh Aidil, dibatasi oleh para pelatih. Handphone hanya boleh dipegang pada waktu tertentu. Awalnya terasa kesal, namun perlahan ia menyadari manfaatnya.
“Pas dibatasin itu agak kesal-kesal juga dan bikin cepat ngantuk. Soalnya enggak biasa enggak pegang HP. Biar fokus juga,” imbuhnya.
Berakhirnya Binlat Bintang Pengabdian ini, ia mengaku semakin yakin menghadapi tes TNI AD ke depan. Menurut Aidil, kegiatan yang diikutinya selama beberapa hari ini bukan sekadar latihan fisik, tapi juga pembentukan mental dan karakter.
“Saya merasa sangat beruntung bisa ikut. Dengan adanya Binlat ini, saya lebih siap untuk mengikuti tes yang akan datang,” tegasnya.
Ia pun berharap program Binlat Dispora Kukar ke depannya bisa diperpanjang durasinya dan diperbanyak kuotanya.
“Supaya lebih banyak lagi anak-anak muda di Kukar bisa ikut. Kegiatan ini sangat berguna untuk meraih cita-cita,” tutup Aidil, dengan mata yang menyimpan keyakinan seorang calon prajurit.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: BinlatDispora Kukar