Perahu di Pos AL Tinabasan ini milik 70 petani rumput laut dan nelayan pemukat yang mengikuti sosialisasi alur pelayaran kapal patroli Angkatan Laut.

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Nunukan, Letkol (P) Ari Aryono meminta petani rumput laut dan nelayan pukat yang melakukan kegiatan di sekitar Pos AL di Tinabasan untuk menyisakan laut perairan untuk keluar masuk kapal patroli dan atau speedboat Angkatan Laut.

Hal itu dikatakan Ari Aryono kepada Niaga.asia, Selasa (13/3) usai melakukan sosialisasi kepada 70 petani rumput laut dan nelayan pukat, hari Senin (12/3). “Perairan  di sekitar Pulau Nunukan dan Sebatik sejak akhir 2017 kembali dipenuhi bentangan tali rumput laut, setelah harga rumput laut kering kembali naik dikisaran Rp 12.000 hingga 14.000 per kilogram,” ujarnya.

Wilayah Pulau Kayu Mati hingga perbatasan RI-Malaysia adalah lokasi terbaik untuk budidaya rumput laut, namun karena banyaknya bentangan tali  rumput laut, jalur  pelayaran menjadi sempit dan terganggu.

Menurutnya, TNI-AL mengharapkan Pemkab Nunukan melalui dinas terkait melaksanakan sosialisasi dan penertiban batas-batas perairan yang boleh ditanami rumput laut, sekaligus memberikan jalur larangan untuk budidaya  rumput laut. “Kami cuma meminta batasan laut diatur agar kapal-kapal termasuk KRI yang berpatroli bisa bebas melintas,” ucapnya.

Gangguan  pelayaran sering kali dikeluhkan kapal penumpang PT Pelni, kapal niaga hingga armada kapal perang (KRI), kapal patroli maupun speedboat AL. Yang patroli dari perairan Kayu Mati hingga ke batas laut dengan Malaysia.

Menurut Ari, alur pelayaran semakin sempit, terlalu banyak bentangan tali rumput laut dan sebagian menutup jalur kapal,” kata Ari. “Secara ekonomi, usaha rumput laut i sangat membantu perekonomian masyarakat Nunukan dan Sebatik, namun tentunya ada imbas lain dibalik itu, ialah menyempitnya jalur  laut yang bisa dilalui kapal-kapal.

Petugas di Pos TNI AL Tinabasan mengalami kendala tiap kali hendak melaksanakan patroli laut. Pergerakan speedboat TNI AL terganggu dan tidak bisa bermanuver sewaktu-waktu ada tindakan cepat.Perairan disana dipenuhi bentangan tali rumput laut, jalur navigasi kapal dan speedboat terbatas, padahal kegiatan patroli wajib kita laksanakan setiap saat dan sewaktu-waktu butuh kecepatan dalam bermanuver. “Kadang kita himbau para petani jangan terlalu luas menggunakan laut, sisakan untuk navigasi perairan kapal-kapal,” kata Danlanal.

Kemudian, nelayan pemukat dalam bergiat diminta tidak memukat sembarangan dan merusak hasil rumput laut. Kedua pelaku usaha ini diminta saling berkoordinasi agar tidak merugikan satu sama lain.“Aturlah sebaik mungkin, usaha nelayan pukat jangan menggangu atau merugikan petani rumput  laut,” pinta Danlanal (002)

 

Berita Terkait