Dua Korban Hilang Masih Dicari, Konsul RI: Jangan Naik Speedboat Jalur Ilegal

aa
Tim penyelam dari TNI-AL bergabung bersama Basarnas Kaltim-Kaltara mencari dua korban hilang. (Foto: Basarnas Kaltim-Kaltara)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Dua korban hilang, Celin Waton, umur 4 tahun dan Kamarul alia Along (23)  dalam tabrakan dua speedboat di perairan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur, 29 Juni lalu, hingga hari ini, Rabu (4/7) masih diusahakan Tim Basarnas Kaltim-Kaltara untuk ditemukan.

Menurut Kepala Kantor Basarnas Kaltim-Kaltara, Gusti Anwar melalui Kepala Seksi Operasi, Octavianto, pencarian dilakukan selain di permukaan laut juga dilakukan dengan penyelaman oleh 3 anggota TNI-Al dari Taifib – Marinir di titik koordinat speedboat tenggelam. “Hingga sore ini belum ada temuan jenazah baru,” kata Gusti Anwar.

Sedangkan Octavianto menambahkan, pencarian jenazah korban hari ini menyapu kembali perairan dimana kemarin ditemukan dua jenazah yakni Sebastian dan Solin Kelen, yakni di perairan Karang Unarang. “Pencarian akan dilanjutkan besok,” ujarnya, usai menerima kunjungan Wakil Ketua  DPRD Nunukan, Hj Nursan, bersama anggota lainnya,  H Andi Kasim, Hj Hadrah, dan  Feri ke Posko Ops SAR Gabungan di Sei Nyamuk.

Tim SAR Temukan Jenazah Soline dan Sebastian

Sementara itu segenap keluarga besar KRI Tawau menyampaikan turut belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga penumpang speedboat yang meninggal dalam  kecelakaan di perairan Sungai Nyamuk, Sebatik pada tanggal 29 Juni 2018 malam. “Kepada para korban yang selamat kami mendoakan semoga segera pulih dan dapat kembali beraktifitas. Untuk korban yang masih hilang, kami mendoakan semoga dapat segera ditemukan,” demikian pernyataan Konsul RI di Tawau.

Diterangkan pula, kejadian kecelakaan di jalur yang tidak resmi (ilegal) bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, telah terjadi juga kecelakaan speedoat pada bulan Februari tahun 2017. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para WNI/PMI yang berada di Malaysia (Sabah) untuk tidak lagi melakukan penyeberangan menggunakan speedboat di jalur ilegal.

Menurut Konsulat, sangat  disayangkan, jalur-jalur tersebut masih beroperasi sehingga membuka kesempatan bagi para WNI/PMI yang tidak memiliki dokumen perjalanan yang resmi untuk memilih jalur ilegal tersebut meski memiliki resiko kecelakaan atau penangkapan oleh aparat keamanan laut Malaysia.

“Kepulangan PMI/WNI dengan menggunakan moda ilegal, marak dan rutin ditemukan karena masih banyaknya warga Indonesia di Sabah yang tidak memiliki dokumen ijin tinggal. Selain itu, hingga kini belum ada peraturan dan kebijakan Pemerintah Malaysia yang dapat membantu para PMI khususnya yang bekerja sebagai buruh untuk mengurus ijin tinggal yang sah bagi keluarganya yang mendampingi di Sabah,” ungkapnya.

Dengan kejadian ini, KJRI Tawau mengimbau kepada semua PMI/WNI yang berada di Sabah untuk tidak melakukan penyeberangan dengan menggunakan moda pengangkutan/jalur tidak resmi, dan mengajak agar para WNI/PMI tidak mengajak saudara ataupun kerabat mereka dari tanah air untuk ke Malaysia melalui jalur ilegal.

Menurut KJRI, saat ini  Pemerintah Malaysia tengah melakukan Operasi Mega untuk merazia Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI) di Malaysia. Razia telah dimulai sejak tanggal 1 Juli 2018 kemarin, termasuk dengan memperketat patroli penjagaannya di daerah perbatasan  laut untuk mencegah masuknya orang asing melalui jalur tidak resmi. (001)