Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Andi Amir Hamsyah. (foto dokumen)

TANJUNG REDEB.NIAGA.ASIA –Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Andi Amir Hamsyah berharap Pemkab Berau dapat berpikir kritis. Potensi perkebunan sawit dimaksimalkan sebagai andalan ekonomi daerah menggantikan batubara yang dalam setahun terakhir tak bisa lagi diandalkan kerana permintaan pasar global maupun harganya jatuh akibat pandemi COVID-19.

“Pemkab Berau harus berpikir bagaimana memutus ketergantungan dari komoditas batubara.  Caranya, mengembangkan potensi unggulan lain. Pertanian dalam arti luas, dan pariwisata sebagai lokomotif baru perekonomian. Mungkin tidak sebesar batubara  dalam waktu singkat, tapi harus dilakukan. Jangan timbul masalah baru bergerak dan berpikir,” jelasnya dihubungi Jumat (18/9/2020).

Salah satu yang bisa dicontoh yakni upaya yang dilakukan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Tetap melanjutkan program mandatori biodisel 40 persen (B40). Disiapkan untuk mengganti energi batubara dan migas.

Kebijakan tersebut menyangkut 17 juta petani sawit se-Indonesia. Dan ini jadi peluang untuk dikembangkan. Kelapa sawit merupakan sektor kedua terbesar setelah emas hitam. Bahkan saya yakin Berau bisa menjadi penghasil bahan baku B40.

“Jika tercapai, perekonomian dan pendapatan daerah akan merangkak naik. Pelan, namun pasti. Tapi program ini masih proses. Pemerintah harus monitoring, dan mempersiapkan. Kalau semua sinergi, pasti akan tercapai,” ungkapnya.

Dari data Dinas Perkebunan Berau, kelapa sawit memang mendominasi perkebunan di Bumi Batiwakkal. Salah satu alasan masyarakat banyak mengembangkan kelapa sawit karena sudah ada jaminan pasar. Perusahaan kelapa sawit juga sudah ada pabrik di sejumlah kecamatan. Selain itu, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang ada juga menyerap hasil panen petani di sekitarnya.

Kelapa sawit mendominasi 80 persen dari luas perkebunan di Kabupaten Berau. Berdasarkan data tahun 2019, luasan total perkebunan kelapa sawit, baik itu swadaya, plasma, maupun Perusahaan Swasta Besar (PBS) sekitar 135.090,76 Hektare (Ha), kemudian disusul dengan perkebunan karet seluas 6.178,91 Ha, dan lada dengan luas 2.568,6 Ha. Ada 24 perusahaan kelapa sawit yang tersebar di Kabupaten Berau. Hanya Kecamatan Tanjung Redeb dan Kecamatan Maratua saja yang tidak ada perkebunan kelapa sawit.

Terkait ekspor, hanya Kuala Lumpur Kepong (KLK) Group ke luar negeri. Sementara perusahaan lainnya, masih menjual di dalam negeri. Dijual dalam bentuk CPO atau kernel (inti kelapa sawit). Bahkan saat ini, untuk proses perizinan perkebunan kelapa sawit baru untuk sementara tidak ada. Diizinkan hanya perusahaan yang dalam proses sebelum moratorium berlaku, namun belum ada realisasinya.

Namun, tidak hanya sektor kelapa sawit saja yang dapat menghasilkan keuntungan bagi petani. Sektor perkebunan lain seperti kakao, kopi, karet dan tanaman lainnya juga tidak kalah menguntungkan dengan kelapa sawit. Hanya saja, petani lebih memilih pengembangan kelapa sawit, karena dianggap sudah memiliki hasil pasti, meskipun harga cenderung turun naik. (mel/adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *