Film ‘Penyambung Lidah Rakyat’ Angkat Perjalanan Politik Rahmat Dermawan

Cuplikan video dari Film Penyambung Lidah Rakyat, dimana Rahmat Dermawan mendapat pelukan hangat dari seorang ibu-ibu di daerah pemilihannya, menjadi bukti kedekatan antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SANGASANGA.NIAGA.ASIA – Film dokumenter berjudul ‘Penyambung Lidah Rakyat’ menjadi cara Rahmat Dermawan, yakni Anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) daerah pemilihan (dapil) Sangasanga, Muara Jawa, dan Samboja, merekam perjalanan politiknya selama satu tahun menjabat.

Berbagai aktivitasnya sebagai wakil rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan pun ditampilkan dalam film ini. Mulai dari menyerap aspirasi warga, melakukan advokasi atas persoalan di lapangan, hingga mengawal program-program pemerintah agar tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pesisir.

Film ini disusun dari dokumentasi kegiatan yang dikumpulkan selama satu tahun terakhir. Seluruh adegan yang ditampilkan merupakan kejadian nyata tanpa skenario, sehingga menggambarkan langsung dinamika kerja-kerja politik Rahmat Dermawan di tengah masyarakat.

Pemutaran perdana dilakukan melalui acara nonton bareng yang digelar selama dua hari, yakni 28 Maret 2026 di Sangasanga, tepatnya di Aula Green House 99. Sementara 29 Maret 2026 di Muara Jawa, yakni di BPU Kecamatan jalan Ir. Soekarno.

Di dua lokasi ini, antusias masyarakat terlihat tinggi. Secara keseluruhan, jumlah warga yang hadir diperkirakan mencapai kurang lebih seribu orang, baik di Sangasanga maupun Muara Jawa.

Mereka duduk lesehan beralaskan tikar dan menyaksikan jalannya film dengan sangat tertib. Suasana beberapa kali berubah, hening saat adegan berjalan, lalu pecah oleh tepuk tangan, bahkan tangis haru ketika potongan peristiwa yang mereka kenali muncul di layar.

Warga sangat antusias menyaksikan film Penyambung Lidah Rakyat di Aula Green House 99 Sangasanga, Sabtu (28/3/2026). (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Rahmat menyebut, respons masyarakat ini di luar perkiraannya. Menurut dia, kedekatan cerita dengan kehidupan warga pun menjadi alasan kuat tingginya keterlibatan penonton selama pemutaran berlangsung.

“Karena ini memang kejadian nyata kan, dan masyarakat juga ada di dalamnya, jadi mereka merasa dekat dengan cerita ini,” ujarnya.

Judul ‘Penyambung Lidah Rakyat’ bukan hal baru bagi Rahmat. Itu merupakan tagline yang ia gunakan saat kampanye, yang kemudian melekat di tengah masyarakat. Ia mengaku, istilah ini terinspirasi dari buku ‘Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang mengisahkan pemikiran Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno.

Tak hanya dari buku, Rahmat juga menyebut sosok Muhammad Samsun sebagai mentor yang memperkenalkannya pada gagasan itu. Dari sosok Ini pula, ia mendapatkan buku yang kemudian dibaca berulang-ulang kali hingga mengubah cara pandangnya terhadap politik.

“Dari situ saya belajar bahwa politik itu adalah bagaimana kita bisa menjadi penyambung aspirasi masyarakat. Tentu harapannya agar menjadi motivasi dari seorang pemuda pesisir untuk pemuda lainnya,” katanya.

Meski sekarang Rahmat seorang legislator, ia menegaskan bahwa sebenarnya dirinya bukan berasal dari latar belakang elite politik. Tetapi, lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Sang ibu seorang pedagang, sementara ayahnya adalah petani.

“Orang tua saya bukan politisi, bukan pejabat. Saya lahir dari rahim masyarakat pada umumnya,” jelasnya.

Rahmat Dermawan bersama warga di BPU Muara Jawa, Minggu (29/3/2026). (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Latar belakang itulah yang membentuk cara pandang dan keberpihakan Rahmat terhadap isu-isu masyarakat. Ia mengaku kerap menjadi tempat menyalurkan aspirasi warga, hingga julukan ‘penyambung lidah rakyat’ datang secara alami dari masyarakat sendiri.

Lebih dari sekadar refleksi pribadi selama 1 tahun, film ini juga membawa misi edukasi politik. Rahmat ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa politik tidak selalu identik dengan hal negatif.

Menurutnya, politik adalah instrumen penting dalam menentukan arah kebijakan yang akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

“Baik buruknya kebijakan hari ini adalah hasil dari pilihan politik kita. Harapan saya, ini bisa memberikan refleksi bagi kita semua. Tidak bisa kita memutuskan politik itu sepihak, baik karena euforia, karena finansial atau karena pragmatisme, enggak bisa,” terangnya.

Ia pun mengibaratkan politik seperti pisau, yang manfaat atau dampaknya tergantung pada siapa yang menggunakannya. Melalui film ini, ia berharap masyarakat dapat melihat politik dari sudut pandang berbeda, sekaligus lebih bijak dalam menggunakan hak politiknya.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi pengingat, baik bagi saya maupun masyarakat, tentang pentingnya menggunakan hak politik dengan baik dan benar,” tutupnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: