
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Bupati Aulia Rahman Basri angkat bicara terkait cuplikan video yang memperlihatkan dirinya sangat emosional saat menyoroti persoalan jalan rusak di wilayah Sebelimbingan dan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara (Kukar).
Dalam video berdurasi sekitar 54 detik yang beredar di media sosial, Aulia menceritakan pengalamannya ketika melintas di ruas jalan Sebelimbingan. Saat itu, kendaraan yang ia tumpangi bahkan sempat amblas dan nyangkut di badan jalan yang rusak.
“Kenapa saya agak emosional di situ, jelas-jelas mobil saya yang tinggi itu malah kandas, nyangkut, amblas. Apalagi oto-oto lain di hulu itu kan, pasti amblas. Ruas jalan ini kan harus kita tangani dengan cepat, kita bisa bergerak sebelum lebaran,” ungkapnya dalam video yang diunggah pada Selasa (3/3/2026).
Saat ditemui Niaga.Asia di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Rabu (4/3/2026), Aulia menegaskan bahwa kekesalan yang terlihat dalam video tersebut bukan tanpa alasan. Ia menyebut, anggaran untuk perbaikan jalan sebenarnya sudah tersedia, namun proses pelaksanaannya justru tersendat akibat persoalan administratif dan komunikasi antarperangkat daerah.
“Saya bilang begini, terkait masalah jalan di daerah ini, teman-teman ini rupanya banyak terperangkap di wilayah-wilayah administratif. Anggaran ada, masyarakat jelas amblas di situ, kenapa ini tidak dieksekusi,” jelasnya.
Setelah dilakukan penelusuran lebih jauh, ia menemukan bahwa hambatan utama bukan pada ketersediaan anggaran, melainkan proses administrasi dan koordinasi internal.
“Setelah kita cari tahu, rupanya administratif. Salah satunya proses komunikasi. Makanya kemarin kita duduk bersama, ada BLP, OPD teknis dan inspektorat. Kita urai masalahnya dan alhamdulillah ketemu. Insyaallah dalam waktu dekat lah ya,” terangnya.
Secara kebijakan kata dia, sebenarnya tidak ada persoalan. Sebab political will Pemerintah Daerah (Pemda) Kukar juga sudah sangat jelas, termasuk komitmen penganggarannya. Namun, ia menyayangkan pola kerja birokrasi yang masih terfragmentasi dan terjebak batas administratif.
Ia meminta seluruh perangkat daerah tidak lagi bekerja dalam sekat-sekat kewenangan sempit, apalagi jika berdampak langsung pada pelayanan publik.
“Good will-nya sudah ada. Kebijakannya sudah ada. Jangan sampai masyarakat jadi korban karena kita terjebak di administrasi,” katanya.
Untuk ruas Sebelimbingan kata dia, pihaknya melalui Dinas PU Kukar telah mengalokasikan Rp10 miliar untuk rigid beton dan Rp5 miliar untuk pemeliharaan. Total Rp15 miliar itu ditujukan agar jalan tetap bisa dilalui dengan aman, meski belum seluruhnya dibeton.
“Memang untuk menyelesaikan semua ruas butuh sekitar Rp130 miliar lagi. Maka strategi kita selain menyicil rigid, kita anggarkan juga pemeliharaannya Rp5 miliar. Harapannya, walaupun belum rigid, jangan sampai bolong-bolong,” harapnya.
Orang nomor satu di Kukar itu pun bahkan mengonsepkan sistem pemeliharaan dengan alat berat yang siaga di lokasi. Ketika hujan menyebabkan jalan rusak atau berlumpur, alat langsung diturunkan untuk meratakan kembali permukaan jalan.
Konsep serupa beber Bupati Aulia, juga akan diterapkan di sejumlah wilayah lain seperti Muara Wis, Kota Bangun Darat, hingga Sebulu. Seluruhnya, sudah memiliki alokasi anggaran sesuai dengan tingkat keparahan kerusakan yang dihitung oleh dinas teknis.
Aulia berharap persoalan administrasi yang telah diurai tidak lagi menjadi penghambat. Ia menargetkan dalam waktu dekat, terutama menjelang Lebaran, titik-titik kerusakan parah dapat segera ditangani.
“Minimal titik-titik yang bikin mobil nyangkut bisa kita bereskan. Jangan sampai warga masyarakat kita ketika lewat situ justru waswas atau malah celaka,” paparnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas PU Kukar Wiyono membenarkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran untuk penanganan jalan di wilayah Sebelimbingan pada tahun ini. Namun, ia mengakui bahwa dengan besaran anggaran yang tersedia, perbaikan fisik jalan belum dapat menjangkau ruas yang terlalu panjang.
“Duitnya tidak sebanding, tidak sampai berkilo-kilo,” ujarnya singkat.
Untuk tahun ini anggaran yang digelontorkan di wilayah Sebelimbingan mencapai sekitar Rp15 miliar. Rinciannya, Rp10 miliar untuk pembangunan fisik berupa rigid beton dan Rp5 miliar untuk pemeliharaan jalan.
“Fisik di Sebelimbingan itu sekitar Rp10 miliar, kemudian pemeliharaannya Rp5 miliar. Jadi sekitar Rp15 miliar,” tuturnya.
Saat ditanya mengenai anggaran perbaikan jalan di wilayah Kota Bangun Darat, Wiyono memastikan bahwa penanganan juga sama, dilakukan pada tahun ini, meskipun ia belum merinci besaran anggarannya saat itu.
“Iya tahun ini juga,” singkatnya.
Penjelasan lebih rinci disampaikan Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kukar Linda Juniarti pada Niaga.Asia, Kamis (5/3/2026). Ia menyebutkan bahwa untuk ruas jalan di Sebelimbingan, pembangunan rigid beton dengan anggaran Rp10 miliar diperkirakan memiliki panjang sekitar 800 meter.
Selanjutnya, anggaran pemeliharaan sebesar Rp5 miliar akan digunakan untuk menangani ruas jalan tanah sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer.
“Di Sebelimbingan itu kita anggarkan Rp10 miliar untuk rigid beton dengan panjang kurang lebih 800 meter. Sementara untuk pemeliharaannya Rp5 miliar dengan panjang kurang lebih 1,5 kilometer,” bebernya.
Ia juga menjelaskan, bahwa untuk pekerjaan pemeliharaan, titik perbaikan tidak ditentukan secara kaku sejak awal. Hal itu karena kondisi jalan yang masih berupa tanah dan kerusakannya tersebar di sejumlah titik.
“Untuk pemeliharaan itu tidak bisa kita pastikan titiknya, karena kerusakannya sepanjang ruas. Nanti dipilih pada saat dikerjakan yang mana yang rusaknya paling parah,” tambahnya.
Adapun untuk penanganan jalan di wilayah Kota Bangun Darat, Linda menyebut bahwa konsep anggarannya kurang lebih sama seperti di Sebelimbingan, yakni kombinasi pembangunan rigid beton dan pemeliharaan.
Namun demikian, panjang pasti ruas jalan yang akan ditangani masih menunggu penyusunan dokumen perencanaan teknis.
“Kalau untuk Kota Bangun Darat konsepnya sama. Tapi untuk panjangnya belum dibuat HPS-nya,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Infrastruktur