Penjelasan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang di rumah dinasnya, Jalan Letjend S Parman, Senin (7/9). (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Peraturan Wali Kota (Perwali) Samarinda No 43/2020 genap berlaku dua minggu, per Minggu (20/9). Dalam 14 hari itu, kasus Covid-19 bertambah 629 kasus baru, dan juga penambahan 31 kematian baru akibat Covid-19.

Menilik ke belakang, Perwali itu dikeluarkan Wali Kota Syaharie Jaang, dan berlaku per 7 September 2020 lalu. Dia membacakan sendiri pemberlakuan Perwali itu, di sesi konferensi pers di rumah dinasnya, Jalan Letjend S Parman, Senin (7/9).

Dalam paparan Jaang, salah satu pertimbangannya, per Minggu (6/9), Samarinda mencatatkan total 1.168 kasus Corona. Dari angka itu, ada 712 sembuh, 55 meninggal dunia, dan 409 dalam perawatan. Yang memprihatinkan, 331 kasus adalah non klaster, dan disebabkan penularan transmisi lokal antarwarga.

“Tindakan tegas untuk memutus rantai penularan. Karena kasus terbanyak melalui transmisi lokal, non klaster,” kata Jaang.

Jaang menegaskan, penerapan Perwali No 43/2020, disebabkan pertambahan kasus di Samarinda, berada di tahap mengkhawatirkan. Apalagi, angka kematian 6,4 persen, berada di atas rata-rata nasional. “Mulai hari ini, Pemkot mendisiplinkan protokol kesehatan di seluruh wilayah Samarinda. Masyarakat diminta untuk patuh, dengan ketentuan yang dibuat,” ujar Jaang.

“Kebijakan Pemkot dengan tim Gugus ini, tidak memberlakukan jam malam. Yang ada, membatasi, mengurangi aktivitas malam hari hanya sampai jam 10 malam,” tegas Jaang.

Siaran pers pemberlakuan Perwali No 43/2020 per 7 September 2020 (foto : Niaga Asia)

Sementara, Sekda Kota Samarinda Sugeng Chairuddin menegaskan, pemberlakuan Perwali, sudah dikaji dari sisi ekonomi, serta rekomendasi dari Dinkes Samarinda. “Sehingga, gugus tugas berkesimpulan, kesehatan adalah hal utama, dengan Perwali ini,” kata Sugeng.

Sugeng pun bicara soal sanksi dari Perwali itu. Beragam, mulai dari teguran, kerja sosial, denda Rp 100 ribu-Rp250 ribu untuk pelanggar per orangan. Serta denda bagi pemilik tempat usaha, mulai teguran lisan, tertulis, denda Rp 250 ribu-Rp 500 ribu, penghentian operasional, hingga pencabutan izin usaha. Perwali, dievaluasi 2 pekan sejak berlaku 7 September 2020.

Telaahan Niaga Asia, per Minggu (20/9) kemarin, Perwali genap berlaku 14 hari. Dilihat dari kasus Covid-19, terjadi penambahan yang cukup signifikan untuk warga yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Menilik info grafis kasus Covid-19 kota Samarinda, yang dikeluarkan pada Senin (7/9) lalu oleh Dinas Kesehatan Kota Samarinda, ada 1.224 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Dimana, diantaranya 731 sembuh, 49 kasus meninggal, dan yang berstatus perawatan ada 444 orang.

Info grafis kasus Covid-19 per Minggu (20/9) kota Samarinda. (Sumber : Dinkes Samarinda)

Dua pekan berlaku, Minggu (20/9) kemarin, kasus positif menjadi 1.853 kasus, dan sembuh ada 1.235 kasus. Pasien Corona meninggal kadi 80 orang, dan ada 538 orang berstatus perawatan. Niaga Asia mencatat, penambahan tertinggi kasus positif Covid-19, terjadi 14 September 2020 lalu, sebanyak 96 kasus.

Ditelaah lebih jauh lagi, dalam 14 hari, terjadi penambahan 629 kasus baru, yang sembuh bertambah 504 orang, dirawat juga bertambah 94 kasus. Sedangkan, yang meninggal bertambah 31 orang.

Selama 2 pekan, Niaga Asia terus mengamati kepatuhan warga untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Misalnya, di rumah makan, maupun di kafe. Meski telah tersedia peringatan agar mengenakan masker, dan disediakan air serta sabun pencuci tangan, namun urusan jaga jarak (social distancing) masih dipertayakan.

Berita terkait :

Usia Produktif di Kaltim Semakin Banyak Tertular Corona

Belum lagi, mereka yang nongkrong, untuk mengenakan masker nyaris bisa dihitung dengan jari. Sementara urusan batas beroperasi hingga pukul 22.00 Wita, seperti diatur Perwali No 43/2020, tidak semua patuh dengan aturan orang nomor satu di Samarinda.

Puncaknya, terjadi Sabtu (19/9) malam lalu. Bagaimana keramaian ratusan muda mudi nongkrong di kawasan Citra Niaga, membuat hanya bisa mengelus dada, nyaris seperti kehidupan normal tidak ada pandemi. Apalagi kalau bukan selain sedikit yang bermasker, mereka pun nyaris tak terlihat menerapkan social distancing.

Suasana keramaian di sekitar kafe kawasan Citra Niaga, Sabtu (19/9) malam lalu (foto : istimewa)

Niaga Asia mencatat, Satgas Covid-19 Kaltim dalam kesempatan konferensi pers harian telah mengingatkan, dari ribuan kasus Covid-19, usia produktif 25-29 tahun, semakin banyak yang terpapar, dan berada di posisi pertama. Meski mereka relatif cepat sembuh, namun mereka tergolong berpotensi besar menularkan, apabila berada di rumah, maupun terhadap orang di sekitarnya.

Berita terkait :

Tidak Ada Kasus Covid-19 Hari Ini di Samarinda, Ini Penjelasannya

Hingga Minggu (20/9) kemarin, Kalimantan Timur tercatat memiliki 6.776 kasus positif Covid-19, 4.454 kasus sembuh, dan kasus aktif atau mereka yang masih berstatus perawatan 2.058 orang. Sedangkan meninggal, ada 266 orang.

“Angka positif rate kita di 21 persen, di atas standar WHO 5 persen. Ini menunjukkan, demikian tingginya angka penularan,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalimantan Timur Andi M Ishak, dalam penjelasan virtual, Minggu (20/9) sore.

Satgas Covid-19 Kaltim, dan kabupaten kota, tentu tidak tinggal diam. Mereka kerja keras mempercepat upaya untuk menekan penularan, dengan menemukan kasus sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya untuk memutus mata rantai penularan. Tentu, upaya itu sekali lagi memerlukan dukungan masyarakat, agar tetap patuh disiplin kuat menerapkan protokol kesehatan.

Pemakaman jenazah dari pasien kasus Covid-19 di Pemakaman Raudhatul Jannah, Serayu, Tanah Merah, Minggu (20/9). Ada 114 kematian dari pasien kasus Covid-19 di Samarinda, baik berstatus probable Covid-19 maupun terkonfirmasi positif Covid-19. (foto : istimewa/Syarif ITS)

Saat ini, memang justru kembali ke masyarakat yang menjadi garda terdepan, untuk menekan penularan. Jangan sampai angka kematian, baik masyarakat umum, bahkan dokter, perawat, orang terdekat, yang meninggal akibat paparan virus SARS-CoV-2 dan diperparah/diperberat dengan Comorbid (penyakit penyerta/penyakit bawaan), terus bertambah.

Pertanyaan besar saat ini, apa ada masyarakat yang masih tidak percaya virus itu? Apakah punya kesadaran tinggi untuk menerapkan protokol kesehatan, sebagaimana disarankan para ahli dan ilmuwan, agar tidak tertular dan menularkan? Semoga, waktu nanti yang akan menjawabnya, dan berharap pandemi ini bisa segera mereda. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *