
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Di tengah persaingan ketat penjualan kerajinan tangan, salah satu toko pengrajin rotan di Jalan Tarmidi Samarinda, tetap eksis berjualan hingga 35 tahun ini.
Siang ini tadi, keramaian kendaraan terlihat silih berganti melintasi Jalan Tarmidi, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Pemandangan hasil kerajinan rotan kering yang berjejeran rapi dari sebuah toko sederhana, menarik perhatian setiap masyarakat yang melintas di kawasan itu.
Daerah Tarmidi Samarinda memang dikenal sebagai agen pusat penjualan kerajinan rotan sejak dulu. Di sana pemandangan tumpukan kursi rotan anak-anak, tikar hingga anyaman yang menawan tertata rapi, mengundang perhatian siapa saja yang melintas di situ.
Sudut mata tertuju pada satu toko yang tengah melayani pembeli, di antara deretan toko kerajinan rotan lainnya. Toko itu bernama Sumber Rezeki.
Bagi pemilik toko, Hj Rahmaniah, 64 tahun, nama toko itu bukan sekadar label usaha, melainkan manifestasi doa yang telah dijaga selama puluhan tahun lamanya untuk menyambut rezeki.
Toko Sumber Rezeki merupakan toko pertama yang merintis usaha penjualan kerajinan rotan di kawasan Jalan Tarmidi, sebelum kawasan itu dikenal sebagai sentra rotan.

“Sudah berjualan di sini sejak tahun 1991. Awalnya jualan sembako kemudian beralih jualan kerajinan rotan,” kata Rahmaniah, ditemui niaga.asia, Sabtu 28 Maret 2026.
“Dulu di sini awalnya yang berjualan rotan. Sekarang sudah ramai orang yang ikut berjualan di sepanjang jalan ini,” ujar dia.
Seluruh produk barang yang memenuhi etalase Sumber Rezeki merupakan kerajinan Banjar. Rahmaniah mendatangkan langsung pasokan barang dari Amuntai, Kalimantan Selatan.
“Pengiriman dari Banjar Amuntai, satu hari sampai di sini. Di sana itu sekampung membuat begini pengrajinnya,” terang Rahmaniah.
Keberagaman produk menjadi daya tarik utama. Rahmaniah mematok harga yang cukup ramah di kantong mulai dari Rp5 ribu per barang hingga jutaan rupiah.
“Di sini ada tatakan gelas, tas rotan Rp35 ribu kalau ambil banyak, kemudian tikar-tikar rotan itu Rp500 ribu, kursi rotan Rp400 ribu. Tapi kalau satu set dua kursi satu meja itu harganya Rp1 juta,” jelas dia.

Tak hanya perabot rumah tangga, Rahmaniah juga menyediakan kebutuhan fungsional seperti keranjang untuk hampers, hingga keranjang pasir keperluan bangunan.
Ketangguhan usaha Rahmaniah teruji setiap harinya. Meski kompetitor menjamur, dia mengaku dalam sehari, rata-rata dua hingga lima item kerajinan selalu berpindah tangan ke konsumen. Peminat rotan bahkan juga merambah ke generasi muda.
“Alhamdulillah ada saja orang beli tiap hari, biasa remaja gitu suka beli tas-tas kerajinan. Kemudian ada juga pengunjung yang membeli untuk suvenir acara,” sebut Rahmaniah.
Lonjakan permintaan biasanya terjadi saat menjelang Idulfitri dan Natal. Pesanan keranjang parsel bisa meningkat hingga 50 persen dibandingkan hari biasa. Pelanggannya pun tak hanya berasal dari Samarinda, melainkan hingga dari Kabupaten Berau.
“Keranjang rotan dekat lebaran kemarin ramai dibeli, biasa untuk parsel,” demikian Rahmaniah.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: Furnitur dan KerajinanKisah InspiratifRotanSamarindaUMKM