Ketua DPRD Nunukan, Hj Leppa bersama anggota dan Direktur RSDU Nunukan, dr. Dulman di depan bangunan yang dipakai sebagai  ruang isolasi RSUD Nunukan (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA. Ketua DPRD Nunukan, Hj Rahma Leppa bersama perwakilan fraksi-fraksi  mengunjungi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan dan mengecek fasilitas dan ketersedian peralatan di ruang isolasi pasien Virus Corona (Covid-19), Sabtu (11/04).

“Bersama saya juga ikut Pak H. Danni Iskandar, H. Andi Mutamir. Andi Krislina, Ahmad Triady, Hj. Nikmah, Inah Anggraini dan Lewi,” kata Hj Leppa, begitu Rahma Leppa biasa dipanggil sehari-hari.

Menurut Leppa, wabah virus corona membuat kepanikan di masyarakat, rasa ketakutan terhadap virus sangat wajar, terutama bagi masyarakat lanjut usia yang kekebalan dan daya tahan tubuhnya sudah lemah.

“Umur saya 65 tahun, tapi alhamdulilah sehat dan semoga terus sehat tidak tertular virus corona, ucapnya.

Disela-sela kunjungannya, Leppa mengaku, siap berkomunikasi dengan pemerintah daerah dan istansi lainnya membahas usulan pergeresan anggaran untuk memenuhi  kebutuhan penanganan Covid-19 di Kabupaten Nunukan.

Fraksi-fraksi DPRD Nunukan juga bersedia, bahkan mempersilahkan pergeseran anggaran untuk  belanja Alat Pelindung Diri (APD) atau untuk kelengkapan lainnya, termasuk penanganan dampak sosial dan ekonomi.

“Silahkan Pemkab Nunukan usulkan atau DPRD punya niat menggeser anggaran, kita bahas bersama, kalau memungkinan dan bisa digeser, silahkan anggarkan,” tuturnya.

Ia menambahkan, selama ada aturan dan pergeseran dibenarkan oleh hukum, Pemkab Nunukan tidak perlu ragu membuat usulan, terutama terhadap anggaran tidak terpakai dan anggaran proyek fisik Dana Alokasi Khusus (DAK).

Sejauh ini, lanjut Leppa, DPRD kompak dan selalu selaras dalam penyampaikan suara, hanya saja, ada waktu kapan harus dilakukan dan kapan harus dibahas bersama, selama itu memungkinkan untuk dilaksanakan, kenapaa tidak segera dilaksanakan.

“Dewan tidak bisa melarang pemerintah menggeser anggaran selama ada aturan, apalagi ini berkaitan dengan penanganan Covid-19,” ucap Leppa.

Ruang isolasi perlu ditambah

Sementara itu, Direktur RSUD Nunukam dr. Dulman mengatakan, pelayanan pasien Covid-19 Nunukan masih mengandalkan satu ruang isolasi yang daya tampung 11 tempat tidur atau untuk 14 orang ditambah 1 bangunan renovasi yang nantinya akan difungsikan juga untuk isolasi.

“Bangunan isolasi cuma untuk 14 bed pasien, makanya kami renovasi 1 ruang bertingkat 2 untuk tambah ruang isolasi,” sebutnya.

Dulman menerangkan, penambahan ruang isolasi dengan memanfaatkan bangunan Poliklinik yang biasanya digunakan untuk pemeriksaan kesehatan tenaga kerja Indonesia (TKI). Gedung bertingkat dua tersebut kiranya mampu menampung 30 bed  ditambah ruang-ruang lainnya.

Jika wabah semakin meluas dan pasien Covid-19 semakin bertambah, RSUD Nunukan juga telah mempersiapkan satu bangunan tambahan yaitu Puskesmas Desa Binusan, disana bisa menampung 30 bed pasien.

“Ada 70 bed bisa kita siapkan menampung pasien Covid, sekarang tinggal dukungan APD dan peralatan lainnya,” ungkapnya. (adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *