Bocah di Nunukan Gemar Mencuri Pernah Dapat Diversi Tahun 2021

Ilustrasi

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Seorang anak usia 13 tahun di Nunukan yang gemar mencuri uang di rumah dan warung milik warga dan tertangkap lagi dalam kasus yang sama tanggal 9 dan 10 Juni lalu, sebenarnya baru bulan Desember 2021 menyelesaikan masa diversi hukumannya dari kasus pencurian yang sama, dan menjalani rehabilitasi. Pengertian diversi adalah penyelesaian perkaranya di luar pengadilan.

Kapolres Nunukan AKBP Ricky Hadiyanto melalui Kasi Humas Polres Nunukan Iptu Supriadi menuturkan, pelaku anak bawah umur yang memiliki kebiasan mencuri barang dan uang milik orang lain itu pernah mendapat pembinaan oleh Dinas Sosial Nunukan dan dokter psikolog.

“Tahun 2020 pelaku anak ini pernah dititipkan ke Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Bambu Apus Jakarta, namun pembinaan gagal karena perilaku anak tidak berubah,” kata Supriadi kepada niaga.asia, Senin (13/6).

Gagal menjalani pembinaan di PSBR, Pemkab Nunukan kembali berupaya menitipkan anak itu di sekolah perbatasan di Pulau Sebatik. Namun demikian lagi-lagi pihak sekolah tidak mampu membina dan anak itu dikembalikan ke orangtuanya.

Anak bersangkutan itu sendiri memiliki orangtua perempuan yang sehari-hari bekerja serabutan. Dengan alasan tidak mampu menjaga dan merawat anaknya, orangtuanya membiarkan perilaku anaknya dan seakan tidak terlalu peduli dengan kehidupan putranya.

“Kami polisi jadi serba salah. Dikembalikan ke orangtuanya tapi ibunya lepas tangan tidak mau urus. Di lain sisi polisi ingin korban tidak menjalani pidana penjara,” sebutnya.

Sebelum tertangkap mencuri uang Rp 45 Juta di sebuah warung dan rumah warga tanggal 9 dan 10 Juni 2022, pelaku anak itu pernah diamankan polisi atas perkara pencurian uang jutaan rupiah tahun 2021 yang kasusnya juga berakhir dengan diversi.

Penyelesaian diversi ditempuh atas pertimbangan musyawarah mencapai keadilan bagi korban anak. Penyelesaian perkara anak mengutamakan keadilan restoratif dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil.

“Pengadilan Negeri Nunukan pernah menetapkan diversi kasus pencurian anak ini dengan Nomor 6 tanggal 13 Desember 2021,” sebutnya.

Tindak kejahatan pelaku anak itu tidak sebatas kasus pencurian. Belakangan polisi menemukan adanya dugaan penggunaan narkotika yang mungkin didapatkannya dari pergaulan bersama orang-orang dewasa.

Meski masih tergolong anak-anak, anak itu memiliki gaya berpikir dan nalar yang jauh di atas usianya. Sebab, selama menjalani pemeriksaan di polisi, pelaku anak itu tidak pernah mengaku mencuri ataupun menggunakan narkotika.

“Kalau ditanya soal pencurian selalu membantah pernah nyuruh. Dia selalu tanya mana buktinya, apakah ada bukti CCTV atau mana bukti saya pakai narkoba,” tuturnya.

Gaya pemikiran yang selalu membantah ketika ditanya berbuat jahat menandakan bahwa anak bersangkutan memiliki pengalaman dalam melindungi dirinya. Hal ini jarang ditemukan pada anak-anak yang polos menjawab apa adanya ketika berbuat salah.

Pola berpikir anak itu cenderung dipengaruhi oleh kejiwaan. Entah mungkin dikarenakan pengaruh rusaknya otak karena penggunaan narkotika atau ada hal lain yang membuat dirinya merasa tidak bersalah dan tidak peduli.

“Menyembuhkan pola pikir pelaku anak ini tidak cukup dengan menempatkan dirinya di sekolah atau panti, dia perlu rehabilitasi narkotika agar bisa pulih dari narkotika,” terangnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: