
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Meski dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kecamatan Tabang rupanya masih menghadapi persoalan listrik yang belum stabil.
Ironisnya, wilayah yang selama ini menopang pasokan energi itu dilaporkan masih kerap mengalami byarpet atau pemadaman bergilir. Kondisi tersebut pun menjadi perhatian serius Bupati Aulia Rahman Basri, yang mendorong adanya solusi konkret agar layanan listrik di Tabang bisa lebih andal dan merata.
Dibeberkan Aulia, persoalan kelistrikan di Tabang menjadi salah satu agenda utama dirinya saat audiensi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada Senin kemarin (2/3/2026).
“Saya kan dari Tabang kemarin. Di sana itu, dilaporkan masih sering byarpet. Makanya kita tanyakan ke PLN, kenapa di Kecamatan Tabang, daerah terujung itu masih byarpet. Kita ingin memastikan cakupan layanan PLN di sana stabil, dan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, kondisi ini menjadi ironi karena Tabang adalah wilayah penghasil batu bara dalam jumlah besar. Bahkan kata Bupati Aulia, sejumlah perusahaan besar seperti PT. Bayan Resources Tbk beroperasi di kawasan ini dan menyuplai kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Tabang ini kan penghasil batu bara terbesar, ada perusahaan besar di sana. Mereka itu mencukupi kebutuhan PLTU. Kenapa daerah penghasil batu bara malah byarpet,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar pun mengusulkan agar pembangunan PLTU mulut tambang bisa dilakukan di Kecamatan Tabang. Konsep ini memungkinkan pembangkit dibangun dekat dengan lokasi tambang, sehingga batu bara tidak perlu diangkut keluar daerah dalam jumlah besar.
“Jadi kita bangun PLTU-nya di depan tambang. Ada beberapa keuntungannya. Pertama, batu baranya tidak perlu dibawa keluar,” jelasnya.
Skema tersebut juga dinilai Bupati Aulia, bisa mengurangi distribusi batu bara melalui jalur sungai, termasuk di Sungai Mahakam, yang selama ini kerap disorot karena isu lingkungan dan ekologi.
“Kalau PLTU-nya di mulut tambang sana, yang keluar dalam bentuk listrik. Batu baranya tidak lewat sungai lagi,” katanya.
Meski demikian, Aulia menegaskan bahwa rencana pembangunan PLTU tersebut masih dalam tahap pembicaraan awal. Pemerintah daerah akan menindaklanjuti hasil audiensi dengan menyurati direksi pusat Perusahaan Listrik Negara guna membahas lebih lanjut kemungkinan realisasinya.
“Iya, benar. Masih pembicaraan-pembicaraan. Insyaallah kami akan bersurat ke direktur PLN untuk melakukan audiensi lanjutan,” terangnya.
Harapannya, langkah tersebut dapat menjadi solusi konkret agar masyarakat di Kecamatan Tabang tidak perlu lagi mengalami byarpet, sekaligus memastikan daerah penghasil energi benar-benar merasakan manfaat kelistrikan yang stabil dan memadai.
“Sekarang ini, yang penting adalah apa yang dibutuhkan masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Listrik