aa
ilustrasi

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Setelah dirundingakn keduabelah pihak hampir dua tahun, akhirnya dua proyek besar di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ditandatangani nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understand) dan kontrak kerja antar sejumlah perusahaan dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Indonesia.

“Penandatanganan dilakukan  di sela kegiatan KTT Belt and Road Inisiative (BRI) yang digelar selama 2 hari, Jumat dan Sabtu (26-27 April 2019) lalu di Beijing,” ungkap Gubernur Kaltara, Dr. Ir. H Irianto Lambrie, MM, Minggu (28/4/2019.

Dari sejumlah kesepakatan dan kontrak kerjasama Business to Business antara perusahaan China dan Indonesia ini, dua proyek di antaranya akan dilakukan di Kaltara. Yaitu untuk proyek Kawasan Industri Tanah Kuning-Mangkupadi dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kaltara. Salah satunya PLTA Kayan di Peso, Kabupaten Bulungan.

Penandatanganan kontrak kerjasama ini, disaksikan langsung oleh pimpinan kedua negara, yakni dari Pemerintah Indonesia oleh Wakil Presiden Bapak HM Jusuf Kalla dan dari Pemerintah RRT oleh Wakil Perdana Menteri China, Mr Zhang Gaoli.

Kesepakatan B to B antara perusahaan dari RRT dan Indonesia ini, mendapat dukungan dari NDRC (National Development and Reform Commission)—sebagai Bappenas-nya China, setelah sebelumnya melalui verifikasi yang Panjang. Utamanya terkait dukungan pembiayaan melalui bank BUMN Pemerintah China.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Dengan adanya kerjasama ini, merupakan perkembangan yang sangat maju untuk percepatan pembangunan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi yang terintegrasi dengan PLTA. Tentu ini sangat positif bagi Kaltara, dalam mewujudkan kawasan industri yang nantinya berdampak besar untuk kemajuan ekonomi di Kaltara,” kata gubernur.

Seperti kita ketahui, jika kawasan industri ini terwujud, puluhan ribu tenaga kerja akan terserap. Tak hanya itu, ekonomi di wilayah sekitar juga akan tumbuh. Yang pada akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Begitu pun dengan PLTA, selain untuk memasok kawasan industri, dengan terbangunnya energi listrik yang besar, Kaltara tidak akan lagi kekurangan listrik, bahkan akan surplus sehingga bisa memasok listrik ke daerah lain, bahkan bisa ke negara tetangga.

Selain pembangunan PLTA Kayan 1 dan 2 di Kabupaten Bulungan yang ditargetkan sudah dimulai tahun ini konstrusinya. Dari kerjasama B to B antara perusahaan China dan Indonesia itu, juga menyusul akan dibangun PLTA di Kabupaten Malinau. Di mana saat ini sudah berproses selesai tahap izin dan tahap feasibility study (FS) dan penyusunan Amdal-nya.

Untuk KIPI, saat ini sudah dilakukan tahapan Integratite FS dan Amdal. Artinya, FS dan Amdal yang sudah ada, akan dibuatkan penyempurnaan melalui program dana bantuan dari pihak China yang diberikan kepada Kemenko Maritim, total semua kurang lebih Rp 200 miliar untuk seluruh Indonesia. Untuk Kaltara (penyempurnaan FS KIPI) dialokasikan sekitar Rp 40 miliar lebih. (001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *