Gubernur Kaltara, Dr. H Irianto Lambrie saat berada di sentra produksi virgin coconut oil  (VCO) yang dikelola Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Karang Unarang, Desa Padaidi, Sebatik, Kabupaten Nunukan. (Foto Infopubdok Kaltara)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Salah satu hasil olahan buah kelapa yang masih jarang diketahui masyarakat adalah virgin coconut oil atau VCO. Sentra produksi VCO masih cukup jarang di Indonesia. Sentra produksi VCO salah satunya bisa  ditemui di Desa Padaidi, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

Sentra VCO itu, beberapa hari yang lalu, tepatnya Rabu (9/9/2020) dikunjungi Gubernur Kaltara, Dr. H Irianto Lambrie. VCO  diproduksi  di Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Karang Unarang, Desa Padaidi.

Dalam kunjungan itu, gubernur didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Kalimantan Utara, Amir Bakry. Juga Kepala Desa Balansiku H Firman, dan Manager Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Karang Unarang, Senawi.

Di UPK VCO, gubernur menyaksikan  beberapa ibu-ibu sedang menyortir briket arang dari tempurung kelapa yang siap dipasarkan ke Surabaya, Jawa Timur. Beberapa lainnya sedang menyaring sari kelapa yang sudah diendapkan sekitar 8 jam sebelumnya.

“Briket ini kualitasnya sangat bagus. Selain ke Surabaya, kita harapkan bisa diekspor ke Timur Tengah. Jadi ke depan, ini masih bisa kita kembangkan,” kata gubernur.

Gubernur yang juga didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kalimantan Utara Rita Ratina Irianto Lambrie berbincang ringan bersama seorang perempuan berumur kurang lebih 55 tahun. Si ibu melakukan proses penyaringan sari kelapa sebagai rangkaian menghasilkan VCO.

Sari kelapa yang telah diendapkan di inkubator khusus, masih perlu disaring sampai 4 kali untuk menghasilkan VCO yang berkualitas. Dengan sabar, si ibu melakoni pekerjannya sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari  gubernur yang penasaran.

Kata Senawi, Manager BUMDes Karang Unarang, VCO ini baru diproduksi BUMDes ini sejak Oktober 2019. Dalam sehari, bisa memproduksi 20 liter minyak kelapa murni yang bisa langsung diminum ini. Seratus biji kelapa bisa menghasilkan 20 liter setiap hari.

“Kelapa tua yang sudah dikuliti kemudian diperas. Sari atau hasil perasan kemudian diendapkan 8 jam di inkubator khusus. Setelah masuk di inkubator, kemudian disaring sampai 4 kali (secara manual). Tetapi kalau gunakan mesin, sekali masuk atau saring, bisa sudah jadi minyak kelapa asli,” ujar Senawi.

Penampakan VCO, sangat mirip dengan air putih. Kekentalannya pun hampir sama. Namun aroma dan rasa khas kelapa tetap terjaga. H Firman dan Senawi sama-sama sudah merasakan khasiat alami VCO. Banyak manfaatnya yang mereka rasakan.

“Badan saya juga terasa segar dan ringan setelah meminumnya.Meminumnya juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Nah, cocok sudah ini. Sekarang pandemi Covid-19, minuman ini cocok sekali diminum supaya imun tetap terjaga dan merasa fit,” ujar Firman.

Satu liter VCO, dijual Rp 150 ribu. Bahan bakunya dari buah kelapa. Masyarakat setempat menjual buah kelapanya ke BUMDes Rp 1.500  per butir. Kegiatan produksi VCO dan briket arang di Desa Padaidi telah mampu menggerakkan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik.

“Mudah-mudahan ini menginspirasi BUMDes lainnya di Kalimantan Utara. Dan saya yakin ada banyak inovasi yang muncul di masyarakat kita,” harap gubernur. (adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *