Ekspor minyak dan gas tidak jadi penentu lagi dalam perekonomian Kaltim.

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Pandemi COVID-19 di Kalimantan Timur (Kaltim) yang ditemukan di Kaltim tanggal 18 Maret 2020 sempat membuat ekonomi Kaltim “shock” di Triwulan II (April sampai Juni 2020), bahkan hingga minus, tapi berangsur membaik di Triwulan III (Juli – September) 2020, dimana menurut Badan Pusat Statitik (BPS) Kaltim tumbuh positif  2,39 persen dibandingka Triwulan II-2020.

Dalam masa pandemi tersebut, pada Triwulan III-2020, BPS Kaltim merilis sejumlah catatan ekonomi yang terjadi di Kaltim, mulai peristian ekonomi di sektor pertanian hingga yang ekstratif, seperti migas dan batubara.

“Pada kategori pertanian, terjadi empat fenomena,” kata Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwitjahyono dalam rilisnya yang disampaikan secara virtual, Kamis (05/11/2020).

Empat fenomena tersebut, kata Dwi, Pertama; produksi padi sepanjang Januari-September 2020 turun 1,98 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Kedua; puncak panen tanaman padi di Kaltim terjadi bulan Agustus-September 2020 lalu,” terangnya.

Ketiga; pada subkategori perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit, masih dipengaruhi peristiwa el nino tahun 2019 yang menyebabkan produktivitas kelapa sawit rendah.

Produktivitas perkebunan kelapa sawit belum pulih setelah terdampak el nino tahun 2019.

“Keempat; harga komoditas tanda buah segar (TBS) kelapa sawit di Triwulan III mengalami peningkatan dibandingkan Triwulan II-2020, termasuk dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Dwi.

Menurut Dwi, pada Triwulan III-2020 harga komoditas CPO (Crude Oil Palm) mengalami kenaikan dibandingkan Triwulan II-2020 maupun dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Penurunan produksi CPO Kaltim diakibatkan tidak tersedianya bahan baku kepala sawit karena terdampak el nino tahun lalu,” ucapnya.

Pertambangan

Menurut Dwi, pada sektor pertambangan dan penggalian, pada Triwulan III, BPS juga mencatat fenomena berupa penurunan harga minyak dunia sejak awal tahun 2020.

Harga komoditas pertambangan nonmigas, seperti  harga batubara acuan (HBA) pada Triwulan III-2020 menunjukkan penurunan baik dibandingkan triwulan sebelumnya maupun dibandingkan perioe yang sama tahun lalu.

Komoditi pertambangan berupa batubara  jadi kunci ekonomi Kaltim, tapi terdampak menunrunnya permintaan di negara tujuan ekspor selama pandemi Covi-19. (Foto HO/Net)

“Nilai ekspor nonmigas periode Januari-September 2020 mengalami penurunan sebesar 20,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 dengan nilai ekspor hasil tambang turun 25,15 persen.

“Masih terjadi penurunan permintaan hasil pertambangan di negara tujuan ekspor,” papar Dwi.

Untuk kategori industri pengolahan, lanjut Dwi, BPS mencatat volume impor minyak mentah pada Triwulan III-2020 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kemudian produksi di kilang minyak Pertamina Balikpapan pada kuartal III-2020 sudah meningkatkan, setelah pada kuartal II-2020 terjadi penghentian sementara produksi.

Pariwisata

Pada sektor pariwisata, BPS Kaltim mencatat, pada Triwulan III-2020 wisatawan mancanegara yang datang ke Kaltim menurun hingga 94,44 persen dibandingkan Triwulan II-2020.

Meski demikian, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang mulai mengalami peningkatan di Triwulan III-2020 dibandingkan triwulan sebelumnya.

Jumlah penumpang angkutan udara domestik  selama periode Januari-September 2020 mengalami penurunan 52,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Tapi jika dibandingkan Triwulan II-2020 pada Triwulan III terjadi peningkatan jumlah penumpang angkutan udara domestik.

Efek dari pandemi COVID-19, pada Triwulan III-2020 masih berlangsung peningkatan traffic data internet jika dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Aktivitas belajar berbasis daring, layanan bekerja seperti meeting berbasis daring, dan layanan hiburan berbasis streaming masih aktif digunakan selama masa pandemi,” kata Dwi.

Perekonimian Kaltim juga terbantu dengan adanya pencairan gaji ke-13 PNS pada bulan Agustus 2020 menyebabkan peningkatan belanja pemerintah di Triwulan III-2020.

Gaji ke-13 PNS yang dibayarkan pemerintahan di Kaltim di bulan Agustus 2020, cukup menguatkan daya beli.  (Foto : HO/Net)

Dwi juga mengatakan, BPS mencatat pada periode Juli-September 2020 terjadi deflasi sebesar -0,51 persen jika dibandinkan periode April-Juni 2020, sedangkan dibandingkan periode yang sama tahun 2019 terjadi inflasi sebesar 0,61 persen.

Ekspor-Impor

BPS Kaltim juga mencatat nilai ekspor Kaltim pada Juli-September 2020 (angka sementara) mencapai 2,7 miliar US$, turun dibandingkan April-Juni 2020.

Nilai ekspor non migas Triwulan III-2020 mencapai 2,50 miliar US$, trun jika dibandingkan Triwulan II-2020 yakni sebesar 2,96 miliar US$.

“Ekspor non migas Kaltim didominasi hasil pertambangan,” kata Dwi.

Kemudian batubara Kaltim untuk pemenuhan kebutuhan domestik (DMO) yang ditetapkan pemerintah sebesar 25 persen, realisasinya sampai Triwulan III-2020 sudah mencapai 27 persen.

Nilai impor Kaltim pada Triwulan III-2020 (angka sementara), dicatat BPS mencapai 366,52 juta US$, meningkat dibandingkan Triwulan II yang hanya sebesar 269,37 juta US$.

“Impor Kaltim didominasi oleh hasil industri berupa mesin dan alat berat dan migas (minyak mentah dan hasil minyak,” ujar Dwi.

Sedangkan nilai impor migas yang masuk ke Kaltim pada Triwulan III-2020 mencapai 164,18 juta US$, meningkatkan dibandingkan triwulan, namun menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2019. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *