aa
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang, Aji Erlinawati (kanan), Ketua DPRD Bontang, Nursalam, Wakil Walikota Bontang Basri Rase saat memanen Garam Rakyat dengan Sistem Tunnel di Balai Benih Ikan Pantai (BBI) Tanjung Laut Bontang Selatan.

BONTANG.NIAGA.ASIA-Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang panen perdana garam rakyat dengan sistem tunnel yang dikembangkan di Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Kelurahan Tanjung Laut , Bontang, Jumat (8/3/2019).

Kepala DKP3 Bontang, Aji Erlynawati menjelaskan, garam yang dipanen hasil dari Proyek Percontohan Pembuatan Garam Rakyat Sistem Tunnel dari Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui UPT BPPP Tegal.

Sistem yang dibangun di proyek pertanian garam ini  terdiri dari tandon air muda tiga unit rangkaian tunnel. Setiap unitnya terdiri dari 6 kotak tambak atau meja pemeliharaan. “Proyek percontohan ini selain di Bontang, Berau dan PPU. Bontang yang pertama dapat melakukan pemanenan dari 3 daerah percontohan yang sudah ada,” kata Iin, panggilan akrab Aji Erlinawaty.

Pembuatan garam dengan sistem tunnel adalah membuat bak-bak penguapan yang dilapisi plastik HDPE di bagian bawah, ditutup plastik UV di bagian atas dan di desain seperti terowongan. Pada prinsipnya, penguapan air laut dilakukan secara bertingkat dalam petak tertutup dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Menurutnya, air laut yang diambil dari sumur bor di pantai Bugel mempunyai kepekatan 3 Be, kemudian  dialirkan dari bak penampungan ke tunnel pertama hingga diperoleh derajat kepekatan tertentu. Secara gravitasi, air akan mengalir ke tunnel kedua, karena letak tunnel kedua berada 10 cm dibawah tunnel pertama. Setelah diuapkan beberapa hari akan diperoleh derajat kepekatan tertentu dan ketinggian tertentu, maka air di tunnel kedua dialirkan ke tunnel ketiga dan seterusnya sampai tunnel keempat.

“Jika ditunnel keempat kepekatan sudah menunjukkan angka 20 Be dengan alat pengukur baumemeter atau hidrometer, maka air dialirkan ke tunnel terakhir atau bak pengkristalan. Di tunnel terakhir, kepekatan diharapkan sampai angka 25 Be untuk menjadi garam konsumsi,” terang Iin.

Target dari percontohan ini,  lanjutnya, diharapkan kedepan dapat memproduksi sekitar 1 (satu) ton garam per minggu atau 4 (empat) ton garam per bulan. Bila harga garam krosok di  Bontang sekitar Rp4000,-/Kg, maka akan menghasilkan sejumlah Rp16 juta/bulannya.“Dengan perhitungan biaya pembuatan konstruksi untuk teknologi ini sekitar Rp16 Juta, maka dalam jangka waktu 4 bulan, sudah bisa balik modal. Sementara umur konstruksi untuk teknologi ini mencapai 3 tahun,” katanya.

Iin menyebut dengan memanfaatkan teknologi tunnel,  memungkinkan produksi garam dapat dilakukan sepanjang tahun dengan kualitas yang baik dibandingkan  produksi garam yang langsung dari tambak. Apabila di musin hujan tetap dapat berproduksi, meskipun tidak sebesar ketika musim panas.

Wakil  Walikota Bontang, Basri Rase yang hadir saat panen perdana sangat mengapresiasi  kinerja  DKP3 Bontang. Ia berharap dengan potensi laut yang cukup besar dapat  memproduksi garam untuk  memenuhi kebutuhan garam di Bontang.

“Saya berharap pada kelompok nelayan yang ingin mengembangkan usaha ini untuk lebih serius lagi, selain untuk mengurangi impor dari Sulawesi dan Madura, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar pesisir laut Bontang,” kata Basri. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *