
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Berdasarkan golongan barang, peningkatan nilai ekspor nonmigas terbesar pada Januari 2026 terhadap Desember 2025 terjadi pada golongan barang berbagai produk kimia yang naik sebesar US$16,52 juta (36,72 persen). Sebaliknya, penurunan nilai ekspor terdalam terjadi pada golongan barang bahan bakar mineral sebesar US$309,21 juta (21,07 persen).
Demikian dilaporkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai dalam konferensi pers secara daring, Senin (2/3/2026).
Komoditas lain dengan peningkatan nilai ekspor cukup besar adalah golongan bahan kimia anorganik yang naik sebesar US$3,44 juta (14,78 persen) dan golongan barang ampas dan sisa industri makanan yang naik US$2,5 juta (tidak dilakukan ekspor pada bulan sebelumnya).
Sebaliknya, lanjut Mas’ud, komoditas lain yang mengalami penurunan nilai ekspor adalah golongan barang lemak dan minyak hewani/nabati yang turun sebesar US$213,95 juta (51,84 persen) dan golongan barang pupuk sebesar US$57,77 juta (93,28 persen). Pada Januari 2026, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan kontribusi 99,95 persen terhadap total ekspor nonmigas.
“Golongan barang yang memberikan andil terbesar terhadap total ekspor nonmigas adalah golongan barang bahan bakar mineral dengan kontribusi sebesar 78,82 persen,” pungkas Mas’ud.

China kurangi impor batubara
Dalam penjelasannya, mengutip berbagai informasi dari media internasional, Mas’ud juga mengabarkan bahwa, The China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD), Asosiasi Industri Batu Bara China, memperkirakan impor batu bara China akan menurun pada 2026, setelah munculnya rencana Indonesia akan membatasi produksi dan ekspor batu bara guna mendorong kenaikan harga.
Sebaliknya China diperkirakan meningkatkan impor minyak Rusia pada Januari 2026 sekitar 1,7 juta bpd (barel per day) atau naik sekitar 1,1 juta bpd. Harga minyak mentah global rata-rata mencapai $67 per barel pada Januari 2026, naik sekitar $4 per barel dari Desember 2025. Hal ini disebabkan adanya gangguan produksi dan tekanan geopolitik.
India menargetkan pengurangan impor batu bara untuk sektor pembangkit listrik hingga 30 persen sepanjang 2026. Pemerintah India mendorong penggunaan batu bara domestik yang lebih tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.
“Pada Januari 2026, India mengimpor pupuk majemuk (NPK dan NP) sekitar 195.000 ton, merupakan yang terendah selama tahun 2025–2026; turun hampir 16 persen dibandingkan bulan lalu. Penurunan ini disebabkan kenaikan produksi dalam negeri untuk NPK dan NP, meningkat menjadi 1,14 juta ton atau sekitar 2 persen dibandingkan Januari 2025,” ujarnya.
Filipina mencatat pertumbuhan impor pada Januari 2026 sebesar 0,7 persen (m-to-m), dari $11,17 miliar menjadi $11,25 miliar. Kenaikan utama terjadi pada bahan baku, bahan bakar, barang modal, dan barang konsumsi.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Ekspor Kaltim