Suasana persidangan di PN Samarinda dengan terdakwa Achmad AR, terkait kasus dugaan pemalsuan surat kepemilikan tanah. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Nama Achmad AR AMJ (50) kembali mencuat di Pengadilan Negeri Samarinda, setelah sebelumnya dia juga terjerat kasus pemalsuan surat terkait tanah milik Setiawan Halim, di Jalan HM Ardan (Ring Road) Samarinda.

Dari kasus itu, Achmad AR didakwa jaksa penuntut umum (JPU) Dwinanto Agung Wibowo, melakukan tindak pidana pemalsuan surat dan diganjar hukuman penjara selama 5 tahun oleh Majelis hakim, Kamis (25/4) lalu.

Belum usai menjalani hukuman 5 tahun penjara, Achmad AR harus kembali terjerat kasus yang sama, dan kembali disidangkan di PN Samarinda, Rabu (11/9) sore. Kasusnya, terkait dugaan pemalsuan surat diatas tanah milik Cahyadi Guy, yang berlokasi di Jalan Sentosa Samarinda.

Pada sidang agenda pemeriksaan saksi, Ketua Majelis hakim yang dipimpin Yoes Hartyarso didampingi hakim anggota Joni Kondolele dan Edi Toto Purba, mendengarkan keterangan saksi Cahyadi Guy (61), yang dihadirkan JPU Yudhi Satrio dari Kejari Samarinda.

Dalam keterangannya saksi Cahyadi Guy mengaku tidak mengenal terdakwa Achmad AR.

“Saudara saksi apa mengenal terdakwa ini,” tanya hakim Yoes, di persidangan kemarin.

Dengan lugas, Cahyadi menyatakan tidak mengenal Ahmad AR. “Saya tidak kenal yang mulia,” jawab Cahyadi Guy.

Saksi Cahyadi yang juga sebagai pelapor dalam perkara ini, di depan persidangan menjelaskan kepada majelis hakim, bahwa dia melaporkan Achmad AR ke polisi lantaran tanah miliknya yang telah bersertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) nomor 356 di Jalan Sentosa tumpang tindih dengan sertifikat tanah nomor 03278 atas nama Lisia, yang diketahuinya sudah dijual dan dibalik nama oleh terdakwa Achmad AR.

Saksi Cahyadi baru mengetahui tanahnya itu bermasalah, ketika dia mengurus perpanjangan surat Hak Guna Bangunan (HGB). Saat itu, diperoleh keterangan kalau surat HGB miliknya itu tidak dapat diperpanjang karena telah terbit sertifikat HGB di lahan yang sama, atas nama Lisia yang belakangan diduga ada pemalsuan stempel dan tanda tangan Djamaluddin Ketua RT 031, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda.

“Tanda tangan siapa yang dipalsukan,” tanya hakim Yoes.

“Tanda tangan Ketua RT yang mulia,” sahut saksi kembali menjawab pertanyaan hakim.

“Saksi tahu darimana tanda tangan RT ini dipalsukan?” tanya Yoes lebih jauh.

“Saya tahunya dari Ketua RT 031 Djamaluddin,” jawab saksi lagi.

Selain tandatangan, saksi juga menyebutkan adanya stempel RT 031 yang juga diduga dipalsukan oleh terdakwa. Alasannya, karena stempel RT yang dibuat itu tidak ada angka nol-nya di depan. Sedangkan stempel asli Ketua RT Djamaluddin memiliki angka nol didepan.

“Semua keterangan tersebut diperoleh saksi dari Ketua RT Djamaluddin,” ujar saksi Cahyadi menegaskan kepada majelis hakim.

Saksi mengaku tanah miliknya itu dia beli pada tahun 1989, sementara tanah milik Lisia yang kini tumpang tindih dengannya dibeli dari Achmad AR pada tahun 2015 seharga Rp1,9 miliar.

Dalam perkara ini JPU Yudhi Satrio mendakwa Achmad AR melakukan tindak pidana pemalsuan surat, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 263 KUHP.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi berikutnya. (007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *