Dampak Krisis Iklim dan Kerusakan Lingkungan

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (Foto Humas Polri)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Meningkatnya aktivitas manusia khususnya dengan aktivitas

perekonomian telah berdampak pada peningkatan emisi gas pemicu efek rumah kaca yang selanjutnya memicu meningkatnya suhu udara secara global.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang terhimpun dalam AR6 Synthesis Report 2023 menyebut dibandingkan periode 1850-1900, suhu udara secara global sudah naik 1,1 derajat Celsius pada periode 2011-2020.

Demikian dipaparkan Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkuhan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dan Rencana Strategis Tahun 2025-2029.

Menurut Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkuhan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Indonesia juga tidak terhindar dari dampak peningkatan suhu udara global.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dikutip dalam laporan Status Hutan dan Kehutanan Indonesia 2022 yang disusun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa bencana alam di Indonesia meningkat tajam

dalam kurun waktu 2011-2021.

“Sebanyak 24.270 kasus didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kebakaran, dengan korb jiwa dan harta benda serta kerusakan infrastruktur,” kutip Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkuhan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Sementara data IPCC juga memproyeksikan dampak buruk mening-katnya suhu udara untuk kawasan-kawasan di dunia yang mencakup Indonesia. Misalkan saja potensi hilangnya spesies hewan antara 5% untuk kenaikan suhu terendah sebesar 1,5 derajat Celsius dan mencapai 100% jika kenaikan suhu udara sebesar 4 derajat Celsius.

Peningkatan suhu juga berdampak pada produksi pangan. Laporan IPCC menyebut kenaikan suhu 1,6 derajat Celsius hingga 2,4 derajat Celsius bisa membuat produksi jagung berkurang antara 3% hingga 10%. Tangkapan ikan di daerah tropis juga akan berkurang 10%-25% jika suhu udara naik antara 0,9 derajat Celsius hingga 2,0 derajat Celsius.

Hal ini, kata Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkuhan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, pada akhirnya akan membawa dampak pada perekonomian Indonesia yang besar.

Data Indonesia Country Climate & Development Report Bank Dunia 2023 menyebut Indonesia menyumbang 3,5% gas rumah kaca global. Deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan selama ini menyumbang 42% gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia. Sementara tutupan hutan juga berkurang akibat meningkatnya aktivitas pertanian dan

eksploitasi hutan.

Pembukaan area hutan bakau di wilayah pesisir untuk pertanian dan budi daya perikanan ikut meningkatkan emisi gas rumah kaca. Aktivitas pertanian di lahan hasil konversi hutan ini memang meningkatkan perekonomian, namun sekaligus memicu kerugian.

“Bank Dunia memperkirakan hasil pertanian mencapai nilai US$48 miliar atau lebih kurang Rp787,6 triliun antara 2008-2017 enyumbang 5,7% produk domestik bruto.

Namun pembukaan hutan dengan pembakaran juga memicu kerugian kesehatan akibat asap dengan estimasi nilai US$23,5 miliar atau Rp385,6 triliun pada periode itu, dan kerusakan hutan alami serta lahan pertanian dan perkebunan akibat kebakaran memicu kerugian dengan estimasi US$6,7 miliar atau Rp109,9 triliun,” kata Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Kementerian Lingkuhan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan 

Tag: