Gaya Kepemimpinan Efektif Cocok Diterapkan di Era Kini, Faisal: Tempatkanlah Anggota di Bidang yang Tepat!

Kepala Dinas Kominfo Kaltim, Muhammad Faisal, saat menjelaskan pentingnya mengidentifikasi bidang keahlian anggota sebagai kunci gaya kepemimpinan efektif di era kini. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Suasana diskusi bertema Style of Leadership di Lantai II Ruang Jambore Gedung Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Timur (Kaltim), Jalan Muhammad Yamin Samarinda, berlangsung hangat pada Kamis (28/8).

Sesi tanya jawab antara peserta kontingen dan Kepala Dinas Kominfo Kaltim Muhammad Faisal sebagai narasumber dalam kegiatan ini menghadirkan beragam pandangan seputar gaya kepemimpinan yang relevan untuk generasi muda Pramuka.

Salah satu pertanyaan menarik datang dari Adam Sofyan, perwakilan kontingen Kwarcab Paser. Ia menyinggung tentang pengalaman menghadapi kakak tingkat/senior yang hanya memberi perintah tanpa arahan jelas.

“Saya ingin bertanya tentang kepemimpinan delegatif. Ada kakak yang hanya menyuruh-nyuruh, dia beralasan agar kita bisa belajar mandiri. Ayo, ayo, ayo, kalian sudah berdaya, kalian bisa mandiri. Padahal terus-menerus begitu, menyuruh kita. Itu bagaimana cara untuk menanggapinya,” tanya Adam.

Pertanyaan berikutnya disampaikan Alisha, perwakilan Kwarcab dari Kabupaten Kutai Timur. Ia lebih menyoroti efektivitas gaya kepemimpinan di era sekarang.

“Kan dari tadi banyak gaya kepemimpinan, ada delapan gaya kepemimpinan yang telah disampaikan, yaitu; otokratis; demokratis; free-rein leadership; transformasional; situasional; karismatik; transaksional; dan delegatif. Jadi, gaya kepemimpinan yang mana paling efektif untuk kita yang sedang belajar jadi pemimpin,” ujarnya.

Menanggapi itu, narasumber Muhammad Faisal, yang juga Wakil Ketua Bidang Humas dan Informatika Kwarda Kaltim, menjelaskan pentingnya memahami konteks sebelum menilai gaya kepemimpinan seseorang.

Menurut Faisal, tidak semua pemimpin yang sering memberi perintah berarti buruk. Bisa jadi itu hanya bagian dari cara mendidik. Namun, jika perintah yang diberikan terus-menerus tanpa arah jelas, patut dipertanyakan.

“Kalau memang pola dari A sampai Z selalu begitu, itu sudah jadi watak dan karakter dia. Nah, kalau pemimpin seperti itu, kita perlu centering dengan bertanya. Pura-pura bodoh saja, biar dia keluarkan petunjuk atau kisi-kisi. Kalau dia bisa menjelaskan, berarti tujuannya baik. Tapi kalau tidak, mungkin memang dia hanya sekadar menyuruh,” jelas Faisal.

Soal pertanyaan Alisha, Faisal menekankan bahwa gaya kepemimpinan paling tepat saat ini adalah gaya efektif, yakni menyesuaikan antara kemampuan anggota dengan tugas yang dihadapi. Gaya ini tidak otoriter, tidak juga demokratis dan transaksional.

“Kuncinya melakukan identifikasi anggota terlebih dulu. Kalau kemampuan anggota terbatas, kita gunakan gaya kepemimpinan lain. Kalau kuat, kita bisa delegasikan. Intinya orientasi pada tugas dan kerja sama. Saya saja mengurus banyak organisasi, mungkin ada sekitar 10. Tapi itu bisa berjalan karena sudah mengidentifikasi siapa anggota yang ahli di bidang tertentu,” terangnya.

Faisal menambahkan, efektivitas lebih penting ketimbang sekadar efisiensi, mengingat tidak semua organisasi memiliki sumber daya atau dana yang cukup. Yang terpenting adalah kesepakatan bersama untuk menuntaskan tugas dengan baik.

Menutup sesi diskusi, Faisal menyampaikan pesan yang penuh inspiratif kepada seluruh peserta Pramuka se-Kabupaten/Kota di Kaltim agar berani bercita-cita tinggi, sesuai dengan jargan yang selalu dikatakan Gubernur Rudy Mas’ud.

“Bermimpilah jadi pemimpin. Bercita-citalah setinggi langit. Kalau pun jatuh, jatuhnya masih di antara bintang-bintang, bukan ke tanah. Jadi jangan pernah takut bermimpi,” pesannya disambut tepuk tangan peserta.

Dengan diskusi interaktif tersebut, peserta dari berbagai kontingen Kwartir Cabang se-Kaltim mendapat pemahaman baru bahwa kepemimpinan tidak tunggal. Setiap gaya memiliki konteks, dan pemimpin sejati harus bisa menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar tetap efektif dalam mencapai tujuan bersama.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: