Dugaan Bullying Anak, Polisi Segera Panggil Istri Oknum Pejabat Nunukan

Kasat Reskrim Polres Nunukan AKP Marhadiansyah Tofiqs Setiaji. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Penyidik Satreskrim Polres Nunukan mengagendakan memanggil FDR, seorang istri oknum pejabat yang dilaporkan atas dugaan perkara perundungan atau bullying terhadap pelajar berusia 18 tahun.

“Kemairin agenda kita padat, ini baru mulai mempelajari dan lidik kasusnya,” kata Kasat Reskrim Polres Nunukan, AKP Marhadiansyah Tofiqs Setyaji, kepada Niaga.Asia, Kamis (7/10) siang.

Penyelidikan kasus perundungan terhadap anak dimulai  dengan memanggil terlapor untuk diminta konfirmasi terkait alat-alat bukti yang dilaporkan pihak keluarga korban.

Kemudian, dari keterangan konfirmasi  tersebut, penyidik nantinya akan melihat dan mendapatkan gambaran tujuan dari perbuatan terlapor. Kasus perundungan sendiri adalah perkara yang memerlukan ahli bahasa dalam menentukannya.

“Secepatnya dipanggil terlapor dan ini sifatnya tidak memaksa ya, tergantung FDR mau hadir atau tidak datang karena sebatas meminta keterangan,” bebernya.

Disampaikan Tofiqs, laporan yang diterima Polres Nunukan tanggal 28 September 2021 mengarah pada elanggaran  UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Terlapor sebagaimana alat bukti yang diserahkan pelapor, melakukan penghinaan terhadap anak di bawah umur.

Dugaan pelanggaran ITE menggunakan sarana media sosial (Medsos) instagram yang kemudian menyebar lewat whatsapp. Alat-alat bukti perundungan atau bullying terlampir dalam beberapa akun medsos.

“Itulah kenapa perkara ini perlu keterangan dan pendapat ahli dalam menentukan apakah masuk ranah pidana ITE,” jelasnya.

Diberikan sebelumnya, Hj. Sumiyati (57) ibu korban melaporkan perkara penghinaan dan teror terhadap anaknya ke Polres Nunukan dengan nomor : STTP/135/IX/2021/Reskrim tertanggal 28 September 2021.

Tidak hanya melaporkan perkara, Hj. Sumiyati diwaktu bersamaan menunjuk Rianto Junianto SH dari Kantor advokat kantor hukum Rangga Malela & Co Atorney sebagai penasehat hukum yang mendampingi pihak keluarga menuntut keadilan.

Dalam keterangan, Rianto Junianto menyatakan terlapor FRD telah melakukan pencemaran nama baik sekaligus teror kepada anak melalui postingan akun media sosial Instagram.

“Postingan terhadap anak dilakukan pelaku pasca perkara perkelahian kelompok remaja putri di Nunukan pada 22 September 2021,” terangnya.

Dugaan pencemaran nama baik dan atau perundungan dunia siber bullying melalui media sosial terhadap anak diatur dalam ketentuan Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 ayat (3) jo. Pasal 45b Undang-Undang (UU) Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU nomor 11 tahun 2008 tentang transaksi elektronik .

Kemudian, dalam pasal 1 ayat 15a UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bullying dikatakan sebagai kekerasan di mana setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

“Pelaku bullying verbal dapat dikenakan Pasal 80 karena melanggar ketentuan sebagaimana Pasal 76C dengan ancaman pidana penjara dan atau denda,” tutur dia.

Penulis : Budi Anshori : Editor : Rachmat Rolau

Tag: