Pemerintah Kabupaten Nunukan membagikan bantuan berupa sembako  kepada buruh dan pedagang asongan yang berjualan di sekitar Pelabuhan Tunon. (Foto Istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA- Pemerintah Kabupaten Nunukan membagikan bantuan berupa sembako  kepada buruh dan pedagang asongan yang berjualan di sekitar Pelabuhan Tunon Taka. Sebelumnya, Pemerinta juga telah menyalurkan bantuan program jaring pengaman sosial tahap I dan menyusul tahap II berupa voucher belanja senilai Rp600 ribu per kepala keluarga (KK).

Bantuan diberikan kepada 428 Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) unit cargo dan batubara pelabuhan Tunon Taka dan kepada 28 pedagang asongan dalam bentuk sembako beras 5 kilogram.

Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura dalam intruksinya mengatakan, buruh dan pedagang asongan di pelabuhan adalah salah satu komponen masyarakat yang merasakan dampak merosotnya pendapatan ekonomi selama penyebaran wabah Covid-19

“Pembatasan aktivitas diliuar rumah tentu mengurangi jam kerja dan pendapatan buruh ataupun pedagang asongan, karena itulah pemerintah peduli dan hadir memberikan bantuan,” katanya.

Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura (Budi Anshori/Niaga.Asia)

Meskipun nilai bantuan  tidak seberapa, Bupati Laura berharap bantuan itu bisa sedikit meringankan beban para buruh dan pedagang asongan. Situasi seperti ini memang tidak mudah, tetapi  semua harus sabar dan kuat menghadapinya. Pemerintah akan berupa memberikan bantuan kepada masyarakat, terutama yang paling terdampak baik dalam program jaring pengaman sosial ataupun bantuan lainnya.

“Bantuan voucher belanja senilai Rp600 ribu masuk tahap II, sebagian bantuan ke mahasiswa di laur daerah sudah tersalurkan. Intinya, Sebisa mungkin sesuai kemampuan yang kita miliki,” kata Laura.

Dikatakan Bupati, para buruh dan pedagang asongan di pelabuhan merupakan pihak yang paling merasakan dampak penyebaran Covid-19. Pembatasan angkutan laut di dalam negeri dan kebijakan lockdown oleh Pemerintah Malaysia membuat aktivitas di pelabuhan nyaris lumpuh.

Aktivitas keberangkatan kapal internasional rute Nunukan – Tawau dan sebaliknya dihentikan sejak hampir 2 bulan bersamaan penerapan lockdown di Malaysia. Begitu pula kapal penumpang dalam negeri baik laut dan sungai stop sejak 26 April hingga 07 Mei 2020

“Minimnya jumlah kapal melakukan bongkar muat di pelabuhan Tunon Taka secara otomatis membuat penghasilan para buruh semakin tidak pasti,” bebernya.

Dalam kondisi normal sebelum Covid-19, para pekerja lepas atau buruh bisanya mendapatkan penghasilan setiap harinya dari upah jasa bongkar muat barang dari kapal Pelni, kapal cargo, batu bara, atau barang-barang penumpang di kapal Tawau – Nunukan.

Selama pendemi, penghadilan mereka jauh merosot, karena belum tentu dalam satu minggu ada yang menggunakan jasa mereka. Begitu pula nasib pedagang asongan yang bisanya mendulang penhasilan ebsar disaat kedatangan kapal Pelni dan kapal Tawau- Nunukan.

“Saya minta dalam situasi seperti ini semua pihak harus saling bergandengan tangan, saling menguatkan, seraya terus berdoa semoga wabah ini bisa segera berakhir,” ungkap Bupati .(advetorial)

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *