Dua Pemuda di Samarinda Ini Bikin dan Jual Obat Terlarang Mirip Ekstasi

Dua tersangka kasus penjualan obat terlarang mirip ekstasi saat diperlihatkan ke wartawan, Kamis (28/1). (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – FA dan R, dua pemuda di Samarinda, dibekuk polisi, Selasa (26/1) malam. Dari tangannya, ditemukan 52 butir pil mirip ekstasi, yang belakangan diketahui obat terlarang. Keduanya kini meringkuk di penjara Polsek Sungai Pinang.

“Awalnya, kami sedang penyelidikan, dan mencurigai ada yang sedang transaksi narkoba di Jalan Rapak Benuang,” kata Kapolsek Sungai Pinang Kompol Rengga Puspo Saputro, di kantornya Jalan DI Panjaitan, Kamis (28/1) sore.

Rengga menerangkan, kecurigaan itu mengarah kepada dua orang mengendarai Scoopy. “Kita geledah, kita temukan dua butir obat mirip narkoba di badannya,” ujar Rengga.

“Kami interogasi, kami kembangkan lagi, ditemukan lagi 50 butir obat yang sama. Ini adalah obat tanpa izin edar pengganti ekstasi,” tambah Rengga.

Obat tanpa izin edar mirip ekstasi hasil racikan dan cetakan sendiri ini dijual hingga Rp 200 ribu per butirnya. (Foto : Niaga Asia)

Keduanya, digelandang ke Mapolsek Sungai Pinang. Kepada penyidik, FA dan R, mengaku membuat sendiri obat mirip ekstasi itu, menggunakan blender dan cetakan cincin.

“Keduanya mencetak, dari campuran obat farmasi. Dijual, diakuinya sebagai narkoba dengan harga hingga Rp 200 ribu per butir. Jadi sasarannya, masyarakat bawah,” ungkap Rengga.

Polisi juga melakukan tes urine terhadap keduanya, dan positif mengandung zat bahan sabu. “Mereka mencetak, dan menjual obat ini, sudah 6 bulan terakhir. Ya, home industri (industri rumahan). Belajar darimana, masih kita dalami,” jelas Rengga.

“Sasaran penjualan masih di Samarinda saja. Jadi, ini bukan narkoba, melainkan obat tanpa izin edar. Kedua pelaku kita kenakan UU No 36/1999 tentang Kesehatan junto UU No 35/2009 tentang narkotika karena hasil tes urine-nya positif,” demikian Rengga. (006)

Tag: