Fenomena Global di Balik Sepinya Pasar Tangga Arung Square

Deretan kios di Pasar Tangga Arung Square, Tenggarong, tampak masih tertutup meski pasar ini resmi dibuka pada 5 Januari 2026. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Deretan pintu kios berwarna krem di Pasar Tangga Arung Square nampak tertutup rapat. Lampu-lampu plafon menyala terang, memantul di lantai keramik yang bersih dan mengkilap. Ironisnya, beberapa blok nyaris tak terdengar aktivitas jual-beli. Sunyi.

Padahal, pasar modern di Kelurahan Melayu Tenggarong ini terbilang masih sangat baru. Pasar ini resmi dibuka pada tanggal 5 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah menghadirkan pasar rakyat yang lebih tertata, bersih, dan representatif.

Namun sejak awal beroperasi, ratusan kios tampak belum terisi. Kondisi tersebut kerap memunculkan pertanyaan ‘mengapa pasar baru justru terlihat sepi, seperti tidak ada kehidupan.

Menjawab pertanyaan itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kutai Kartanegara (Kukar) Sayid Fathullah, mengatakan bahwa sepinya Pasar Tangga Arung Square ini disebabkan oleh fenomena global yang sudah bertahun-tahun dihadapi dunia perdagangan.

“Kalau saya bilang, ini fenomena. Bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Budaya beli masyarakat kita sudah berubah,” ujarnya saat ditemui di Ruang Kerjanya Kantor Disperindag Kukar, Kamis (29/1/2026).

Perubahan paling nyata, kata dia, adalah pergeseran pola belanja dari sistem offline ke online. Transformasi ini berlangsung sangat cepat dan masif, memukul bukan hanya pasar tradisional, tetapi juga pusat perbelanjaan modern.

“Yang biasanya offline sekarang jadi online. Ini bukan cuma berdampak ke pasar-pasar tradisional, mall-mall juga banyak yang tumbang,” katanya.

Plt Kepala Dinas Perindag Kukar Sayid Fathullah. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Ia kemudian berkisah tentang pengalamannya mengunjungi Pasar Tanah Abang di Jakarta, ikon perdagangan nasional yang selama puluhan tahun dikenal tak pernah sepi. Lima tahun lalu sebelum pandemi Covid-19 beber dia, kawasan tersebut masih dipadati pembeli hingga ke lantai paling atas.

“Dulu sampai lantai atas itu penuh, berdesak-desakan. Arus orang dan barang enggak pernah putus,” kenangnya.

Namun kondisi itu berubah drastis setelah pandemi. Saat kembali berkunjung setengah tahun lalu, Sayid mendapati pemandangan yang jauh berbeda dari lima tahun lalu ketika Pasar Tanah Abang masih di puncak kejayaan.

“Lantai lima ke atas sudah seperti gudang. Kosong. Orang-orangnya entah ke mana. Di bawahnya saja sudah kelihatan lemah, makin ke atas makin lemah,” bebernya.

Dia menilai, pandemi menjadi titik balik yang mempercepat migrasi konsumen ke platform digital. Terlebih di kalangan generasi muda generasi Z, belanja daring kini bukan sekadar pilihan, melainkan gaya hidup.

“Kebanyakan orang sudah beralih ke online, apalagi Gen Z. Sekarang belanja online itu sudah jadi semacam status. Kalau belanja di pasar tradisional malah diketawain,” tuturnya.

Kemudahan yang ditawarkan belanja online turut memperkuat perubahan itu. Makanan bisa tiba dalam kondisi yang masih hangat, minuman tetap dingin, pakaian langsung sampai ke rumah. Semuanya dipesan tanpa harus keluar rumah, melainkan hanya dengan satu genggaman saja.

“Mereka malas keluar rumah, mager,” katanya singkat.

Fenomena serupa, lanjut Sayid, juga ia temui di Samarinda, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Ia mengaku, memang kerap memantau langsung kondisi pasar dan pusat perbelanjaan di setiap daerah, bukan sekadar untuk rekreasi.

“Di Pasar Segiri Samarinda, lantai dua dulu itu penuh dengan konter HP dan pedagang jilbab. Sekarang yang buka cuma satu kafe. Dulu enggak pernah ada kafe di atas, sekarang justru itu yang hidup. Toko-tokonya tutup semua,” ungkapnya.

Kondisi itulah yang, menurut Sayid, turut dirasakan di Pasar Tangga Arung Square. Pasar baru yang diharapkan menjadi denyut ekonomi rakyat Tenggarong ini justru harus langsung berhadapan dengan perubahan zaman yang tak terelakkan.

“Nah, Tangga Arung Square yang kamu tanyakan tadi, pedagang kita juga terdampak oleh fenomena ini,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: