Ax
Iptu Hardi terluka di kepala akibat lemparan batu mahasiswa (foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Demo ratusan mahasiswa dari berbagai elemen kampus, tidak hanya di Samarinda, melainkan juga luar Samarinda berujung bentrok. Dua polisi terluka. Bahkan, jurnalis televisi jadi korban pengeroyokan mahasiswa.

Aksi demo menolak pendirian pabrik semen di Kutai Timur yang dimulai pukul 10.00 WITA pagi tadi, sejatinya berjalan lancar. Mengenakan beragam atribut dan almamater, mereka meneriakkan yel-yel tolak pabrik semen, bernilai investasi Rp 14 triliun itu.

Mahasiswa mendesak menemui Gubernur Kaltim Isran Noor, untuk membatalkan kerjasama investor. Namun Isran bergeming, tak kunjung menemui pedemo, yang menunggu di depan pagar masuk kantor Gubernur di Jalan Gadjah Mada.

Situasi mulai memanas. Mahasiwa mulai anarkis, dengan merusak pot kembang, dan mendobrak pagar. Aksi saling dorong pagar, terjadi antar mahasiwa dengan pasukan Dalmas Satuan Sabhara Polresta Samarinda yang dilengkapi tameng dan pentungan.

“Kami minta, Gubernur Isran Noor membatalkan pabrik semen itu. Karena merusak lingkungan,” kata salah seorang orator, di tengah aksi dorong pagar, tengah hari tadi.

Sementara kepolisian, berulang kali mengingatkan, mengimbau mahasiswa agar menahan diri. Botol mineral, batang tanaman pot, mulai beterbangan ke arah polisi, dilemparkan dari arah mahasiswa. Belakangan, giliran Wakasat Binmas Polresta Samarinda, Iptu Hardi, bicara lewat pengeras suara. “Kami imbau, mahasiswa menahan diri, tidak terpancing emosi,” kata Hardi.

Nahas bagi Hardi. Di tengah imbauan dia, batu beterbangan, hingga mengenai kepalanya. Darah segar mengucur dari kepalanya, yang bocor. Dia bergegas mendapatkan perawatan medis.

Batu terus beterbangan dari arah pedemo. Bahkan, 2 kali mengenai salah seorang jurnalis televisi. Jurnalis pun meminta mahasiswa, agar tidak terus melempar batu. Namun, permintaan itu, diacuhkan dan balik menantang kelahi jurnalis.

Mahasiswa saling dorong pagar dengan kepolisian (foto : Niaga Asia)

Pedemo benar-benar di luar kendali. Mereka mengeroyok jurnalis televisi nasional itu. Beruntung, pasukan Dalmas sigap melerai, meski kayu berulang kali dihantamkan ke arah polisi yang melerai. Bebatuan, terus beterbangan.

Situasi mereda. Namun kembali tegang, lantaran dari arah kerumunan mahasiswa yang berahadap-hadapan dengan pasukan huru hara Brimob, menyerukan kalimat tak sepantasnya. “Wartawan dibeli, media dibeli,” tuding mahasiswa itu.

Wartawan sempat terpancing emosi, meski tidak mengakibatkan bentrok susulan. Belakangan, di tengah upaya mahasiswa mendobrak pagar yang dijaga pasukan Brimob, salah seorang personel Brimob ikut terluka di pelipis mata kirinya. Dengan begitu, ada 2 polisi yang terluka dari aksi anarkis mahasiswa, yang konon disebut kaum intelektual.

Polisi masih memilih bersabar, meski 2 personelnya terluka. Sementara dari wartawan, pascakejadian, memilih tidak meliput konferensi pers mereka, terkait aksi penolakan pabrik semen. Satu persatu, wartawan pun memilih meninggalkan lokasi demo.

Wakapolresta Samarinda AKBP Dedi Agustono, sebagai pemimpin pasukan mengamankan aksi demo mengatakan, ada 400 personel dia terjunkan di lokasi aksi yang berujung ricuh itu.

“250 dari Polresta, dan 150 dari Brimob berperalatan lengkap. Ada cedera anggota Polresta, terkena lemparan batu pengunjuk rasa. Dan, dari rekan wartawan juga jadi korban. Tapi yang jelas, situasi kita kendalikan, dan pengunjuk rasa kembali dengan tertib,” kata Dedi, ditemui wartawan usai demo itu. (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *