Kepala Perwakilan BI Kalimantan Timur Tutuk SH Cahyono. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Dampak COVID-19 di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadikan Kaltim  provinsi dengan tingkat PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) paling banyak ke-5 dan tingkat tenaga kerja yang dirumahkan paling banyak ke-10 di Indonesia, atau ke-3 terbanyak di luar Pulau Jawa dan Bali. Sedangkan sektor informal yang terdampak COVID-19 di Kaltim pada bulan Mei sebanyak 315 unit usaha, naik dibandingkan bulan April yang hanya 300 unit usaha.

“Jumlah pekerja yang di PHK di Kaltim pada bulan Mei  2020 sebanyak 22.043 orang dan yang dirumahkan sebanyak 23.628 orang ,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim, Tutuk CH Cahyono dalam laporan berjudul “Perkembangan Ekonomi Terkini dan Prospek Perekonomian Provinsi Kalimantan Timur” yang dilansir hari ini, Jumat (10/7/2020).

“Jumlah pekerja yang paling banyak di PHK karena terdampak COVID-19 ada di Jawa Timur, yakni 44.441 orang dan di DKI Jakarta sebanyak 39.868 orang, dan Kaltim berada diurutan ke-3 yakni 22.043 orang,” Tutuk menjelaskan.

DAMPAK COVID-19 TERHADAP PEKERJA DI KALTIM PADA BULAN MEI 2020

Sedangkan jumlah pekerja yang dirumahkan di Kaltim pada bulan Mei 2020  sebanyak 23.628 orang itu, naik sebanyak 435 orang dibandingkan bulan April 2020 yang jumlahnya 23.193 orang. Jumlah itu menempatkan Kaltim diuturan ke-10 secara nasional.

Pekerja terbanyak dirumahkan ada di Provinsi DKI Jakarta yakni 247.760 orang, berikutnya Jawa Barat (162.162.315), Jawa Tengah (159.691), Jawa Timur (87.557), Bali  (55.459), Banten (43.532), Sumatera Utara (934.800), Riau (26.475), DI Yogyakarta (26.271), dan Kaltim 23.628 orang.

“Andil Kaltim terhadap total pekerja terdampak COVID-19 sebesar 2,61%,” kata Tutuk. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *