Rumah potong ayam di Pasar Segiri. (Foto Niaga.Asia)

SAMARINDA, NIAGA.ASIA-Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSSSKM) Samarinda menyabut baik rencana Pemerintah Kota Samarinda menutup rumah potong ayam di Pasar Segiri sebab, limbah ayam potong di rumah potong ayam tersebut selama ini dibuang langsung ke Sungai Karang Mumus.

“Kita menyambut baik rencana tersebut, mudah-mudahan cepat direalisir sebab, kita sudah sejak awal tahun 2016 menyuarakannya,” kata Ketua GMSSSKM Samarinda, Misman ketika diminta tanggapannya, kemarin. Rumah potong ayam di Pasar Segiri berada di atas Sungai Karang Mumus (SKM)

Seperti dinyatakan Wakil Wali Kota Samarinda, H Nusyirwan Ismail, Rabu (24/01), penutupan rumah potong ayam di pasar tradisional, termasuk Pasar Segiri menjadi pokok bahasan dan kesimpulan dalam Rapat Triwulan IV Evaluasi Izin Usaha Mikro (IUM) di Kota Samarinda di Balaikota Samarinda.

“Peran Rumah Potong Unggas (RPU) yang ada di Tanah Merah, jalan poros Samarinda -Bontang Kilometer 23 arah Kota Samarinda akan dimaksimalkan. Caranya, pemotongan unggas khususnya ayam di pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Samarinda akan segera dihentikan,” kata Nusyirwan

Menurutnya, seluruh ayam tidak boleh lagi dipotong di pasar. Terutama di Pasar Segiri dan Pasar Pagi. Nusyirwan juga menjamin bahwa pemotong-pemotong unggas yang sebelumnya bertugas di pasar-pasar tradisional tersebut tak akan kehilangan pekerjaan.

Nantinya, para pemotong di pasar tradisional ini akan dibina menjadi kelompok pemotong unggas atau kelompok usaha, untuk selanjutnya akan ditempatkan di RPU yang sudah disiapkan Pemkot Samarinda. “Jadi mereka tidak akan kehilangan pekerjaan. Jadi di pasar, berhenti semua. Jadi pasar itu nanti bersih, kering,” ujar Nusyirwan.

Ketua GMSSSKM, Misman menjelaskan, limbah pasar basah dan rumah potong ayam di Pasar Segiri menjadi sumber pencemaran SKM (Sungai Karang Mumus) karena langsung dibuang ke sungai. Pasar Segiri tidak mempunyai IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) dari pasar basah. Pasar Segiri  juga tidak mempunyai instalasi untuk menyimpan sementara limbah ayam potong, seperti bulu dan isi perut ayam.

Dijelaskan, jumlah tempat pemotongan ayam di Pasar Segiri cukup banyak, belasan, bahkan ada yang menyebut ada 20 tempat. Kalau satu tempat per hari memotong ayam rata-rata 100 ekor, maka ada 2000 ayam dipotong per hari. “Kami menghitung ada sekitar 200 kilogram per hari limbah ayam potong dibuang ke sungai,” ungkap Misman.

Fakta yang bisa dilihat di sungai setiap relawan memungut sampah di Karang Mumus, memang masih ditemukan limbah ayam potong dibuang ke sungai, ada yang dibuang dalam karung plastik, ada juga langsung dibuang begitu saja. “Masih ditemukan ayam mati serta bulu ayam di sungai. Kita menduga kuat berasal dari Pasar Segiri,” katanya.

Menurut Misman, penutupan rumah potong ayam di Pasar Segiri akan mengurangi beban sungai dari limbah dan mengurangi polusi udara dari sungai. Polusi udara (bau busuk) dari sungai berasal dari limbah yang tertimbun atau lengket di badan sungai saat air surut. “Sepanjang Karang Mumus mengeluarkan bau tidak sedap, itu artinya ada pencemaran. Rumusan begitu,” tegas Misman.

Bagian dari sungai Karang Mumus yang mengeluarkan bau tidak tersedap, mulai dari Pasar Segiri hingga ke Jembatan Baru. Di bagian lain sungai, seperti dari ulu sungai hingga Pasar Segiri, atau dari Jembatan Baru hingga ke Jembatan I (Selili) tidak berbau busuk. “Dari itu kita berkeyakinan, sumber bau itu dari limbah ayam potong dan limbah pasar basah Pasar Segiri,” kata Misman. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *