Distanak Kukar Siapkan 37 Paket Bantuan Ayam Petelur Senilai Rp8 Miliar

Plt Kepala Distanak Kukar Muhammad Rifani. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) mengalokasikan anggaran sekitar Rp8 miliar pada tahun 2026 untuk pengadaan 37 paket bantuan ayam petelur skala rumah tangga.

Program tersebut akan disebar ke delapan kecamatan dan ditujukan kepada kelompok-kelompok peternak yang dinilai benar-benar siap secara kelembagaan maupun kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Dibenarkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, bahwa bantuan akan diberikan dalam bentuk paket lengkap, mulai dari kandang portable, pakan, hingga ayam yang memasuki masa produksi telur, yakni sekitar 22 minggu.

“Untuk tahun ini sekitar 37 paket atau 37 unit. Itu tersebar di delapan kecamatan yang ada di Kukar. Total anggarannya kurang lebih Rp8 miliar,” ungkapnya di ruang kerjanya kepada wartawan, Kamis (19/2/2026).

Delapan kecamatan yang menjadi lokasi program yakni Loa Janan, Loa Kulu, Kota Bangun, Kota Bangun Darat, Sebulu, Muara Wis, Muara Muntai, dan Muara Kaman.

Pemilihan lokasi ini dilakukan berdasarkan skala prioritas. Selain mempertimbangkan keterbatasan anggaran, pemerintah juga menyasar wilayah dengan kelompok peternak yang sudah aktif dan sebelumnya telah mendapatkan pelatihan.

“Kita pilih yang memang basic masyarakatnya peternak dan kelompoknya sudah berjalan. Jadi tidak kita lepas begitu saja, tapi kita bantu dan dampingi sampai mereka menghasilkan,” jelasnya.

Program ini dirancang berbasis kelompok, bukan perorangan. Satu kelompok dapat beranggotakan 10 hingga 15 orang, bahkan dalam kondisi tertentu satu kelompok bisa mendapatkan lebih dari satu unit bantuan.

Kemudian untuk lahan, setiap unit minimal membutuhkan area sekitar 8×15 meter dan harus dalam kondisi jelas kepemilikannya. Skema pengelolaan lahan sepenuhnya akan menjadi kesepakatan internal kelompok, baik melalui kerja sama maupun hibah.

Rifani menegaskan, program ini tidak semata-mata berorientasi pada produksi telur untuk pasar, tetapi bertujuan untuk memperkuat kemandirian pangan di tingkat desa.

“Paling tidak mereka tidak susah lagi membeli telur untuk kebutuhan sendiri. Kalau ada lebihnya bisa dijual. Minimal kebutuhan kelompoknya terpenuhi, itu sudah luar biasa,” katanya.

Ia mengakui bahwa, skala program memang masih skala rumah tangga. Namun dengan sistem pendampingan dan pemantauan oleh pihaknya, diharapkan bantuan ini berkembang menjadi sumber pendapatan baru bagi para kelompok penerima.

Konsep utama program ini tegas dia, adalah kemandirian pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui usaha produktif yang terukur dan berkelanjutan.

“Intinya kita pantau terus perkembangannya. Tidak dilepas begitu saja. Kita dampingi sampai benar-benar berjalan,” tutupnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: