Empat Hari di Bumi Etam, Wakapolda Kaltim Sowan ke Sultan Kutai

Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo didampingi sang istri bersama Sultan Ing Martadipura XXI, Aji Mohammad Arifin. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Langit pagi di Kedaton Kutai Ing Martadipura terasa teduh saat langkah Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Wakapolda Kaltim) Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo, menapaki pintu bersejarah itu.

Empat hari mengemban amanah baru di Bumi Mulawarman, ia sowan bersama sang istri serta jajaran pejabat utama Polda Kaltim, dengan penuh adab menemui langsung Sultan Ing Martadipura XXI, Aji Mohammad Arifin.

Sultan menyambut rombongan dengan sikap tenang dan sorot mata penuh kebapakan. Balutan busana batik hitam bermotif khas Kutai, diperkaya detail ornamen bernuansa keemasan serta penutup kepala kebesaran Kutai yang dikenakannya, menjadi penanda kewibawaan.

Busana tersebut sekaligus mencerminkan kearifan adat yang hidup dan terjaga di dalam Kedaton, sebagai simbol martabat seorang pemangku adat tertinggi di tanah Benua Etam.Di ruang sarat sejarah tersebut, pertemuan tak hanya berlangsung sebagai agenda resmi kelembagaan. Akan tetapi, sebagai temu batin antargenerasi yang disatukan oleh nilai adab.

Percakapan mengalir hangat, Wakapolda Kaltim dengan senyumnya itu menyampaikan maksud kedatangan sebagai orang baru yang hendak menimba nasihat dan pertuah Sultan, memohon doa restu, sekaligus meneguhkan niat menjaga keamanan dan ketenteraman Bumi Etam.

“Hari ini kita bersilaturahmi untuk jalin kekeluargaan agar kami diterima sebagai pejabat baru, saya Wakapolda, ada Dirintel, Dirlantas, Dirnarkoba. Kita kulo nuwun ke sini. Sebagai orang yang lebih muda dan orang baru, kita kulo nuwun ke sini, sekalian mau nyekar,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

Silaturahmi Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo bersama jajaran Polda Kaltim dengan Sultan Ing Martadipura XXI, Aji Mohammad Arifin, di Kedaton Kutai Ing Martadipura. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Sultan pun menanggapi dengan petuah bijak, menekankan pentingnya menjunjung adat dan istiadat, merawat keharmonisan, dan menjaga kondusivitas di tengah dinamika daerah yang kini menjadi pusat perhatian nasional dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pandangan itu disampaikan Pangeran Hario Notonegoro mewakili Kesultanan Kutai Ing Martadipura. Ia menilai kehadiran Wakapolda ini sebagai bentuk penghormatan yang tinggi terhadap adat dan tata krama Kesultanan Kutai.

Menurutnya, Brigjen Pol Adrianto datang bukan hanya sekadar sebagai pejabat negara, melainkan sebagai pribadi yang memahami etika, sowan kepada pemangku adat.

“Beliau baru menjabat Wakapolda dan datang bersilaturahmi kepada Ayahanda Sultan, sekaligus meminta petuah. Sebagai orang baru, beliau sowan. Itu menunjukkan adab yang luar biasa,” jelasnya.

Ia menegaskan, pihak Kesultanan pun selalu membuka pintu bagi siapa pun yang datang dengan niat baik dan etika yang dijunjung tinggi. Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan falsafah Kerajaan Kutai ‘Bhinneka Tunggal Suaka’, yakni berbeda-beda, namun tetap mengabdi kepada satu tujuan bersama.

Di Kaltim, Sultan diposisikan sebagai adat tertinggi yang menjadi rujukan moral dan kebudayaan. Karena itu, Pangeran Hario berharap agar silaturahmi ini menjadi awal kolaborasi yang baik antara institusi negara dan Kesultanan dalam menjaga stabilitas daerah.

“Ketika satu daerah kondusif, pembangunan bisa berjalan dengan baik. Investasi akan masuk, dan ujungnya adalah kesejahteraan rakyat,” tuturnya.

Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo bersalaman dengan Sultan Ing Martadipura XXI, Aji Mohammad Arifin, saat sowan ke Kedaton Kutai Ing Martadipura sebagai wujud silaturahmi dan penghormatan terhadap adat di Bumi Etam. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Adapun pesan Sultan yang disampaikan kepada Wakapolda Kaltim menitikberatkan pada pentingnya untuk menjaga kondusivitas dengan menjunjung kearifan lokal. Prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung pun kembali ditegaskan sebagai landasan dalam mengemban tugas di Benua Etam.

Terlebih, Kaltim kini memikul peran strategis nasional dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara. Sultan kata Pangeran, mendorong pendekatan pentahelix dalam menjaga keamanan serta keharmonisan, dengan merangkul tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemuda.

Kolaborasi lintas elemen itulah yang diyakini menjadi kunci agar Kaltim tetap dikenal sebagai tanah yang damai, tempat adat dihormati, negara hadir, dan masa depan dibangun bersama.

“IKN ada di sini. Sultan meminta Wakapolda menerapkan pendekatan pentahelix. Semua didekati, baik itu tokoh masyarakat, tokoh agama maupun juga tokoh pemuda. Kita bisa berkolaborasi untuk menjaga kondusivitas Kaltim,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: