
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – The China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD), Asosiasi Industri Batu Bara China, memperkirakan impor batu bara China akan menurun pada 2026, setelah munculnya rencana Indonesia akan membatasi produksi dan ekspor batu bara guna mendorong kenaikan harga.
Sebaliknya China diperkirakan meningkatkan impor minyak Rusia pada Januari 2026 sekitar 1,7 juta bpd (barel per day) atau naik sekitar 1,1 juta bpd. Harga minyak mentah global rata-rata mencapai $67 per barel pada Januari 2026, naik sekitar $4 per barel dari Desember 2025. Hal ini disebabkan adanya gangguan produksi dan tekanan geopolitik.
Demikian Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai, mengutip laporan media internasional dan disampaikan konferensi pers secara daring, Senin (2/3/2026).
Tidak hanya China, India juga menargetkan pengurangan impor batubara untuk sektor pembangkit listrik hingga 30 persen sepanjang 2026. Pemerintah India mendorong penggunaan batu bara domestik yang lebih tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.
India pada Januari 2026 mengimpor pupuk majemuk (NPK dan NP) sekitar 195.000 ton, merupakan yang terendah selama tahun 2025–2026; turun hampir 16 persen dibandingkan bulan lalu.
“Penurunan ini disebabkan kenaikan produksi dalam negeri untuk NPK dan NP, meningkat menjadi 1,14 juta ton atau sekitar 2 persen dibandingkan Januari 2025,” ujarnya.
Ekspor Nonmigas Turun 19 Persen
Pada bagian lain, Mas’ud mengatakan, total nilai ekspor nonmigas ke 13 negara tujuan pada Januari 2026 adalah sebesar US$1.383,50 juta yang mengalami penurunan sebesar US$324,60 juta (19,00 persen) dibandingkan dengan Desember 2025.
Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan nilai ekspor ke beberapa negara tujuan utama seperti Tiongkok yang turun sebesar US$235,07 juta (29,29 persen), India yang turun sebesar US$55,30 juta (22,49 persen), danJepang yang turun sebesar US$45,70 juta (30,32 persen).
“Pada Januari 2026, ekspor nonmigas ke 13 negara tujuan utama turun sebesar 28,01 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” paparnya.
Pada Januari 2026, Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor utama yang memiliki peranan terbesar dengan nilai ekspor sebesar US$567,41 juta (38,62 persen), diikuti India dengan nilai sebesar US$190,61 juta (12,97 persen), dan Filipina sebesar US$146,39 juta (9,96 persen).
Total nilai ekspor nonmigas Provinsi Kalimantan Timur pada Januari 2026 ke kawasan ASEAN sebesar US$328,93 juta dengan peranan sebesar 22,39 persen terhadap total ekspor nonmigas. Sementara itu, nilai ekspor nonmigas ke kawasan Uni Eropa sebesar US$26,13 juta dengan peranan 1,78 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Ekspor Menurut Sektor
BPS Kaltim juga mencatat, jika dirinci menurut sektor dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penurunan nilai ekspor total pada Januari 2026 dibanding Desember 2025 disebabkan oleh turunnya nilai ekspor pada sektor nonmigas maupun nilai ekspor migas.
Penurunan ekspor nonmigas dialami oleh semua sektor dengan penurunan tertinggi terjadi pada sektor pertanian yang turun sebesar -58,06 persen. Sementara itu, ekspor komoditas hasil tambang dan hasil industri mengalami penurunan masing-masing sebesar 21,08 persen dan 45,66 persen.
“Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, sektor migas maupun nonmigas mengalami penurunan. Penurunan sektor nonmigas disebabkan karena turunnya ekspor hasil tambang sebesar 9,41 persen meskipun ekspor hasil industri dan hasil pertanian mengalami peningkatan masing-masing sebesar 37,72 persen dan 26,43 persen,” ungkap Mas’ud.
Pada Januari 2026, komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor Provinsi Kalimantan Timur dengan peranan sebesar 73,06 persen. Hasil industri berada pada posisi kedua dengan peranan sebesar 19,52 persen, dan nilai ekspor migas pada posisi ketiga dengan peranan 7,31 persen.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: batubara
