COVID-19 Melonjak, Australia Dorong Perekonomian Dibuka Lagi

Warga mengenakan masker berjalan di sepanjang tepi laut pelabuhan di seberang Sydney Opera House selama penguncian untuk menekan penyebaran COVID-19 di Sydney, Australia, 6 Oktober 2021. (REUTERS/Loren Elliott)

SYDNEY.NIAGA.ASIA – Pemerintah Australia melanjutkan rencana membuka kembali kegiatan perekonomian di tengah lonjakan infeksi COVID-19 harian lebih dari 37 ribu kasus, menyusul dampak lebih ringan varian Omicron.

Rekor jumlah kasus harian dilaporkan pada hari Senin (3/1) di negara bagian Victoria, Queensland, Australia Selatan dan Tasmania, serta wilayah ibu kota Australia.

Di New South Wales, ada 20.794 kasus, lebih tinggi dari angka hari Minggu (2/1) namun berada di bawah rekor harian 22.577 yang ditetapkan pada hari Sabtu (1/1), dengan angka pengujian lebih rendah selama liburan akhir pekan tahun baru.

Total harian nasional mencapai rekor lebih dari 37.150 kasus, melebihi 35.327 kasus pada hari Sabtu.

“Kita harus berhenti memikirkan jumlah kasus dan memikirkan penyakit serius, hidup dengan virus, mengelola kesehatan kita sendiri dan memastikan bahwa kita memantau gejala-gejala itu dan kita menjaga perekonomian kita tetap berjalan,” kata Perdana Menteri Scott Morrison kepada Channel Seven, dikutip Niaga Asia dari kantor berita REUTERS, Senin (3/1).

Masih terkait COVID-19, angka rawat inap naik menjadi 1.204 di New South Wales, atau naik lebih dari 10% dari hari Minggu dan lebih dari tiga kali tingkat pada saat Natal.

Menteri Kesehatan Federal Greg Hunt menerangkan bahwa jenis Omicron lebih mudah menular tetapi juga lebih ringan daripada varian lainnya, yang mengurangi risiko bagi individu dan sistem kesehatan.

Michael Bonning, ketua Dewan Asosiasi Medis Australia New South Wales mengatakan, peningkatan signifikan pasien rawat inap dikombinasikan dengan periode puncak liburan dan jumlah petugas kesehatan yang terpapar COVID memberi tekanan pada kapasitas tempat layanan kesehatan.

“Dengan periode Natal dan dengan pekerja rumah sakit yang dirumahkan karena status kontak dekat mereka, kami menemukan bahwa menjadi sangat sulit untuk staf, terutama area kritis rumah sakit,” katanya kepada ABC Television.

Pada akhir Desember, pemerintah mengubah sarannya tentang kapan orang harus mendapatkan tes PCR gratis untuk COVID-19, dan menyerukan penggunaan tes antigen cepat yang lebih besar, sebagian untuk mengurangi tekanan pada kapasitas pengujian.

Namun demikian, tes antigen cepat kekurangan pasokan, dan Morrison mengatakan pemerintah tidak akan menanggung biaya bagi orang untuk menguji diri mereka sendiri.

“Kami berada di tahap lain dari pandemi ini sekarang, di mana kami tidak bisa berputar dan membuat semuanya gratis,” ungkap Morrison.

Delapan kematian akibat COVID dilaporkan pada hari Senin, menjadikan angka kematiam nasional melalui pandemi menjadi lebih dari 2.260 kasus.

Sumber : REUTERS | Editor : Saud Rosadi

Tag: