
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengintensifkan pengembangan sektor ekonomi kreatif (ekraf) di wilayahnya dengan mengedepankan kolaborasi bersama para komunitas.
Langkah ini kata Kepala Bidang (Kabid) Ekraf Dispar Kukar Zikri Umulda, dinilai menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran bagi pelaku ekraf di daerah.
Menurutnya, pengembangan ekraf tidak bisa dilepaskan dari peran komunitas. Oleh karena itu, pihaknya aktif membangun komunikasi dengan berbagai subsektor, mulai dari komunitas film hingga pelaku UMKM.
“Kalau untuk pengembangan ekraf, kami saat ini intens sekali. Kita ngobrolnya itu dengan komunitas film, ngobrol dengan komunitas UMKM, semua sektor dan subsektor kami treatment. Kami ingin tahu apa sih keinginan mereka, apa kebutuhan mereka,” ungkapnya, Selasa (20/1/2026).
Menurut Kiki sapaan akrab Zikri Umulda, pengembangan ekraf bukan pekerjaan yang sederhana. Banyak aspek dari hulu hingga hilir yang harus dibenahi secara bertahap supaya ekosistem ekraf bisa tumbuh secara berkelanjutan.
Atas dasar itu, fokus utama Dispar Kukar saat ini adalah membangun sinergi dengan para pelaku ekraf, khususnya di Kukar, melalui komunikasi yang intens dan berkelanjutan.
“Intinya bagaimana caranya Dispar Kukar bisa bersinergi dengan pelaku-pelaku yang ada di Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Kukar, dengan banyak-banyak bicara, banyak-banyak ngobrol,” tambahnya.
Kiki juga menuturkan bahwa penyelenggaraan berbagai event yang diadakan oleh provinsi menjadi salah satu strategi efektif untuk membangun komunikasi lintas daerah. Melalui event, pelaku ekraf dari berbagai kabupaten/kota dapat saling berbagi pengalaman dan strategi pengembangan.
“Dengan banyaknya event, itu jadi salah satu strategi kita untuk berkomunikasi dengan teman-teman dari kabupaten/kota lain. Kita ngobrol soal apa sih permasalahan mereka, bagaimana strategi ke depan. Polanya seperti itu,” paparnya.
Terkait jumlah pelaku ekonomi kreatif, Kiki menyebutkan bahwa berdasarkan data yang dimiliki Dispar Kukar, saat ini terdapat sekitar 4.300 pelaku ekraf yang terdata. Namun, jumlah tersebut bersifat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu.
“Bisa saja hari ini dia punya usaha, misal baju distro, lalu kemudian dia kerja di perusahaan dan usahanya tidak dijalankan lagi. Itu kan bisa berkurang jumlahnya. Tapi bisa juga tiba-tiba dia menggeluti sektor kuliner. Jadi memang naik turun,” jelasnya.
Dinamika ini menjadi tantangan tersendiri bagi Dispar dalam pengembangan ekraf di Kukar. Terlebih dengan kondisi geografis wilayah Kukar yang luas dan tersebar di 20 kecamatan, mulai dari wilayah tengah, hulu, hingga pesisir.
“Kukar ini punya 20 kecamatan dengan jarak yang luar biasa. Dari tengah, hulu sampai pesisir. Memang butuh waktu, tapi ini terus kita upayakan,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Ekraf